
Kelompok Xuan Ye bertarung sengit dengan lima orang berbaju hitam, kelima orang itu bukanlah prajurit biasa melainkan pasukan elite yang terlatih. Beberapa prajurit Xuan Ye sudah tewas, dan dua orang prajurit bayangannya juga sedikit kewalahan, Xuan Ye pun berpikir jika keadaan seperti ini terus bisa membahayakan Shen Ling, 'Targetnya hanyalah aku, semestinya jika berpencar maka Shen Ling bisa melarikan diri.'
Akhirnya Xuan Ye pun memberi perintah kepada kepala pengawal, "Adjudan Li, kita berpencar kau bawalah nona Shen Ling bersama mu kita bertemu di gerbang kota Lin Man."
A Li yang sudah sangat ketakutan, terus berlindung di belakang prajurit istana, sedangkan Shen Ling ikut bertarung dan berhasil menumbangkan seorang prajurit itu.
Akhirnya sesuai perintah Xuan Ye rombongan terbagi menjadi dua, kepala pengawal membawa sebagian pasukan, dan Xuan Ye bersama dengan prajurit bayangannya.
Prajurit berbaju hitam hanya menargetkan Xuan Ye mereka tidak peduli dengan rombongan pengawal istana, dan yang lebih mengejutkan nya ternyata Shen Ling mengikutinya.
Pertarungan pun tidak terelakan, ketika posisi Xuan Ye dekat dengan Shen Ling, Xuan Ye pun berbicara padanya, "Apakah kau bodoh? Kenapa kau mengikuti ku? Kau akan aman jika bersama dengan kepala pengawal."
Shen Ling pun menjawabnya, "kau lah yang bodoh, para pria ini hanya mengejarmu. Kau lah target mereka, aku akan membantumu, anggap saja aku membalas Budi mu saat penyerangan Kaisar dulu."
Di tengah pertarungannya, Shen Ling melihat sebuah celah ketika lawannya kelelahan, Shen Ling melempar jarum dan mengenai dua orang lawannya. Seketika kedua orang itu tidak dapat bergerak dan jatuh berlutut.
"Jarum ini beracun, jangan remehkan wanita itu."
Salah seorang prajurit bayangannya berteriak, dengan sigap Xuan Ye melindungi Shen Ling, kemudian prajurit bayangan Xuan Ye berteriak "Yang mulia cepatlah lari, Biar kami yang akan mengurus disini."
Xuan Ye pun mengangguk lalu menarik tangan Shen Ling dan mereka berlari bersama.
Nasib keberuntungan rupanya berada di pihak Xuan Ye, hujan turun dengan deras dan mampu menghapus jejak mereka.
__ADS_1
Xuan Ye dan Shen Ling akhirnya bersembunyi dalam sebuah goa.
Shen Ling tertawa kecil, "Baguslah hujan sudah turun dengan deras, seharusnya kedua orang yang terkena racun ku akan tewas."
Xuan Ye yang penasaran akhirnya bertanya, "Apakah jarum mu tadi beracun?"
Shen Ling pun mengangguk, "Betul itu sebenarnya bukanlah racun ganas hanya berfungsi untuk melumpuhkan lawan, tetapi jika tubuh korban terkena air maka racun akan berubah menjadi ganas dan langsung menyerang jantung dan liver."
Setelah itu, suasana menjadi canggung. Mereka berdua seperti orang yang tak saling kenal, duduk berjauhan dan terdiam.
Bunyi suara bersin Shen Ling memecah suasana, "Kau mulai flu, coba aku cek apakah kau demam?"
Xuan Ye mencoba memegang dahi Shen Ling, Shen Ling tampak risih dengan perlakuan Xuan Ye tetapi tetap tidak mencegah pria itu.
Xuan Ye benar, Shen Ling akhirnya dengan patuhnya mengikuti perintah Xuan Ye. Saat Shen Ling sibuk bersembunyi, Xuan Ye sudah datang dengan sedikit kayu bakar dan batu api, kemudian Xuan Ye membuat api unggun.
"Seperti nya goa ini sering digunakan oleh para pemburu, lihatlah mereka meninggalkan batu api dan beberapa kayu bakar."
