Reichel & Abigail

Reichel & Abigail
Perasaan Reichel


__ADS_3

Reichel bangun dari tempat duduknya keluar dari rumah sakit. entah kemana kali ini dia pergi bahkan ia sulit menjelaskan perasanya terhadap Abigail saat ini. bukan tidak ingin mempercayai Abigail hanya saja dia takut kejadian dimasa lalu membuatnya terluka lagi bahkan mungkin lebih dalam lagi dari pada masa lalunya. ia mencoba untuk menepis semua rasa didalam hatinya.


Abigail perlaha membalikan tubuh kecilnya mencari sosok yang dari tadi berdebat hebat denganya. ia menatap pintu menyadari ia sudah pergi.


"Apa Kamu tidak percaya dengan ku Reichel?" lirih Abigail


"Apa selama ini tidak ada sedikit pun rasa mu padaku? " lagi katanya


Ia menangis sejadi-jadinya, mengingat semua kenangan yang ia lewatkan dengan Reichel. pria yang begitu kaku dan keras namun tetap lembut membuatnya begitu terlihat menyedihkan sekarang. matanya bahkan sangat bengkak sekarang hidung nya memerah dan suaranya serak.


Abigail duduk bersandarkan kasur rumah sakit. Ia memeluk kakinya berharap mendapatkan kekuatan dari sana, saat ini dia sudah tidak bisa menangis lagi bahkan susa untuk bernafas rasa sesak di dadanya begitu menyakitkan sehingga dia tertidur di ranjang rumah sakit itu.


***


Reichel melajukan kendaraannya dengan kecepatan tinggi untungnya ini tengah malam jadi tidak begitu banyak kendaraan yang lewat. Sedari tadi Ia terus berputar tanpa arah. Bayangan-bayangan Abigail dan dirinya terus terekam di pikirannya sehingga mobilnya terparkir di Besment apartemen Matthew.


menekan bel kamar Matthew. sang empunya membuka pintunya. Ia masuk dengan tubuh sempoyongan.


"Eh kenapa lu?" tanya Matthew


"Gue baik-baik saja, gue tidak jahatkan Matt?" celote Reichel


"Kanapa lu kek gini? lu itu biasa minum tapi kenapa sekarang lu" Matthew terus memarahi Reichel yang berbaring di sofa dengan bau minuman yang pekat dari mulutnya.


"Lu kenapa si Rei, tidak biasanya lu kek gini ada apa?" tanya Matthew


"Gue harus bagaimana? gue gak bisa jauh dari Abigail tapi gue juga gak mau dia terus dekat sama gue" ucap Reichel


"Terus mau lu apa? lu kan sudah nikah sama dia ya lu gak akan jauh la" Matthew


"Tidak-tidak, dia akan pergi " ucap Reichel


"Lu kebanyakan minum Cel, makanya ngelantur" Matthew


"Gue gak minum banyak hanya 2 gelas tapi gue sudah mabuk paya kan gue. bahkan gue harus mengusir cinta gue keluar dari rumah gue." ucap Reichel lalu tertidur


Matthew membangunkan Reichel tapi tetap tidak sadarkan diri.


"Mabuk cuma karena minum dua gelas dasar paya" gumam Matthew


Reichel terus mengigau memanggil nama Abigail. ia terus minta maaf kepada Abigail


Malam berganti pagi. Reichel bangun dari tempat tidurnya merasakan itu bukan di kamar rumah sakit. ia bangun dan melihat sekelilingnya lalu mengelus dadanya.


"Apartemen Matthew" katanya


lalu ia tiba-tiba mengingat Abigail, Matthew datang dengan membawah kan kopi


"Mau kemana lu?" tanya Matthew

__ADS_1


"Kerumah sakit" jawabnya singkat


"Duduk!!" pinta Matthew


"Kenapa si lu?" heran Reichel


"Kata gue duduk ya duduk!!" Matthew sangat serius dalam situasi ini


"Jelasin sama gue, maksud lu semalam apa?" Matthew bertanya pada Reichel


sebelum menjawab ia melihat keseluruh apartemen.


"Anna gue suruh kerumah sakit tadi pagi, buat nemanin Abigail" ucap Matthew


"Gue gak tau kenapa, perasaan gue ke Abigail itu seperti apa gue bingung. Satu sisi gue mau dia tetap sama gue tapi gak tau alasanya kenapa dan di sisi lain gue mau dia pergi supaya dia aman" jelas Reichel


"Maksud Lo?" tanya Matthew


"Gue mau pulangin Abigail ke orang tuanya" jawab Reichel


"Apa?!!! lu sinting atau ku gak waras?" ucap Matthew


"Gue bingung, gue gak mau dia terus-menerus seperti ini Matt, gue gak mau dia selalu dalam bahaya karena gue" jelas Reichel


