Reichel & Abigail

Reichel & Abigail
Operasi


__ADS_3

Beberapa Dokter dan perawat mendorong Abigail memasuki ruangan. Reichel menunggu di luar ruangan dengan tubuh masih terluka parah Ia tidak akan meninggalkan Abigail sendirian melewati semuanya. Matthew datang bersama Anna mendekati Reichel.


"Biarkan Anna yang menjaga dulu, kau juga harus merawat luka-luka ini" ucap Matthew


"Tidak, gue harus nungguin Dia" kata Reichel


"Obatin dulu luka mu, biar Abigail aku yang nungguin" pinta Anna


Matthew membawah Reichel untuk mengobati luka-lukanya sekalian denga Menganti bajunya. bekas memar di wajah nya dan juga luka robek kecil di kepalanya membuat ia sedikit meringis menahan rasa sakitnya.


***


Ibu Abigail dan Mama Reichel datang kerumah sakit melihat Anna sendirian menunggu Abigail.


"Nak, bagaimana keadaan Abigail?" tanya Ibunya


"Sedang ditangani Dokter Bu, dia tertembak dan pelurunya masih didalam" jelas Anna


Ibu Eli dan Mama Shinta kaget mendengar nya.


"Kenapa bisa seperti ini? memangnya apa yang terjadi?" tanya Ibu Eli


Anna menceritakan semua nya kepada mereka. Ibu Eli menangis dengan tersedu-sedu.


"Dia selalu seperti ini, untuk orang-orang yang ia sayangi dia bahkan bisa memberikan nyawanya Anaku yang malang" liri Ibu Eli


"Sabar Ibu, kita berdoa saja supaya dokter bisa menyelamatkannya" ucap mama Sinta


Reichel terlihat jalan dengan sedikit pincang di lorong rumah sakit. kepalanya di perban ia jalan dengan Matthew dari sana. Ibu Eli yang menatapnya dan berlari kearah nya menarik kera bajunya.


"Kau !!!! gara-gara kau putriku seperti ini. apa salah dia padamu? kenapa kau selalu memberikan dia cobaan seperti ini? pertama kau memaksa dia menikahimu sekarang kau pun membuat dia mengorbankan hidupnya demi menyelamatkan dirimu. kau berjanji bukan padaku untuk menjaganya mana janjimu? kau bahkan tidak bisa melindunginya dari orang-orang yang kejam padanya. kau sangat tidak berguna" ibu Eli menumpahkan semua amarahnya pada Reichel ia memukuli dadanya dan lenganya membuat luka-luka didalam tubuhnya sakit. ia menahan rasa sakit yang ditimbulkan akibat pukulan ibu Eli itu padanya.


"Maafkan Reichel ibu, Reichel sudah membuat ibu menangis pukul saja Reichel. Reichel sudah melanggar janji Reichel pada ibu untuk menjaganya dengan baik. tolong maafkan Rei ibu" Reichel berlutut dihadapan Ibu Eli


Kirana dan Rachel yang menatapnya dengan heran. seorang Reichel Adiwigoena berlutut di depan seorang Ibu yang bahkan dia tidak mencintai anaknya sendikitpun


Ibunya menatap anaknya yang begitu tersakiti.


"(Tuhan tolong anakku, Aku tidak pernah melihat dia sebegitu hancurnya pada hari ini bahkan dia yang tidak pernah berlutut dengan siapapun sekarang dia berlutut pada Ibu mertuanya. kumohon tolonglah dia)" batin Mama Shinta


Rachel yang menatap Reichel begitu menyedihkan. ia heran apa mungkin dia tidak mencintai Abigail, jika ia seharusnya ia tidak seperti ini.


"Apa ini Reichel, apa kau mencintainya?" gumam Rachel


Dokter keluar dari ruangannya. Reichel segera menghampiri Dokter itu.


"Bagaimana Dok keadaan istri saya?" tanya Reichel


"Beruntung Tuan segera membawa Nona Abigail kesini, jika tidak kami tidak tau bagaimana selanjutnya. kami sudah mengeluarkan peluruh nya dan ini pelurunya. dia belum sadarkan diri. ia mengeluarkan terlalu banyak dara jadi kondisinya kita hanya bisa tunggu beberapa jam lagi." ucap Dokter nya


Matthew mengambil peluruh itu dari dokternya dan menyimpannya.

__ADS_1


Reichel masuk kedalam ruangan Abigail dengan jalan pincang ia mendekati Abigail yang tertidur dengan wajah yang pucat. bibirnya tertutup rapat tidak ada kemerahan disana sangat pucat. Reichel merai lh tanganya dan mengengam nya erat.


"Cepatlah lah sadar, aku ingin dengar semua ocehan mu lagi di kamar" ucap Reichel


"Apa kau tau, aku sudah terbiasa dengan suara kenalpot racing mu itu bahkan jika aku sendirian tidak da kau itu sangat sepi. jadi ku perintah kan kau untuk bukan matamu ayok Abigail buka matamu" ucap Reichel yang membuat Mamanya kasihan padanya


"Sayang, sabar Abigail pasti akan sembuh bagaimana dia bisa meninggalkan Tuan nya yang kaku dan angkuh ini sendirian, dia tidak akan pergi meninggalkan Taun yang pemarahnya ini" ucap Mamanya mencoba menghibur nya


"Ma, tapi dia belum membuka matanya Ma. Dia harusnya berdebat dengan ku untuk bertaya tentang semuanya Ma bagaimana ini?" lirih Reichel


Rachel menarik tangan Reichel keluar dari kamar Abigail. ia membawah Reichel ke luar ruangan.


