Reichel & Abigail

Reichel & Abigail
Menyusuri Hutan


__ADS_3

Pagi Hari


Reichel dan Abigail masih tidur berpelukan dibawah pohon besar itu. Sinar matahari menyinari hutan itu cahayanya mengenai wajah Abigail yang membuat Abigail mengerakan matanya lalu tangan Reichel


melindungi wajah Abigail yang terkenah sinar


Matahari. Beberapa saat kemudian Abigail


Bangun dari tidurnya.


"Tuan, apa yang terjadi?" tanya Abigail


Reichel kaget melihat Abigail lalu menurunkan tangan nya.


"Tidak ada apa-apa" ucal Reichel


"Oh, bagaimana kita jalan lagi?" tanya Abigail


"Baiklah, ayok kita jalan" ucap Reichel


Mereka berjalan menelusuri hutan itu. Tidak ada apapun disana mereka hanya melihat hutan yang lebat. Reichel berjalan di depan Abigail.


"Kamu berjalan di belakang ku" ucap Reichel


"Baik Tuan" jawan Abigail


"Jangan menjauh, saya tidak mau tenaga saya habis nyariin kamu" ucap Reichel


Mendengar itu Abigail mempunyai ide. Reichel terus berbicara sendiri tanpa melihat ke Abigail. Karena heran tidak ada jawaban dari Abigail ia menengok ke belakang. Matanya membelalak saat melihat Abigail tidak ada di belakangnya. Ia melihat keseluruh arah hutan tidak melihat Abigail


"Abigailllll !!!!" panggil Reichel


Abigail yang berada di balik pohon tertawa melihat raut wajah kawatir Reichel


"(Rasain, emang enak aku kerjain siapa suruh kamu kek gitu ke aku. Makanya jangan dingin banget)" batin Abigail


"Abigailllll, kamu dimana?" panggil Reichel


Reichel menyadari tidak bisa memanggil terlalu keras. Orang-orang yang akan mencari mereka bisa mendengar suaranya.


"Bagaimana ini, kalau saya manggil terus mereka yang mencari kami akan mendengar" gumam Reichel


"Astaga bagaimana bisa lupa kamu Abi, bagaimana kalau mereka mendengar suara tuan" gumam Abigail


Ia kemudian keluar dari balik pohon dan mengangeti Reichel.


"Dorrrr, hahahhahaa taun kena" ucap Abigail


Reichel yang menatapnya tanpa ekspresi membuat ia sadar bahwa ia sedang marah padanya.


"Maaf tuan" lirih Abigail


Reichel tetap tanpa ekspresi melihat Abigail yang memohon padanya.


"Tuan, apa tuan marah?" tanya Abigail


Reichel maju mendekati Abigail lalu.


Pletakkk.....


"Auuuuuwwww, apa-apaan ini tuan? Sakit tau" Abigail memegang jidatnya karena sakit di buat Reichel


"Bagimana sakit kan?" tanya Reichel


"Iya Tuan" jawab Abigail


"Rasakan, kamu pikir ini lucu? Bagaimana kalau mereka mendengar? Apa kau mau kita di bunuh sama mereka disini?" ucap Reichel


"Maaf tuan, aku tidak bermaksud begitu" lirih Abigail


Reichel kembali berjalan. Ia mengambil tangan Abigail dan mengikat kan ketanganya memakai dasinya.


"Apa ini Tuan?" tanya Abigail


"Biar kamu tidak seenaknya ngerjain saya" ucap Reichel


Abigail tersenyum melihat perilaku Reichel padanya. Mereka terus mencari jalan keluar dari hutan itu agar bisa kembali ke rumah mereka. Abigail kelelahan berjalan sehingga kakinya sudah tidak sanggup untuk melangkah. Ia memaksa kan diri untuk berjalan. Reichel tiba-tiba mengentikan langkah nya membuat Abigail menabrak punggunya.


"Auuuww, Tuan ini kenapa sih? Sakit tau" rengek Abigail


"Saya tidak sengaja, lagian kamu jalan seperti itu makanya saya berhenti" jawab Reichel

__ADS_1


"Kan saya lagi yang salah" gumam Abigail


"Lalu siapa? Saya gitu?" tanya Reichel


"Iya lah, kan tuan yang berhenti tanpa aba-aba" jawab Abigail


sepanjang perjalanan mereka terus perdebatkan hal kecil yang sebenarnya tidak perlu untuk di debatkan. Namun mereka adalah Reichel dan Abigail dua orang yang keras kepala dan tidak mau mengalah.


"Ya sudah, kali ini saya mengalah. Kamu menang lain kali saya tidak akan mengalah" ucap Reichel


Abigail tersenyum kepada Reichel. Ia berhenti sejenak.


"Tuan boleh kita istrahat sebentar? Aku capek" ucap Abigail


"Baiklah, kita cari tempat yang lebih aman buat istrahat" ucap Reichel


Ia melihat di sana ada pohon besar yang rimbun dan dekat dengan sungai.