"Jadi karena itu lu mau pulangin Abigail, gak ada ahlak lu, itu namanya pengecut emang lu gak bisa ngelindungin Abigail? gue ada disini ada Anna juga kita berempat coi lu gak sendirian ayok lah lu ngak ngangao gue apa?" Matthew


"Bukan gitu, gue takut Abigail pergi jauh dari gue. gue mau dia di saja agar aman. mereka semua taunya gue gak cinta sama Abigail. Gue ngelakuin ini semua untuk menutupi kalau gue itu sudah jatuh cinta sama Abigail bahkan saat pertama gue ketemu dia dan gue gak mau mereka semua menargetkan Abigail dan gue tidak akan menerima resiko saat Abigail gak ada di hidup gue" Reichel menjelaskan pada Matthew maksudnya


"Gue benar-benar salut sama lu, ternyata selama ini Lo itu astaga kalau gue ingat lagi kata-kata lu pen gue tonjok tau gak lu" Matthew akhirnya mengerti rencana Reichel


Ini rencana antara mereka berdua.


"Tapi Anna?" Matthew


"Tunggu, tadi gue nyari ku di kamar ngak ada dan gw lihat pigura didalam lu sama Anna?" tanya Reichel


"Heheh maaf bos, ngak ngasi tau soalnya ada sesuatu yang juga harus kau tau nanti tapi belum saat ini" ucap Matthew


"Setidaknya lu ngundang gw sama Abigail bambang" Gerutu Reichel


"Tunggu resepsi aja lah" Matthew


"Pantesan aja lu berdua akhir-akhir ini lengket bener. ternyata playboy cap gayung sudah ada pawangnya" goda Matthew


"Bagusan gw yang cintanya sebelum lu nikah. na elu, alasan bapaknya korupsi ternyata modus mau nikahin anaknya. dasar bucin lu" Matthew


Mereka bercanda sambil minum kopi. setelah itu mereka kerumah sakit.


****

__ADS_1


Anna sedang menghibur Abigail matanya sangat bengkak dan hidung nya memerah suaranya juga serak.


"Ya ampun 🤭" Anna


"Ketawain aja terus😑" Abigail


"Lagian bisa ya lu ngelanggar janji ku dulu 😁" Anna


"Udah dong Ann, nanti aku nangis lagi ni mata udah kering tau sakit ni" celote Abigail


Anna tertawa melihat kegilaan sahabatnya itu. tiba-tiba pintu rumah sakit terbuka Reichel masuk bersama dengan Matthew. Abigail langsung membalikan badannya.


"Hai" ucap Reichel kikuk


Anna dan Matthew ikutan jadi kikuk dan canggung juga mendengar ucapan Reichel


selama ini mereka belum pernah mendengar ia selembut itu.


"Kalau sudah sama pawang nya dia gitu" Matthew berbisik pada Anna


"Apa si kamu ah" Anna


"Bi, Aku tau kamu tidak ingin melihat kesini tapi tolong jangan seperti ini terus, waktu kita tinggal hari ini besok kamu akan kembali kerumah sama Ibu" lirih Reichel


Anna yang tidak paham kaget dan ingin bicara lalu di bekap oleh Matthew mulutnya


"Diem berisik banget kamu" Matthew


"Ya tapi dia, apa maksudnya dia kek gitu" Anna berbisik pada Matthew


"Udah diem aja, kita lihat aja" Matthew


"Kamu benar-benar marah sama aku?" Reichel


Jangan tanyakan bagaimana reaksi dua sejoli yang di belakang mereka mendengar ucapan Reichel. bahkan mereka tidak bisa berkata-kata. dari mana manusia kaku ini berlajar seperti itu.


Abigail bukanya tidak ingin melihat ke Reichel tapi saat ini matanya begitu bengkak ia tidak mungkin membiarkan Reichel menertawainya. pasti banyak pertanyaan yang akan ia lontarkan padanya.


"Lihat kesini, tolong" kali ini Reichel benar-benar minta tolong


Abigail balik dan melihat Abigail. ia menanyakan kenapa matanya seperti itu.


"Siapa yang lakukan ini padamu? katakan saya akan memukulnya dan mencekik lehernya" ucap Reichel dengan kawatir ia mengelus pipi mulus Abigail


"Ini tuan semua penyebab nya. bisa kah tuan membatalkan rencana taun. aku tidak mau pergi dari tuan" lirih Abigail


"Cukup, jangan menangis lagi nanti matamu jadi tertutu sempurna" ucap Reichel


" Keputusan ku sudah bulat Abigail. kaku akan tetap kembali ke rumah mu, tidak ada penolakan dan kekasih barang mu kita akan pulang kerumah" ucap Reichel

__ADS_1


"Apa-apaan manusian ini, cepat sekali berubah nya" gumam Abigail


Anna dan Matthew membantu Abigail dan Reichel membereskan barang-barang mereka. lalu mereka keluar dan masuk kedalam mobil. Anna dengan Matthew dan Reichel dengan Abigail.


__ADS_2