
Reichel rupanya rupanya sudah bangun terlebih dahulu dan mandi. Abigail bangun dan melihat Reichel sudah tidak di tempatnya lagi ia mencari di semua sudut ruangan kali aja ia seperti semalam duduk bersembunyi di kamar super gelapnya itu, Abigail terlihat sangat tidak tenang. bahkan udara pagi yang segar seharusnya masuk kedalam kamar ini tapi di kamar yang begitu besar ini jangan kan udara sinar matahari saja tidak bisa lolos untuk masuk kedalam kamar itu. Abigail bangkit dari tempat tidur nya merapikan tempat tidur itu dan mengembalikan banta yang di gunakan Reichel ke tempat tidur. ia membuka gorden kamar itu melihat keluar jendela betapa luasnya rumah itu. ia melihat taman bahkan tempat bersantai di lanta bawa yang begitu nyaman dan juga udara yang masuk kedalam membuat pikiran Abigail sedikit tenang, Abigail membuka jendela kamar mendapati beberapa karyawan di bawah sama yang menatapnya seperti sedang dalam masalah besar. Abigail menatap mereka dengan penuh pertanyaan.
setelah itu ia menyiapkan baju kerja Reichel, ia sengaja memilih pakaian yang berwarna menurutnya ia akan terlihat lebih ganteng jika memakai pakaian yang berwarna.
"Ok hari ini kita mulai, ngak peduli bagaimana awalnya kita ketemu atau kita menikah yang pasti saya istri kamu, saya juga tidak peduli penolakan mu intinya kamu harus berubah" Abigail terus bergumam, ia sudah sangat paham jika tuan kakunya itu pasti tidak mau menggunakan pakaian itu.
"Anggap saja ini bakti saya kepada anda tuan, saya tidak akan mengecewakan Ibumu yang sudah mempercayakan mu padaku, ya meskipun sebenarnya saya juga tidak mau melakukan ini semua tapi😑😑...ah ya sudah lah jalani saja" sambungnya. setelah selesai dengan segalah urusanya di kamar ia turun ke dapur memanggil beberapa karyawan nya. ia menyiapkan sarapan pagi untuk Reichel.
Reichel turun dari tangga dengan wajah kakunya seperti biasa. sifat kaku nya ini sudah mendarah daging dalam dirinya.
"Apa yang kamu lakukan? kenapa semua baju saya tidak ada di lemari?" tanya Reichel pada pelayanan nya yang bertugas untuk mengurus bajunya.
"Saya yang melakukan semuanya, jangan marahi mereka. lagian baju segitu banyak di lemari cuma jadi pajangan gitu? yang di pake cuma baju yang sama terus, ya meskipun tuan membeli berlusin-lusin tapi itu tetap baju yang sama model dan warnanya juga sama hitam putih dan abu-abu doang. gak ada kehidupan banget si" Abigail menjawab pertanyaan Reichel dan menyiapkan sarapan Reichel di meja makan.
"Sarapan saya mana bi?" tanya Reichel
Abigail memberikan dua potong sandwich di piringnya dan menyiapkan kopinya.
"Bi mana sarapan saya, saya tidak mau makan sandwich hari ini" ucap Reichel lagi
"Saya tidak mau makan ini, apa kalian mau saya pecat semua? saya pemilik rumah ini dan saya membayar kalian untuk kerja bukan untuk tinggal santai seperti ini. dan lagi kamu!! saya tidak menyuruh kamu untuk membuatkan saya makanan apa kamu paham? lagian saya juga tidak tau apa ini aman untuk saya" ucap Reichel dengan membentak Abigail
"Saya masih bisa memaklumi kalau baju dan rumah ini kamu mau ubah itu terserah. satuhal yang harus kamu tau makanan saya jangan pernah coba kamu sentuh saya tidak percaya orang asing saya tidak ingin mengambil resiko besar" lanjutnya
Abigail merasah direndahkan, sama halnya ia di tuduh akan meracuni Reichel dengan membuat makanan itu. entah kenapa Abigail merasa sangat sakit saat Reichel mencurigai dirinya seperti ada sesuatu dalam dirinya yang tidak menerimah tuduhan itu.
"Apa tuan berfikir saya akan meracuni tuan dengan makanan ini? kenapa bisa beranggapan saya akan mencelakai kamu? baiklah jika kamu bilang ini ada racun nya saya akan makan semuanya ini biar kamu percaya" ucap Abigail dengan menahan tangisnya tidak tau apa yang membuatnya merasah sedih. ia mengambil semua makanan yang ia buat dan memakan semuanya ia memasukan dua sandwich kedalam mulutnya sehingga ia kesulitan untuk mengunya dan bernafas semua orang kaget dengan perbuatan Abigail ini membahayakan nyawa sendiri demi membuktikan bahwa makanan ini tidak beracun. Reichel yang tidak peduli dengan apa yang dilakukan Abigail memilih untuk pergi.
