Reichel & Abigail

Reichel & Abigail
Terpaksa menikah?


__ADS_3

Malam sebelum Pernikahan yang akan di rencanakan esok hari Reichel meminta Abigail untuk berdiskusi sesuatu tentang hubungan yang akan mereka jalani. Reichel memberikan dokumen pada Abigail


"Apa ini?" tanya Abigail


"Bisa membaca? baca itu"ucap Reichel


Abigail membaca surat perjanjian yang telah di buat oleh Reichel.


"tidak. aku tidak setuju, bagaimana bisa pernikahan di jadikan lelucon seperti ini? bagi saya pernikahan itu suci dan di lakukan sekali seumur hidup bagaimana pun Tuhan mempertemukan saya dan kamu itu sudah menjadi takdir. saya tidak setuju dengan syarat ini" Abigail merobek dokumen perjanjian yang Reichel berikan


"Kamu setujuh atau tidak saya tidak peduli, silahkan batalkan saja jika anda mau. saya hanya mencoba menyelamatkan harga diri saya dari manusia seperti anda dengan mengiakan permintaan anda pada malam itu bukan berarti anda bisa main-main dengan pernikahan bagaimana anda bisa pertanggung jawabkan dihadapan Tuhan nanti jika anda mati?" ucap Abigail


"saya tidak percaya dengan Tuhan. jika Tuhan ada saya tidak adak menjadi seperti sekar......"Reichel menghentikan pembicaraan ya dan pergi meninggalkan Abigail


***


Pagi hari


pukul 08:00


Perempuan paru baya itu berdiri di depan anak lelakinya, membenarkan dari kupu-kupu yang kenakanya merapikan pakaiannya sebelum ia menghapus genangan air mata di pelupuk matanya.


"Terimakasih nak, sudah membuat mama bahagia. dari kecil sampai sekarang yang harusnya menjadi tulang punggung ada lah Mama tapi kamu tidak membiarkan semuanya mama lakukan kamu mengambil tanggung jawab itu dari mama. mama berdoa supaya dia yang kamu nikahi ini bisa menjadi pendamping yang baik yang mencintai kamu lebih dari ia mencintai dirinya" Mama Sintah


"Hari ini hari bahagia mama, jangan bersedih untuk kebahagiaan mama dan Kirana aku akan melakukan apapun itu" ucap Reichel sembari menghapus air mata di pipi mamanya itu.


Reichel berdiri depan altar gereja menunggu Abigail datang. mobil yang membawah abigail datang ia turun dari mobil bersama sahabatnya An



-Visual Reichel-


"Anna, aku takut" ucap Abigail berbisik pada Anna


"rileks Bi, berdoa saja semoga Tuhan bisa melindungi mu dari si kaku itu" Ucap Anna


"Kau ini, selalu seperti ini. memangnya dia itu serigala?" Ucap Abigail dengan tertawa


"ayok kita masuk" ucap Anna



. -Visual Abigail-

__ADS_1


Pintu gereja terbuka Abigail berdiri didepan pintu gereja sebelum memasuki gereja perasaan bercampur aduk antara senang dan juga takut. apakan pernikahannya mendatangkan kebahagiaan atau Mala akan membuatnya menderita. pernikahannya dilaksanakan dengan megah orang-orang dan rekan bisnis Reichel datang untuk menyaksikan kecuali satu orang yang di anggapnya sampai sekarang adalah musuh terbesarnya itu tidak hadir, lagi pula untuk apa dia hadir. keberadaanya pun tak di harapkan oleh Reichel orang yang menyebabkan Reichel berubah menjadi seperti sekarang ini.


pandangan mata Reichel dan Abigail bertemu


tidak ada yang menarik di mata Abigail tatapan pria itu masih sama. kosong tidak ada ekspresi wajah senang atau pun sedih


lebih tepatnya kaku seperti batu keras. Abigail berjalan perlahan menuju altar diiringi oleh musik yang shaduh memasang senyum palsu disana yang di buatnya dengan baik supaya orang-orang yang memandanya tidak mendapati keterpaksaan didalam senyumnya. benar saja meskipun ia terpaksa orang-orang melihatnya sangat cantik dan manis dengan senyumannya. saat sampai di altar mata mereka bertatap lagi, Reichel mengulurkan tangannya membantu Abigail untuk kealtar dan melakukan pemberkatan pernikahan mereka. setelah beberapa jam melakukan doa pemberkatan nikah tibah lah mereka di penghujung acara.


Romo: Apa yang di persatukan Allah tidak boleh di ceraikan manusia."


Mereka berdoa untuk mohon berkat Tuhan untuk pernikahan mereka.


Abigail menyatuhkan kedua tangannya di depan dadanya menutup matanya.


"Tuhan, aku tidak tau bagaimana kedepanya kehidupan rumah tanggaku. tapi engkau sudah menyatukan kami apapun yang akan terjadi semuanya seturut dengan kehendak Tuhan .jadikanlah aku istri yang baik menurut kehendakmu dan untuk teman hidup ku aku percaya engkau akan merubah hatinya untuk ku aku percaya itu" Abigail selesai dengan doanya dan melihat ke samping kanannya orang itu menatapnya


"Apa yang kau minta?" tanyanya


"Sesuatu" Jawabnya singkat.


