
"Kalau boleh tahu siapa tuanmu yang mengubahmu menjadi manusia?" Tanya xiang masih menatap ukiran baru ditanganya.
"Tuanku dulu.."
Ucapan liang li terpotong oleh suara derapan tapak kaki yang membuat keduanya lebih memilih diam dan memasang sikap waspada.
"Sebenarnya ada apa?" Batin xiang memincing segala arah.
Tak disangka puluhan monster yang terbentuk dari mana gelap kembali muncul. Tapi kali ini bukan berasal dari para penguhi hutan namun sepertinya benar-benar kiriman dari kerajaan kegelapan.
"Shitt.. " xiang mengumpat dalam hati seakan tahu seberapa menguras tenaganya jikalau ia harus melawan mereka semua.
"Tuan sepertinya mereka telah mengetahui kebebasan saya dan hutan timur, maka dari itu mereka tak ingin bermain-main lagi untuk menghabisi kita semua"
"Kau benar, sebaiknya kau pulihkan dulu energi mana mu. Aku akan menahannya, dan ingat ini perintah!!" Tak berlangsung lama xiang meninggalkan liang li sendirian. Ia mencoba memancing monster itu menjauh dari jangkauan liang li.
Dengan lincah xiang menyelip diantara mereka seraya mengalirkan mana cahaya. Membuat sebagian mereka mengerang seperti terkena luka bakar.
"Hei monster jelek, sini lawan aku! Bukankah tuan mu meminta kalian membunuhku"
Tanpa banyak bicara monster itu bergerak maju membuat berbagai senjata dari mana gelapnya.
Xiang pun terpanjat kaget melihat salah satu monster itu mengombinasikan kekuatanya dengan mana yang belum lama ia keluarkan.
"Kau tidak bisa menyombongkan dirimu lagi, bagaimana pun ini wilayah kekuasaan kami" sinisnya memukul telak xiang yang masih belum siap menerima serangan.
Buakkkk..
Tubuhnya terpental memutahkan darah.
"Sial, aku tak tahu ini wilayahnya. Ckk.. bagaimama ini, bahkan tempat ini sudah mengalirkan darahku. Berarti mudah bagi mereka memanfaatkan mana yang ada didalam tubuhku"
"Oh tuhan, bantu aku.."
"Bagaimana gadis kecil? Apa semua kesombonganmu tadi telah lenyap begitu saja hmm..?"
"Ckk.. aku tidak sombong!!" Pekik xiang mengalirkan sentakkan es membuat monster itu bergerak mundur dari langkah awalnya.
Ia bangkit mencoba mengeluarkan pedang yang di dapatkan saat pertama kali bertemu dengan drago. "Aku tidak boleh kalah dari mereka, lagi pula aku harus segera kembali ke kaisaran" batinnya mencoba menyerang balik lawan.
Syatttt...
__ADS_1
Syattttt....
Arrgghhh...
Goresan demi goresan menggores para monster hingga menjerit kesakitan. Gerakan lincah Xiang yang berputar, meloncat, terbang dan mengayunkan pedangnya kearah lawan membuatnya sedikit merasa lebih lega. Karena puluhan monster itu kini mulai berkurang.
Tapi semua memiliki konsekuensi, mengunakan pedang naga membuatnya lemas. Energi didalam tubuhnya sangat cepat sekali terkuras sepadan dengan kekuatan yang dihasilkan pedang naga setiap sabetannya. Apalagi harus ada mana berelemen api yang harus ia alirkan.
Hos.. hosss...
Napasnya kini tersengal sengal, baru saja ia menyabatkan pedangnya mengores area leher monster hitam berbentuk babi hutan.
Dan sialnya sekawanan monster yang memiliki bentuk yang sama terlihat begitu marah dan berlari maju menyerang balik xiang yang kian melemah.
"Kau telah membunuh saudara kami sialan!!" Teriak mereka berusaha menyeruduk xiang sekuat tenaga.
Xiang sekuat tenaga menyentakkan pedang naga guna membuat perisai, sayangnya sebelum perisai tersebut terbentuk sempurna. Salah satu dari mereka berhasil menerobos perisai itu hingga membuatnya berhamburkan kemana-mana meninggalkan sisa api.
