Rembulan Pengganti

Rembulan Pengganti
BAB 10


__ADS_3

Pagi itu Yang Mulia Kaisar menyuruh semua orang berkumpul di aula pertemuan kerajaan.


Dalam perjalannya Shen Ling berpapasan dengan putera mahkota, tatapan mereka bertemu sesaat sebelum putera mahkota mengalihkan pandangannya seolah olah tidak mengenalinya.


Shen Ling sangat kesal, 'Dia pikir aku peduli? Dasar sinting.' dalam hati Shen Ling terus memaki Xuan Ye. Tanpa mereka sadari Huang Ro mengawasi mereka dari jauh dan tersenyum puas.


"Huang Ro, apakah kau puas dengan ini semua?" Xuan Er tiba - tiba berada dibelakang Huang Ro.


"Lumayan, tapi aku belum puas jika gadis Shen itu tidak pergi dari istana ini."


Huang Ro tersenyum licik, entah rencana apa lagi yang ada di pikirannya.


Xuan Er hanya ingin melihat senyum Huang Ro yang dulu, sangat polos dan ceria. Sekarang senyuman Huang Ro selalu tersirat keserakahan.


Setelah mereka semua berkumpul diistana, Kaisar mengumumkan besok siang akan ada perayaan ulang tahun permaisuri. Karena hasil panen rakyat tahun ini melimpah. Maka kaisar ingin mengijinkan beberapa perwakilan rakyat untuk merayakannya di istana. Beberapa pejabat agak kurang menyetujui hal ini karena masalah keamanan.


Tetapi akhirnya tetaplah keputusan Kaisar yang diambil dengan tambahan keamanan.


Setelah pertemuan dibubarkan, Shen Ling menemui ayahnya yang juga berada di pertemuan itu.


Dia tertawa kecil dan berlari ke arah ayahnya,


"Shen Ling, jaga kelakuanmu. ini di istana bukan seperti di rumah. Wah coba lihat anak ayah bertambah gemuk disini, ibumu pasti menyukai nya."


Mata Shen Ling berkaca - kaca dia sangat merindukan keluarga nya, "Apakah ibu akan datang di perayaan besok? Apakah adik Ming juga boleh diajak? aku sangat merindukan kalian semua."


Perdana menteri tertawa melihat kelakuan putrinya yang menggemaskan, "Tentu mereka akan datang, biarkan ibumu menjenguk mu besok. Baik - baiklah kau di istana. Jangan berbuat onar."


"Baik ayah." Dan ayahnya pun meninggalkan istana. Tanpa Shen Ling sadari Xuan Ye dan Xuan She memperhatikannya dari jauh.

__ADS_1


Kabar mengenai perayaan sudah tersebar di seluruh ibu kota. Rakyat sangat antusias dengan hal ini, saat ini kondisi pasca perang memang sudah pulih, bahkan rakyat bertambah makmur.


Berita ini pun didengar oleh sekelompok orang di pojok ibu kota


"Kakak Pertama apakah kau sudah mendengarnya?"


Seorang pria menyeringai, "Ya sudah, besok utuslah 2orang prajurit terbaik kita. Biarkan mereka menyamar menjadi rakyat dan bunuh Kaisar sialan itu."


Mereka pun lenyap bagaikan ditelan bumi.


Di istana, semua orang sibuk mempersiapkan segala sesuatu nya. Huang Ro pun sibuk memilah baju apa yang akan dikenakannya besok.


Ibu Suri datang ke kamar Huang Ro diikuti oleh dayang Rong, "Bagaimana Huang Ro? Bagaimana persiapan mu?"


"Ibu Suri menurut anda baju mana yang lebih cantik? Aku ingin semua orang terpukau melihatku terlebih Xuan Ye."


Ibu suri tersenyum melihat tingkahnya.


Untuk gadis Shen itu, aku dengar dia tidak memiliki bakat apa pun, hanya seorang gadis yang kasar saja."


Tiba - tiba sebuah ide melintas dipikiran Huang Ro, "Ibu suri, bagaimana jika kita menyuruhnya tampil besok? Bukankah hal yang wajar untuk tampil di acara seperti itu? Biasa aku akan diminta oleh ibu suri untuk bermain kecapi. Entah apa yang akan dipertunjukkan oleh gadis itu saat diminta tampil."