Abigail ingat betul nasihat ibunya. saat setelah mengambil keputusan untuk menikah segala pikiran dan juga tingkah laku kita yang sering kita lakukan saat masih menjadi anak gadis tidak bisa kita lakukan saat kita telah menikah. contohnya seperti saat ini Abigail mencoba untuk mengesampingkan egonya dan juga keras kepalanya, ibu nya selalu bilang Menikah itu bukan perkara aku cinta kamu atau kamu cinta aku. bagaimana kita bisa mengimbangi pasangan kita dengan belajar untuk mengalah saat keduanya emosi. belajar untuk saling mengerti dan memahami karakter masing-masing karena menyatukan kedua isi kepala itu tidak segampang kita membolak-balik kan telapak tangan kita. ya meskipun Abigail tau ini adalah pernikahan yang terpaksa tidak ada salahnya kan sepeti itu barang kali es kutub itu bisa mencari dan yang kaku bisa menjadi elastis atau lembut.


Pemberkatan sudah selesai Abigail bersama dengan Reichel meminta restu kedua orang tua dengan bersujud dihadapan orang tua nya. Abigail berlutut dihadapan Orang tua Reichel


"Tuan, wanita tua ini menitipkan anaknya padamu, jika ia melakukan kesalahan jangan memukulinya beri tahu dia dengan baik dia pasti akan mengerti. ibu tau dia sangat keras kepala jika ia melukai atau membuat tuan marah tolong jangan membentak nya dia sangat rapuh jika di bentak dari kecil ia tidak merasakan kasih saya seorang ayah tolong berlakulah seperti ayah, kakak laki-laki teman dan juga suami baginya" Ucap Ibu Eli dengan tangisan senduh


Reichel hanya mengangguk mendengar hal itu. ia menata Abigail sejenak lalu berdiri di samping nya kembali.


pemberkatan selesai Abigail dan Reichel pulang ke rumah ditemani oleh Anna dan Matthew. tidak ada percakapan didalam mobil baik Anna maupun Matthew.


***


Kediaman Reichel Adiwigoena


Reichel turun dari mobil membuka dasi nya dan berjalan kedalam rumah. Abigail yang kesusahan mengangkat bajunya keluar dari mobil di bantu oleh Matthew dan Anna. Orang-orang yang bekerja di rumah Reichel memberi salam kepada Abigail


"Selamat datang nona" ucap pelayang yang bertugas membuka pintu


"halo" balas Abigail dengan angukan


Matthew menghantar Abigail sampai di ruang tamu. iya mengajak Anna untuk pulang


"Nona Abigail, kami hanya bisa menghantar nona sampai disini. kami mohon pamit" ucap Matthew

__ADS_1


"tidak perlu terlalu formal seperti itu, panggil saja Abigail sama seperti Anna memanggil ku" Pinta Abigail


"Baiklah, ayok Anna kita pulang, aku akan menghantar mu pulang" tawar Matthew


Anna mengangguk, ia memeluk Abigail dengan erat dan berpamitan


"Aku akan selalu merindukan mu Bi, tidak ada lagi yang berkelahi denga pelangan ku setiap pagi di tokoh. yang selalu mengajak ribut pembeli yang......"Anna


"Berhenti seperti ini, memangnya aku tidak akan kesana lagi? aku akan pergi ketokoh setiap hari untuk memarahi pelanggan mu yang selalu berhutang" Ucap Abigail menghibur sahabatnya itu


"jaga dirimu baik-baik, kalau si kaku itu macam-macam padamu tendang saja anunya" ucap Anna pelan


"Sedang menyusun rencana jahat? " Reichel turun dari atas kamarnya membuat Anna buru-buru berbalik dan mengajak Matthew pulang.


"Kalau ingin ketemu Abigail kamu bisa menyuru Matthew menjemput mu dan datang" Ucap Reichel


Anna merasa senang. kini ia yakin bahwa sahabatnya ini akan baik-baik saja disini


mereka pulang dari sana meninggalkan Abigail dan Reichel di rumah itu. Reichel yang melihat Abigail bengong di tempatnya


"Tidak ingin ganti pakaian mu? atau masih betah memakai pakaian itu?" Tegurnya


"Saya tidak tau harus kemana? rumah ini terlalu besar untuk saya jadi saya takut tersesat" jawab Abigail pelan


"Ikut dengan ku" Reichel


Abigail kesulitan untuk mengangkat baju pengantinya.


"Jalan duluan, aku akan mengangkat bagian belakangnya" pinta Reichel


Abigail jalan menaiki tangga dan Reichel berada dibelakangnya mengangkat baju pengantin wanita yang sekarang menjadi istrinya itu.


"Seumur-umur Tuan tidak pernah melakukan hal ini dengan perempuan" Karyawan1


"bukan seumur-umur, tapi emang tidak pernah. nona sangat beruntung" ucap karyawan2


"kuharap nona tidak akan kaget dengan sikap tuan yang kaku" ucap karyawan3


"Kalian semua mau saya pecat?" suara keras itu menggema di dalam ruangan itu


"Kembali bekerja, saya tidak suka orang malas" Lanjutnya membuat karyawan itu diam seribuh bahasa.


sampai sini dulu ya. semoga kalian suka

__ADS_1


luph💜💜


__ADS_2