Shen Ling merasa lega, dengan ada nya Api unggun maka dia bisa menghangatkan tubuhnya dan mengeringkan pakaiannya. "Yang mulia sampai kapan kita akan bersembunyi disini?"
Xuan Ye hanya tersenyum mendengarkan pertanyaan Shen Ling, "Sampai prajurit bayanganku datang, saat mereka datang berarti keadaan sudah aman dan kita bisa melanjutkan perjalanan, tetapi kita harus mengganti arah perjalanan kita aku tak mau kejadian seperti hari ini terulang kembali."
Kemudian Xuan Ye akhirnya bertanya pada Shen Ling, "Nona Shen, jika tidak keberatan aku ada pertanyaan untukmu? Bagaimana mungkin seorang putri bangsawan mempelajari keterampilan pria?"
__ADS_1
Shen Ling pun tertawa melihat ekspresi penasaran Xuan Ye, "Bukan hal besar Yang Mulia. Pasti yang mulia sudah mendengar mengenai adikku Shen Ming? sejak lahir Shen Ming sakit - sakitan, dahulu ayahanda memaksakan Shen Ming untuk berlatih kungfu, berkuda dan memanah. Ayah sengaja memanggilkan prajurit terlatih untuk mengajarinya secara langsung. Dan aku pun sering ikut berlatih, dan akhirnya Shen Ming tidak dapat mengikuti pelatihan dan akulah yang belajar seni bela diri itu."
Xuan Ye mencerna semua nya, dan akhirnya dia dapat memahami nya.
"Lalu dari mana kau mempelajari racun dan pengobatan? Jangan bilang bahwa kau juga mempelajarinya bersama Shen Ming?"
Shen Ling pun menjawab, "Betul yang mulia, karena Shen Ming. karena penyakit bawaan Shen Ming maka ayahanda mencari tabib paling sakti untuk menyembuhkannya. Tabib itu tinggal di kediaman Shen untuk merawat Shen Ming. Dan aku mempelajari pengobatan dan racun dari tabib Huan."
Akhirnya Xuan Ye mengerti semua nya ternyata tidak ada rahasia besar dibalik kemampuannya, "Kenapa Kediaman keluarga Shen merahasiakannya? Memang sangat jarang seorang wanita menguasai bela diri di kerajaan kita, tetapi tidak ada larangan juga tentang hal itu."
Shen Ling pun tersenyum sayu, "Demi adikku yang mulia. Kedua orang tuaku ingin menjaga nama baik adikku, sehingga orang luar tidak akan tahu bahwa adikku benar - benar lemah. Kebetulan setelah melahirkan Shen Ming, rahim ibu bermasalah jadi tidak memungkinkan untuk hamil kembali dan ayah ku tidak mau mengambil selir. Dia berkata hanya mencintai ibu ku saja di kehidupan ini."
Tanpa terasa hujan di luar sudah reda, Shen Ling pun berpakaian kembali, bersamaan dengan itu prajurit bayangan pun datang, "Lapor Yang Mulia, maaf kan kami penjahat yang tersisa berhasil meloloskan diri, kami gagal mengejarnya."
Xuan Ye berpikiran, bahwa orang ini sudah merencanakan segala sesuatu nya dengan matang. Itu arti nya mereka harus berhati - hati saat di kota Lin Man.
"Baiklah, kita lanjutkan perjalanan ke kota Lin Man dengan berputar melalui jalur selatan. Lalu sampaikan pesanku pada Adjudan Li bahwa semua rencana akan dilaksanakan terbalik."
"Baik Putera mahkota."
Setelah kepergian prajurit bayangan, mereka berdua melanjutkan perjalanan.
Di tengah jalan perut Xuan Ye berbunyi keras sekali, rupanya dia kelaparan karena belum makan apa pun seharian. Shen Ling tertawa mendengarnya, dari balik bajunya Shen Ling mengeluarkan dua buah kue camilan dan memberikannya pada Xuan Ye. "Ini makanlah, jika nanti kita menemukan kedai teh kita dapat membeli beberapa bakpao."
__ADS_1
Xuan Ye pun berpikir bahwa selama ini dia telah mencurigai Shen Ling secara berlebihan, ternyata Shen Ling tidak seburuk yang dia bayangkan.