__ADS_1
"Apa yang nona lakukan, ini berbahaya nona ayok keluarkan makanannya" pinta pelayan itu padanya dengan cemas.
Abigail terus memakan makanan itu hingga habis matanya bulat sempurna tidak bisa mengunya dan bernafas air matanya terus mengalir. semua orang disana kawatir padanya
"Nona jangan lakukan ini ayok muntahkan makanannya, jangan menyiksa diri seperti ini nona" pelayan1 berteriak membuat Reichel berbalik menatap Abigail yang tidak bergerak di tempat duduk nya
"Dasar bodoh" Reichel mengumpat dan berlari kearah Abigail mengambil segelas air dan memberikan pada Abigail. Abigail meminumnya sampai sisa makanan dalam mulutnya tertelan sempurna.
"Apa kamu ingin mati ha? kalau mau mati diluar sana jangan dirumah ku. benar-benar keras kepala" Reichel terus memarahinya dengan wajah panik yang terlihat membuat Abigail dan yang lain tersenyum
"Saya lagi tidak ingin sarapan sandwich hari ini lantas kau berpikir saya mencurigai kamu memberi racun di makanan itu? Abigail kenapa kamu ini terus membuat saya......." Reichel pergi dari sana meninggalkan mereka dengan rasa marah. Abigail melihat punggung tegap dari Reichel begitu Koko lalu tersenyum.
"(Maaf tuan sudah membuatmu kawatir, tapi ini cara ku supaya kamu bisa melupakan dia yang memberikan luka begitu dalam pada dirimu. saya tidak terlalu peduli apa tujuan saya menikahimu tapi setelah membaca surat itu membuat saya sakit tuan, entah kenapa rasanya sakit melihat kau begitu terluka saat itu. tidak bisa membayangkan betapa terlukanya dirimu saat orang yang begitu penting dalam hidup bisa menghianatimu dengan begitu buruknya. jika suatu saat aku bertemu denganya biar ku beri pelajaran dia agar bisa menghargai dan menghormati seuatu hubungan dan komitmen)" batin Abigail
"Bi, saya tidak apa-apa, kalian kembali bekerja saja" pinta Abigail
"Tuan benar-benar kawatir sama nona, dia bahkan tidak pernah sekawatir tadi dengan siapapun selain....."
Ia kembali ke kamarnya untuk membersikan dirinya beberapa menit berlalu ia selesai dengan ritual mandinya dan mengumpulkan beberapa pelayan di rumahnya.
"Aku ingin menambah beberapa pernak pernik dalam rumah ini bagaimana menurut kalian?" tanya Abigail
mereka semua tidak menjawab terlihat dari waja mereka yang ketakutan.
"Apa nona ingin kami di pecat juga hari ini? tolong jangan lakukan itu nona. nyonya besar pun tidak berani merubah apapun dalam rumah ini meskipun tuan mudah bisa mengiakan semua permintaan nya" ucap pelayan yg lain
"Apa kalian ingin rumah ini terlihat seperti rumah vampir yang hanya menyukai kegelapan dan warna hitam? kata orang-orang ya kalau rumah itu berdominan warna hitam nanti banyak setan yang menjadi penunggunya lo emang kalian mau nanti pas kerja terus ada yang bisikin begini masa mau ngak saya bantuin? mau gak?" Abigail sengaja menakuti mereka.
__ADS_1
mereka semua merinding ketakutan.
"Nona jangan bikin kita takut dong" jawab yang lain
"Makanya ayok bantuin saya, ini tidak banyak kok cuma sedikit saja yang di tambahin" pinta Abigail
mereka melakukan pekerjaan itu dengan bersama setelah melihat hasil akhirnya mereka semua terpukau. seakan tidak percaya dengan semua itu.
"Bagaimana bagus kan?" tanya Abigail
"wow benar-benar keren nona, rumah ini jadi seperti dulu lagi pas awal saya masuk disini berwarna" bibi terharu melihat perubahan rumah ini.
Semua terheran melihat perubahan rumah itu. tidak menghilangkan warna yang menjadi warna favorit dari Reichel. suasana rumah itu menjadi terang dan bercahaya.
Halo guys
-Happy reading ya- ☘️☘️
jangan lupa
like nya
komen
dan juga favorit kan ya
__ADS_1
kalau ada Hadiah boleh dikok dikasih😇
luph💜💜💜