Reichel & Abigail

Reichel & Abigail
Terima kasih


__ADS_3

Sudah satu Minggu lamanya Abigail di rawat di ruangan serba putih dengan gorden hijau itu. keadaanya pun sedikit membaik hanya saja ia belum bisa bergerak terlalu banyak takut jahitan bekas operasi nya kembali terlepas. Reichel memindahkan Abigail di ruangan khusus yang telah ia siapkan disana. perlengkapan semua ada disana sehingga ia tidak perlu harus pulang balik kerumah untuk berganti pakaian.


Seminggu ini Reichel menjaga Abigail tanpa bergantian dengan keluarganya. ia ingin menebus kesalahannya atas apa yang menimpah Abigail saat ini.


Pekerjaanya pun ia bisa lakukan selama ada di rumah sakit. tinggal ia kirimkan kepada Matthew sekalian ia menyuruh Matthew untuk menyelidiki siapa di balik penembakan Abigail.


ponsel Reichel berbunyi. tak ingin mengangu tidur Abigail ia berbicara di luar ruangan.


"Halo, ia Matt bagaimana?" tanya Reichel


ia mendengar kan penjelasan orang di balik ponsel nya. sementara itu dari lorong rumah sakit Kirana, Rachel dan juga Mamanya datang untuk menjenguk Abigail.


"Apa tidak ada informasi lain, selain itu? kenapa bisa ia menargetkan Abigail. mungkin saja ini orang yang mengenal aku dan Abigail kamu harus mencari tau lebih rinci paham kan?" pintah Reichel, ia menutup ponsel sepihak


Mamanya melihat Reichel diluar ruangan.


"Kamu disini? Abi sama siapa?" tanya Mamanya


"Dia lagi tidur Ma, takut dia bangun makanya aku telfonan diluar" jawab Reichel


"Kamu pasti belum makan kan? ini aku bawahin kamu makanan di makan ya biar aku temanin disini" ucap Rachel


"Gak usa, dia bisa makan didalam sana Abigail. kenapa harus makan diluar sini" ketus Mama Shinta


"Oh ya udah, didalam saja kalau begitu" Rachel


Mereka masuk kedalam, ternyata Abigail sudah bangun dari tadi dan ingin minum air.


Reichel yang melihat itu langsung mengambil air di gelas memberikannya ke Abigail.


"Ini, biar saya ambilkan" Reichel memberikan air pada Abigail ia memegang gelas nya.


"Lapar" liri Abigail


"Mau makan?" tanya Reichel


dibalas anggukan Abigail. Reichel mengambil bubur yang telah disiapkan oleh rumah sakit dan menyuapkan pada Abigail. Abigail tidak ingin makan.


"Kenapa? katanya kamu lapar?" kata Reichel


"Gak mau makan makanan ini, gak enak gak ada rasanya" cemberut Abigail membuat Reichel gemes. Reichel tersenyum


"Lalu mau makan apa?" tanya nya


Abigail melirik kekotak makanan di meja makan yang dibawah oleh mertuanya.


Reichel melihatnya dan memberi tatapan tidak setuju pada Abigail.


"Gak boleh" tita nya


"Belum juga ngomong" ucap Abigail


"Pokonya gak boleh, kamu habis oprasi dan harus makan makanan ini" titah Reichel


"Itu gak enak, gak ada rasanya hambar Tuan. mulut ku lagi pait soalnya" rengek Abigail

__ADS_1


Reichel mengela nafas nya menatap mamanya. Mamanya memberi izin


"Baiklah, tapi tidak boleh banyak ok" ucap Reichel


"Siap Bos" jawab Abigail semangat


sementara di lain sisi kedua sejoli yang menyaksikan keakraban keduanya memasang muka masam tak senang.


"Ini semua gara-gara kamu dan kakak bodoh mu itu" Rachel


"Apa katamu? bukan kah kamu yang lebih bodoh. andai kamu tidak menembak Abigail ini tidak ada terjadi, saya sudah bilang percaya sama saya tapi kamu?" Kirana


"Sudah diam, saksikan saja kemesraan mereka dulu. habis ini kita pikirkan rencana lain" Kirana


Reichel dan Abigail makan dari tempat yang sama. sesekali Abigail menatap Reichel yang sedang makan, ia tidak menyangka Reichel ternyata sehangat ini. meskipun dia kaku dan kasar dari luar tapi hatinya sangat baik dan hangat jika sudah mengenalnya lebih lama.


Abigail mengingat kembali kejadian seminggu lalu membuatnya sedikit merinding


dari mana keberaniannya untuk menyelamatkan Reichel dan menyatakan cinta terlebih dahulu pada pria kaku dihadapanya itu. ia menepuk jidatnya seakan mengutuk dirinya betapa bodohnya dia saat ini.


"Em, Tuan." panggilannya pelan ia tak ingin didengar oleh mertuanya


"Hem" jawab Reichel yang sedari tadi sibuk dengan makanya


"Em, waktu kejadian itu. apa tuan ingat sesuatu?" tanya Abigail


"Sesuatu? ingat. semuanya aku ingat" jawab Reichel


"Hah!! " kaget Abigail membuat mertuanya ikut kaget. ternaya sedari tadi dia sedang menguping pembicaraan mereka ia pura-pura membaca majalah di sana


"Kenapa?" tanya Reichel


"Termasuk apa?" tanya nya lagi


"Katanya ingat kok balik nanya" gerutu Abigail


"Ia Aku ingat semuanya, bahkan dalam keadaan itu pun kamu masih sempat-sempatnya memarahiku. ingin rasanya ku tinggalkan kamu disana, tapi aku masih punya pikiran" jelas Reichel


"(Hanya itu?)" batin Abigail


"Lalu" tanyanya lebih lagi


"Lalu apa? kamu berharap aku mengatakan apa?" Reichel


"(Apa Tuan tidak mendengar aku bilang kalau aku mencintainya dan aku sudah mulai jatuh cinta padanya?)" batin Abigail


Abigail melamun. Reichel mecolek hidungnya membuat Abigail kaget.