"Apa apaan ini Reichel, kenapa kamu seperti ini? mana Reichel yang dulu kenapa sekarang dia begitu lemah dan bodoh hanya karena wanita yang tidak dia cintai itu sekarat" Rachel emosi dengan Reichel yang saat ini begitu terluka


"........." Reichel hanya terdiam


"Bukan kah kamu tidak mencintai dia? kenapa kamu harus peduli ? Reichel aku tau kamu pasti tertekan karena perkataan ibunya tadi kan? jangan kawatir aku akan bicara padanya bahwa semua itu harusnya tidak dia katakan padamu. kamu tenang saja, aku sangat mencintai kamu dan aku tau kamu sangat mencintai ku juga Reichel" ucap Rachel lalu memeluk Reichel


"Aku akan mengatakan semuanya pada ibunya bahwa kamu tidak mencintai anaknya" lanjut Rachel


Reichel melepaskan pelukan Rachel dari dirinya dan mendorong hingga ke dinding rumah sakit.


"Tau apa kau tentang cinta? kamu bilang sangat mencintai ku? apa kau tau kata-kata itu yang ingin ku dengar dari mulut mu lima tahun yang lalu buka sekarang. dan lagi untuk Abigail, jangan pernah kamu ikut campur urusan rumah tangga ku denganya. cinta ataupun ritidaknya saya dengan dia itu urusan saya dan ingat dia istri saya jika kamu melakukan sesuatu padanya akan ku pastikan akan membunuhmu dan juga siapa saja yang ingin melukainya" Reichel mengancam Rachel dengan


"Tapi kita bisa memulai kembali kan? aku tau kau masih sangat mencintaiku Reichel." ucap Rachel


"Jangan pernah mengucapkan cinta di hadapan ku" tekan Reichel


Datang jantung Abigail tiba-tiba tidak stabil


Matthew segera memanggil Dokter. tolong kalian keluar semua kami akan menangani pasien.


mereka semua keluar, Ibu Reichel menenangkan Reichel.


"Cobalah untuk berdoa Nak, jika kita berdoa dengan tulus Tuhan pasti akan mengabulkan" ucap Mamanya


Reichel memikirkan perkataan Mamanya itu


tiba-tiba ia teringat Abigail.


**Flashback on**


**Dikamar Abigail bangun selalu pagi hari. ia bangun lebih dahulu dari orang-orang di rumah itu. berlutut di lantai menaruh menyatukan kedua tanganya lalu menanruhnya di depan dapat dengan menutup matanya. Ia melakukannya cukup lama. sentah dari kapan Reichel bangun dan menatap Abigail dengan lekat dan lama. setelah Abigail selesai ia pun bertanya.


"Sedang apa kau**?"


"Tuan bertanya sedang apa? memangnya selama ini tidak melakukan ini?" **tanya Abigail


Reichel menggeleng kan kepalanya**


"Aku sedang berdoa Tuan" jawab nya singkat

__ADS_1


"kau percaya Tuhan itu ada?" tanya nya


"Tentu saja, memangnya tuan tidak percaya?" tanya Abigail


Reichel kembali menggeleng kepala


"Apa yang membuat kamu percaya Tuhan itu ada" tanya Reichel


"Memangnya percaya itu harus punya alasan?" tanya Abigail


"Tidak juga, tapi maksudku contohnya seperti apa?" tanya nya


"Aku tidak punya jawaban untuk itu, tapi suatu saat Tuan akan merasakannya" jawab Abigail


***Flashback Off***


Reichel mengingat nya dan berdiri dari tempat duduknya lalu menjauh dari mereka semua dan duduk termenung sendirian


Ia berlutut dan memohon.


"(Aku tidak tau bagaimana harus memulai, tapi satu hal yang ku pinta tolong selamatkan Abigail agar aku percaya bahwa Engkau benar ada di manapun, jangan untuk ku tapi untuk Abigail tolong aku mohon Pada-Mu)" batin Reichel lalu ia bersujud dan menangis tersedu-sedu di ruangan kosong itu sendirian


"Tolonglah, Abigail menggangap-Mu adalah Temannya lakukalah ini untuk Abigail aku ingin dia sembuh aku berjanji jika ia sembuh Aku akan mengembalikan ia ke Ibunya dan juga membiarkan dia hidup dengan baik tanpa tekanan dariku atau dari orang yang mengejar dia karena punya hubungan dengan ku" Gumam Reichel


setelah selesai Reichel keluar dari ruangan itu ia pergi ke ruangan Abigail dan menunggu Dokter memeriksa keadaan Abigail.


Pintu di buka. dokter keluar dari dalam.


"Tuan Muda, Nona memanggil anda" tanya Dokter nya


Reichel dengan segera berdiri dan masuk kedalam ruangan Abigail. ia menatap Abigail yang masih sayup menatapnya.


"Hei," ucap Reichel


"Bagaimana keadaan Taun? ini kenapa ada perban di kepala Tuan" tanya Abigail kawatir


"Kamu bahkan masih kawatir saat seperti ini, maafkan saya Abigail" lirih Reichel


"Tuan benaran baik-baik saja?" tanya nya memastikan


Reichel mengangguk. ia memikirkan perkatanya tadi di ruangan kosong itu


"(Terimakasih Tuhan)" Batin Reichel


-happy reading ya gyus-☘️☘️☘️


terimakasih memberikan likenya semoga kalian suka ya jangan bosan-bosan


❤️❤️❤️


luph💜💜💜💜

__ADS_1


__ADS_2