"Disana" Ia menunjuk kearah pohon itu


"Disana lebih sejuk dan lumayan dingin" lanjutnya


Mereka berteduh di bawah pohon itu dari sengatan sinar matahari yang sangat panas hari itu. Abigail merasa sangat haus Ia pergi ke sungai dekat pohon itu dan meminum air disana. Reichel yang melihatnya juga mengikutinya mereka minum air disana


Airnya sangat sejuk dan dingin membuat rasa haus mereka menghilang dengan cepat. Namun Abigail yang kesusahan untuk minum tidak bisa minum dengan baik Ia memaksakan tanganya agar bisa minum dengan benar. Goresan terkena peluru membuat tanganya tidak bisa terlalu bergerak.


Reichel datang menghampirinya dan membantunya untuk minum. Ia membuat tempat dari daun agar bisa mengambil air dan bisa Abigail minum. Abigail minum dan tatapan mereka bertemu.


"(Kenapa ini? Kenapa jantung ku degdegan seperti ini tidak seperti biasanya)" gumam Reichel


Abigail tersenyum pada Reichel, senyuman yang sangat manis dari bibirnya membuat Reichel makin merasakan detang jantung nya dengan kuat. Ia mengingat kembali perkataan Matthew padanya saat di apartemen nya bahwa Dia saat ini sudah jatuh cinta dengan Abigail. Ia juga tidak membantahnya karena memang dari pandangan pertaman Ia sudah jatuh cinta dengan Abigail hanya saja saat ini dia tidak percaya dan takut untuk mengungkapkan cintanya pada Abigail.


Reichel memalingkan pandanganya dari Abigail lalu pergi dari sana meninggalkan Abigail lalh duduk di bawah pohon untuk beristrahat.


"Dasar manusia kaku, kadang baik kadang cuek nya minta ampun" gerutu Abigail


Ia melihat Reichel yang pergi lalu mengikutinya. Abigail duduk di samping Reichel dan menatap nya penuh dengan pertanyaan.


"Kenapa?" tanya Reichel


Abigail tak menjawab namun terus menatap nya entah apa yang ada dipikiranya saat itu.


"Saya tau, saya ganteng jangan lihat saya sampe begitu nanti mata mu copot" ucap Reichel membuat Abigail ngakak tertawa


"Tuan benar, memang tuan sangat ganteng dan itulah mengapa saya mau menikahi tuan" ucap Abigail membuat Reichel melihat kearah nya.


"Jadi cuma karena saya ini ganteng makanya kau mau menikah dengan ku?" tanya nya memastikan


"Hemmm, memangnya apa lagi?" jawab Abigail


"(Kamu terlalu pd Reichel berharap dia mencintamu, jadi kata-katanya saat itu bukan kebenaranya)" batin Reichel


"Tuan !!! Tuan !!! " panggil Abigali


"Ah, kenapa?" kaget Reichel


"Harus nya saya yang tanya tuan kenapa?" ucap Abigail


"Oh, maaf saya tidak dengar" Reichel


Seketika suasana menjadi hening sekarang.


"Em, tuan mereka itu sebenarnya siapa?" Abigail mencoba membuka keheningan mereka saat itu.


"Mereka itu orang yang punya masalah sama saya" jawab Reichel


"Punya masalah? Memangnya Tuan ngapain sampe tuan punya masalah sama mereka?" tanya Abigail


"Semuanya berawal dari kebencian Aron terhadap saya" ucap Reichel


"Kebencian Aron? Tunggu, kalian bersaudara kan?" tanya Abigail


"Saudara tapi tidak sedarah. Saya dan Mama masuk ke keluarga Aron saat Ayahnya membunuh Ayah saya dan menikahi Mama dengan terpaksa. Awalnya semuanya baik-baik saja tapi setelah Ayah Aron lebih perhatian ke saya dan Mama Aron mulai membenci saya dan membunuh Ayahnya tapi dia menuduh saya yang telah membunuh Ayahnya membuat Kakek mengusir saya dan Ibu juga Kirana yang masih berusia satu tahun saat itu. Bahkan kami tidak membawah apapun dari sana membuat hidup kami menderita bahkan dimanapun saya melamar pekerjaan tidak di terima akibat perbuatan Aron itu pada saya. Tapi setelah beberapa hari ada seorang menawarkan saya sebua usaha yang mungkin akan merubah hidup saya dan keluarga saya sampai saat ini." jelas Reichel


"Lalu apa yang tuan lakukan?" tanya Abigail


"Saya melakukan pekerjaan yang di tawarkan awalnya saya tidak ingin tapi setelah saya menerima hasilnya saya makin ingin melakukanya" jelasnya


"Pekerjaan apa itu tuan?" tanya Abigail lagi


"Kaki tangan Mafia" jawab nya singkat

__ADS_1


"Apa!!! Jadi tuan itu adalah M-Mafia?" kata-kata Abigail terbata-bata


"Awalnya saya hanya pesuruh tapi lama kelamaan saya menyukai nya dan melakukan bisnis gelap dan makin besar sehingga semua orang menjadi takut kepada saya bahkan pemerintah kota kita juga takut kepada saya" jelas nya


Abigail mengeser badanya menjauh dari Reichel. Ia menatap penuh ketidak percayaan pada Reichel, Ia menatap tidak percaya padanya.