Buak...
Arghhh.....
Lagi lagi tubuh xiang terpelanting kebelakang, akibatnya muncul luka baru akibat gesekan antara kulit dan permukaan kasar dari tekstur kayu.
Tapi beberapa monster mencoba mendekat kearahnya lalu berusaha merusak perisai biru yang terbentuk dari untaian pohon ek dengan daun hijau bergradasi biru yang memantulkan kembali serangan yang dilancarkan.
"Sekarang saatnya kau yang mati gadis sialan" sarkas monster babi hutan menginjakkan kakinya diatas perut xiang dan membuat xiang meringis kesakitan.
"Babi Sialan, cepat angkat kakimu dari perutku arggh.." rintih xiang semakin menjadi-jadi kala monster itu menambah tekanan dan mengerakan kakinya seakan memutar-mutar.
"Arghhh..."
Crass...
Tusukan dari belati yang dibuat diam-diam dari mana cahaya mengalihkan perhatian monster babi itu, membuat celah yang memudahkan xiang menghindar dari injakan kuatnya.
"Berani-beraninya kau GADIS SIALAN!!" Teriaknya mengetarkan tekanan disekitar. Xiang hanya terdiam mengusap pelan bibirnya yang baru saya memutahkan darah, bahkan darah itu membasahi hanfu hitam yang ia pakai.
"Tuan, makanlah buah ek biru untuk memulihkan luka tuan. Dan segeralah pergi dari sini!!" Pinta liang li memindlik dalam batin xiang. Membuatnya menoleh menatap sosok yang masih tenang dalam meditasinya.
"Maaf aku tak bisa meninggalkanmu sendirian," balas xiang seraya mengambil buah ek biru yang ia simpan di dalam ruang dimensinya.
__ADS_1
Ia melahap buah itu perlahan, rasa pahit yang begitu menyengat membuatnya ingin memutahkannya kembali.
Huekk..
"Anda harus menelannya tuan"
"Cihhh... kukira memiki rasa enak layaknya buah apel" batin xiang menggerutu walau begitu ia tetap berusaha keras menelan rasa pahit yang sangat ia benci.
Dan ajaibnya luka yang ia dapatkan menghilang secara bertahap. Melihat itu xiang tersenyum senang ia tak lagi harus menahan rasa perih dari luka area punggungnya bahkan luka yang baru saja ia dapatkan dari injakan monster babi jelek itu.
Xiang pun kembali bangkit menangkat tinggi pedang naga, dan kali ini ia mengunakan mana api yang ia selubungi dengan mana cahaya. Perlahan tapi pasti dia berlari mendekati lawannya dan menyabetkan kembali pedangnya.
"Aku tak akan kalah dari monster jelek seperti kalian" pekik xiang menyeringai diikuti percikan darah hitam yang memuncrat dan berceceran dimana-mana.
Srettt...
Akkhhh..
Monster itu terpotong-potong menjadi bagian-bagian kecil dengan luka lelehan akibat tebasan pedang naga.
Hossshh...
Hosh..
Akhirnya monster itu habis terbunuh kemudian memunculkan asap berkebul hitam berterbaran dimana-mana.
"Apakah meditasimu masih lama" tanya xiang mendekati liang li yang masih terdiam diposisinya.
"Sepertinya begitu tuan"
"Ckk.. aku harus kembali ke kaisaran, kau tahu ada pertandingan yang harus aku hadiri."
Suara helaan napas terdengar jelas dimindlik xiang xi.
"Apa?!"
"Bukankah aku sudah bilang tuan, anda tidak perlu mengkhawatirkanku. Aku akan menyusul setelah meditasiku selesai"
"Baiklah, aku tak bisa memaksamu dan menghentikan meditasimu. Aku tunggu kedatanganmu, aku pamit terlebih dahulu." Xiang segera membuka portal untuk kembali ke kaisaran. Setelah portal hitam itu terbentuk sempurna ia segera memasukinya dan menghilang dalam sekejap.
"Sebaiknya tuan tidak lupa untuk bermeditasi juga, agar energi mana anda kembali putih" mindlik liang li tersenyum dalam meditasinya.
__ADS_1
.......
\=> bersambung <\=