Ibu suri pun tersenyum, "Cara ini akan memalukan dirinya. Dan ada kemungkinan dia tidak mau muncul lagi di istana. Baiklah besok aku akan meminta nya memulai pertunjukan."


Keesokan hari nya, perayaan pun dimulai dengan meriah, baik di istana maupun di ibu kota semua orang merayakannya dengan meriah. Acara ulang tahun pun berjalan seperti biasa, para penari ikut merayakannya.


Ibu suri meminta Huang Ro untuk tampil melengkapi acara itu, dengan senang hati Huang Ro bermain kecapi.


Semua orang terpukau dengan permainannya yang lembut, suara senar yang indah beradu dengan paras Huang Ro yang cantik.

__ADS_1


Semua orang bagaikan terhipnotis, semua pandangan menuju pada Huang Ro, tak terkecuali dua orang prajurit pembunuh yang masih menunggu kesempatan untuk menyerang Kaisar.


Setelah penampilan Huang Ro berakhir ibu suri pun berkata, "Nona Shen Ling kau baru saja memasuki istana. Apakah kau tidak mau menunjukkan bakat mu di kesempatan yang baik ini?"


Shen Ling menggerutu dalam hati mendengarnya, 'Nenek sialan mana bisa aku bermain kecapi sebagus Huang Ro. Dia pasti sengaja melakukannya. Tidak mungkin aku menolak dihadapan permaisuri dan Yang Mulia Kaisar.'


Akhirnya Shen Ling pun berdiri, "Hamba tidak berani menolak. Yang Mulia apakah hamba boleh menunjukkan tarian pedang? Hamba pernah mempelajarinya keseniani negeri Ti."


Negeri Ti memang terkenal dengan tarian pedang, disana kaum wanita kerap dijadikan prajurit tangguh, dan sejak lama hubungan negeri Ti dan Ming sangat baik. Kaisar sangat antusias dengan Shen Ling. Xuan Ye maupun Xuan She kedua ny pun penasaran dengan pertunjukkan Shen Ling.


"Bagus sekali, dipersilahkan."


Shen Ling pun meminjam pedang salah seorang prajurit, dan memulai pertunjukkannya. Dengan anggun nya dia memainkan pedang tersebut. Semua orang terpana melihatnya terutama Xuan Ye. Shen Ling tampak sangat cantik dengan gaun serta rambut panjang nya mengikuti pergerakan tarian pedang tersebut.


Tiba - tiba ada seseorang melempar pisau terbang ke arah Kaisar, Shen Ling yang menyadari hal itu pertama kali, langsung menangkis serangan itu. Lalu para prajurit berteriak "Ada pembunuh ada pembunuh."


Dengan sigapnya Xuan Ye pun memerintahkan untuk menutup seluruh gerbang istana, kedua prajurit yang merasa panik dan terdesak akhirnya menyerang Kaisar, disaat terdesak salah seorang melempar pisau ke arah Shen Ling. Shen Ling yang tidak menyadarinya diselamatkan oleh Xuan Ye, dan pisau itu mengenai lengannya.


Dengan sigap prajurit akhirnya mampu melumpuhkan kedua orang itu


Begitu tertangkap kedua orang itu berteriak


"Hidup dinasti Tang." Dan mati bunuh diri dengan meminum racun.


Kaisar sangat marah, "interogasi semua orang yang keluar masuk istana."


Shen Ling sangat kuatir dengan keadaan Xuan Ye, tetapi Huang Ro menyuruhnya menyingkir. "Cepat panggil tabib istana, cepat."


Shen Ling hendak memeriksa luka nya, tetapi Huang Ro mencegahnya bertindak, "Minggir, jika bukan karena mu putera mahkota tak akan terluka."

__ADS_1


Shen Ling melihat sekilas luka pada Xuan Ye, dan merasa lega karena pisau itu tidak dilumuri racun. Merasa dirinya tidak dibutuhkan, Shen Ling pun menjauh dan tanpa sengaja menginjak kaki Xuan She, "Ma - maafkan aku."


Xuan She hanya mengangguk, sekarang bukan saatnya bercanda. Ada pemberontak berani bertindak terang - terangan, seperti nya kekuatan mereka tidak bisa diremehkan.


__ADS_2