"Berarti memang benar, Kakek mu membunuh Ayahku dan kau juga ikut membunuh nya" lirih Abigail


Reichel melihat kearah Abigail yang sudah menjauhi dirinya.


"Abigail, percayalah padaku bukan saya yang melakukan itu. Memang saya ada disana saat itu tapi percayalah saya juga sedang berjuang untuk ayah saya disana karena mereka menyiksanya juga disana. Bukan saya yang melakukan itu tapi Aron yang melakukanya" jelas Reichel


"Kalian sama saja, kalian merengut Ayah dari Ibu dan juga dari aku yang bahkan masih dalam kandungan ibu ku" ucap Abigail


Reichel melihat Abigail bergetar menahan tangisanya. Ia mengambil sebua pistol dari dalam saku bajunya dan memberikanya pada Abigail.


"Jika saya bersalah padamu dan juga Ibu tembak saja. Mungkin kamu bisa membalas dendam mu pada keluarga kami. Tapi satu hal yang harus kamu ketahui Ayah saya bukanlah orang yang bisa setegah itu membunuh orang yang tidak bersalah sama sekali kalaupun kamu minta pertanggung jawaban maka kakek Aron yang lebih bertanggung jawab atas semua penderitaan ini" jelas Reichel


Abigail melihat pistol yang Reichel berikan padanya lalu menatap Reichel yang berlutut menghadap dirinya dengan kedua tanganya didadanya menyatu meminta maaf pada Abigail. Saat Abigail mengambil pistolnya mata Reichel menutup dan air matanya jatuh membasahi pipinya.


Abigail mendekati Reichel dan memeluknya erat. Mengelus kepalanya dengan perlahan


Reichel yang menyadarinya membalas pelukan Abigail ia memeluk Abigail dengan sangat erat. Mereka menangis bersama dibawah pohon itu.


"Maafkan saya Tuan, saya tidak percaya dengan tuan" ucap Abigail


"Aku yang harus minta maaf padamu, karena kakek Kamu sama Ibu menjadi sangat tersiksa dan hidup dalam ketakutan" ucap Reichel


"Mulai sekarang, apapun yang terjadi kedepanya Kita akan melawan Aron bersama. Aku tidak akan membiarkan dia melakukan kejahatan ini lagi lebih lama" ucap Abigail


"Pertama-tama kita harus bisa keluar dari sini terlebih dahulu" ucap Reichel


Abigail memeluk Reichel kembali membuat Reichel membeku seketika karena Abigail menciumi bibirnya sekilas.


"I love you so much tuan kaku" ucap Abigail lalu pergi mendahuluinya.


Reichel dibuat dia mematung oleh Abigail sat itu.


"(I love you too Bi)" batin Reichel


Sepanjang perjalanan Reichel terus memikirkan bagaimana caranya agar Abigail tau bahwa Ia juga mencintainya bahkan dari sejak mereka bertemu pertama kalinya hanya saja Reichel belum terlalu menyadarinya dari dulu. Ia sibuk dengan isi kepalanya yang bergulat didalam isi kepalanya.


"Tuan!!! Apa yang taun pikirkan kenapa dari tadi pertanyaan ku tidak di jawab?" tanya Abigail


Reichel kaget mendengar keluh Abigail


"Ada apa? Tadi saya sedang memikirkan sesuatu jadi saya tidak dengar" ucap nya bohong


"Tadi aku tanya, setelah tuan putus denga Rachel apa tuan pernah jatuh cinta lagi?" tanya Abigail


"Pernah" jawabnya singkat


"Wah benar kah? Siapa dia?" tanya nya


"Sepertinya gadis itu beruntung bisa di cintai oleh tuan" lirih Abigail


"(Kamu Abigail, Kamu apa kamu tidak merasakanya?)" batin Reichel


Reichel menatap Abigail.


"(Kenapa aku merasa tuan sedang bicara jika itu aku, ah gak mungkin ini pasti cuma kebetulan saja. Tapi sorot mata tuan seperti ingin bicara bahwa itu adalah aku. Ahhh tidak tidak ini tidak mungkin abigail)" batin Abigail


"Lalu kamu bagaimana?" tanya Reichel kembali padanya.


"Eh ada. Tapi----" katanya terhenti


"Dia seperti nya tidak cinta padaku, karena dia belum pernah mengucapkan bahwa dia cinta padaku" lirih Abigail


"Sudahlah, kita cari jalan saja agar bisa keluar dari sini" lanjut Abigail


Halo aku kembali hari ini. Soalnya tadi lagi ada waktu kosong jadi aku memutuskan untuk upload novel. Jangan lupa ya guys untuk baca.


Minta


Like


Komen


Juga favoritkan ya


Terimah kasih

__ADS_1


ILU❤️💜


__ADS_2