"Apa yang Tuan lakukan?" tanya Abigail


"Kamu itu bengong kenapa? orang suapin dari tadi gak buka-buka mulutnya" gerutu Reichel


"Hehehehe maaf Tuan sekarang ayok suap ahhhhh" Abigail bertingkah seperti seorang bayi


Setelah beberapa saat Mama dan adik Reichel berpamit untuk pulang meninggalkan mereka berdua di ruangan itu. Rachel menatap Abigail dengan tajam ia mencoba membuat Rachel cemburu dengan memeluk Reichel dengan senyuman manis.

__ADS_1


"Terimakasih Tuan" Abigail memeluk Reichel


Reichel membeku seperti patung karena saat ini Abigail memeluknya didepan mamanya yang membuat Mamanya buru-buru keluar.


"Sepertinya Mama harus segera pulang" ledek sang Mama


Mereka sudah keluar namun Abigail tetap memeluk Reichel. rasanya nyama sekali berada di dekapan taun nya itu sehingga tidak ingin melepaskannya. jantung Abigail berdetang kencang. tak kala jantung Reichel juga berdetak kencang membuat Abigail mengubah posisinya dan mengarahkan kupingnya ke dada Reichel.


Tak ingin Abigail tau lebih lagi Reichel mendorong tubuh Abigail menjahu darinya.


"Hentikan" kata Reichel


"Kenapa? apa tuan tidak suka?" tanya Abigail


"Bukan begitu, tapi...." ucap Reichel yang tak di teruskan


"Tapi apa? tuan segitu cintanya ya sama Rachel sampai-sampai saat ini pun belum bisa membuka hati untuk orang lain?" tanya Abigail


"Bukan begitu, tapi ini tidak boleh." ucap Reichel


"Apa yang tidak boleh, apa yang salah?" tanya Abigail lagi


"Kamu tidak perlu tau, pokonya setelah pulang dari sini kamu akan saya kembalikan pada orang tua mu" ucap Reichel


"Apa maksud tuan? " tanya Abigail


"Jika kamu terus berada di dekat ku, bahaya akan terus mengejar kamu. saya tidak ingin orang lain menanggung bahaya yang di tujukan untuk saya" Reichel


"Memang apa yang salah, saya sudah bilang kan saya tidak peduli. saya hanya ingin bersama Tuan tidak lebih saya juga tidak peduli dengan nyawa saya bahkan jika tuan menginginkan nyawa saya, saya akan berikan" Lirih Abigail


"Apa kamu sudah gila? kamu tidak paham Abigail" Reichel mencoba untuk merendahkan suaranya pada Abigail


"Suka atau pun tidak saya tidak memerlukan persetujuan kamu." ucapnya dengan kata-kata dingin yang menusuk hati Abigail seperti di tusuk jarum


"Kalau begitu aku mau pulang sekarang. hantarkan aku hari ini juga kerumah Ibu


mungkin dengan itu tuan akan senang" ucap Abigail


"(Tidak ada yang akan senang dengan perpisahan Abigail, tapi demi keamananmu saya lakukan ini padamu)" batin Reichel


"Kata ku besok. ya besok" ucap Reichel menekan bicaranya membaut Abigail engan berdebat lagi dan memilih berbaring di ranjang rumah sakit membelakangi Reichel.


"(Terus bagaimana dengan rasa ini tuan? apa kau tau ini sakit tuan sangat sakit. kenapa saat aku punya rasa ini kau malah melemparku jauh dari mu)" batin Abigail


punggung mungilnya bergetar menahan Isak tangis yang mungkin akan lolos dari mulutnya


dengan sekuat tenaga ia menahan agar tangisanya tidak pecah disana. dadanya sesak hatinya sakit dan suaranya berhenti. sampai di tenggorokan. rasanya ia ingin pingsan saja menahan sesak di dadanya itu.


sementara Reichel duduk menundukkan kepalanya, tanganya di tumpukan di pahanya


ia tidak menengadakan kepalanya. bahunya bergetar dengan hebat disana. lantai itu basah dengan cairan bening yang keluar dari mata nya. ia tidak memandang Abigail hanya terus menunduk.


Ruangan besar itu sunyi seperti tidak berpenghuni. Rasanya ingin sekali Reichel berteriak dan bertanya kenapa kehidupannya harus seburuk ini kenapa ia harus menjalani kehidupan yang kelam seperti ini. dan lagi kemarin saat mengucapkan janji suci pernikahan nya ia memastikan agar tidak menggunakan hatinya untuk melihat Abigail.


namun hal itu diluar kendalinya, sekarang hal utama untuk kelemahanya adalah Abigail. ia tidak sanggup harus menjauhkan diri darinya bahkan tidak punya keberanian untuk meninggalkan dia sendirian. selama ini ia hidup dalam dunia nya yang nyaris tidak berwarna dan bermakna. saat Abigail masuk dan memberi warna padanya ia sedikit berubah dan menerimanya hingga ia terbiasa dengan kehadirannya. ia tidak tau apa ini cinta atau yang lainya ia bahkan tidak punya keberanian untuk mengatakan perasaanya saat ini pada Abigail. ia begitu takut akan kehilangan yang kedua kalinya.

__ADS_1


ia berfikir memukang kan Abigail di rumah sang ibu ia masih bisa berkunjung dan mereka masih bisa berteman bukan?


setidaknya ia tidak benar-benar kehilangan jika ia memutuskan untuk kembali kan Abigail.


__ADS_2