Rembulan Pengganti

Rembulan Pengganti
Bab 8


__ADS_3

Shen Ling melangkahkan kaki di taman kecil istana Plum.


Tempat yang sangat indah dilengkapi dengan cahaya bulan yang sempurna serta angin malam yang sejuk.


Shen Ling merasa bahwa tidak ada orang lain disini, dengan ilmu meringankan tubuh Shen Ling terbang ke sebuah pohon besar dan bersandar di dahannya.


Kemudian dia mengeluarkan Seruling giok kecil miliknya, dan mulai memainkannya.


Alunan merdu pun terdengar, sangat pas dilantunkan di tempat seperti ini.


Shen Ling tidak menyadari bahwa sebuah jendela kamar terbuka dan putera mahkota telah mengamatinya semenjak dia datang ke istana Plum.


Putera mahkota sempat menanyakan alasan kenapa menempatkan Shen Ling di istana nya. Tetapi Ibunda nya hanya tersenyum tanpa ada kejelasan.


Tetapi melihat gadis itu bermain seruling seindah ini, rasa nya setimpal dengan membiarkannya tinggal di istana nya.


'Rupanya dia menguasai bela diri, berapa banyak rahasia yang kau sembunyikan nona Shen. Biarlah untuk malam ini aku tidak akan mengganggunya, aku akan mencari jawabannya sendiri.'


Kediaman Ibu Suri


'Pagi ini aku akan menuju markas buaya dan markas harimau, entah apa yang akan terjadi padaku.'


Sangat berat bagi Shen Ling untuk datang ke kediaman Ibu Suri, mengingat perlakuan Ibu Suri padanya dulu.


"Shen Ling mengucapkan salam untuk Yang mulia kaisar dan Ibu Suri, semoga panjang umur. Dan mengucapkan salam untuk para pangeran dan para Puteri, semoga panjang umur."


Setelah yang mulia mempersilahkan dirinya untuk bangun, semua orang berjalan menuju meja makan untuk sarapan bersama. Shen Ling menyadari bahwa hanya ada Huang Ro saja, dia teringat perkataan A Li semalam bahwa Puteri Xuan Nu sudah pergi ke negara Da Li untuk dinikahkan dengan pangeran Da Li.


Begitulah kerajaan, selalu menjadikan pernikahan sebagai senjata politik.


"Kenapa kau melamun Shen Ling? Apakah kau merasa canggung dengan suasana ini? Makanlah dengan santai" Perkataan kaisar bagaikan udara sejuk di suasana yang canggung ini.


"Tidak Yang Mulia. Hamba hanya merasa berbeda dengan hari - hari hamba sebelumnya."


Shen Ling menjawab dengan kikuk, dan kaisar pun tertawa.

__ADS_1


Dengan intonasi sinis Ibu suri pun menyindirnya, "Tentu saja berbeda, jika seekor angsa memaksakan menjadi phoenix maka ekornya pun akan ikut terbakar."


Perkataan Ibu Suri membuat suasana bertambah canggung.


Shen Ling pun berpura - pura tidak paham dengan maksud Ibu Suri. Dia hanya tersenyum polos, supaya suasana tegang kembali mencair.


Permaisuri pun angkat bicara, "Ibunda kenaoa Huang Ro tidak terlihat?"


"Huang Ro tidak enak badan, dia sangat terkejut dengan kehadiran seseorang yang tidak diharapkan."


sebuah pukulan di meja menyertai sindiran Ibu Suri


"Ibunda cukup, sudah habis kesabaran ku. Aku sudah kenyang."


Kaisar pun pergi dan meninggalkan semua nya di meja makan.


"Apakah Huang Ro benar - benar sakit nek?" Putera mahkota merasa cemas, Ibu Suri tersenyum lembut, "Xuan Ye jika kau kuatir, jenguklah kekasihmu itu, dia sangat terpukul dengan kedatangan orang dari luar istana, akh sepertinya aku harus melempar biji - bijian di sekitar kediamanku." (Melempar biji - bijian yang sudah disangrai berfungsi sebagai tolak bala).


Shen Ling sangat bingung apa yang harus dilakukan, seperti nya jika dia terus berada disini, Ibu suri akan mati ditempat.


Ibu Suri lalu menjawab "Baguslah, jika seseorang sudah menyadari statusnya, semua akan berjalan dengan baik dan aman."


Seketika perjamuan makan pagi akhirnya menjadi berantakan, dan semua orang kembali ke rutinitas masing - masing.


"Aku tidak akan mau mendatangi nenek tua itu lagi, nenek menyebalkan." Shen Ling terus menggerutu, dia langsung menyadari seseorang tertawa dibelakang nya.


Putera mahkota menertawai dirinya


"Ah ini.. itu .. A -apakah yang mulia mendengar perkataan hamba?" Keringat dingin mulai membasahi telapak tangan Shen Ling,


"Tidak kok, aku hanya mendengar nenek tua dan menyebalkan." putera mahkota tersenyum menyebalkan.


Keringat mengucur semakin deras di wajah Shen Ling


dan Putera Mahkota pun tertawa terbahak - bahak, "ekspresimu lucu sekali, tenang saja aku tidak akan menyampaikannya pada nenek."

__ADS_1


Shen Ling langsung tampak lega, 'putera mahkota ini pun juga sangat menyebalkan untuk apa dia mengerjai aku'


Sambil menyeka air mata yang keluar saat tertawa, dia pun berkata "Tenang lah, nenek memang seperti itu. Dia tidak menyukai orang baru, bersabarlah menghadapi nya."


Dengan senyum yang dipaksakan Shen Ling hanya bisa tersenyum "hamba mengerti, dan mohon undur diri."


Shen Ling melanjutkan perjalanannya kembali, tetapi putera mahkota terus saja membuntutinya


"Yang Mulia, apakah tidak ada pekerjaan yang harus anda selesaikan?" Shen Ling yang merasa risih karena dibuntuti akhirnya membuka suara dan berusaha berkata dengan setenang dan lembut.


"Iya, aku memiliki banyak pekerjaan yang menungguku di ruang baca. Aku harus segera menyelesaikannya dan melapor pada ayahanda kaisar."


Shen Ling hanya tersenyum dan mengangguk mendengar jawabannya. Kemudian dia berjalan kembali dan putera mahkota terus mengikutinya, sampai di istana Plum.


Dengan senyum yang dipaksakan Shen Ling pun berkata, "Terima kasih putera mahkota berkenan mengantar hamba. Tetapi seperti nya Yang mulia hanya dapat mengantar sampai sini saja. Tidak pantas jika para pelayan melihat dan bergosip."


Putera mahkota tertawa geli, "Nona Shen, jika aku terus bersama mu aku yakin akan panjang umur karena kau selalu membuatku tertawa. Mohon maaf jika membuatmu besar kepala tetapi aku tidak mengantarmu."


"Jika tidak mengantarku, lalu apa yang kau lakukan disini yang mulia?"


"Nona Shen Ling, bukankah aku tadi sudah mengatakannya, aku akan mulai bekerja di ruang baca ku. Dan sekarang kau menghalangi jalanku. Minggir lah dan biarkan aku lewat."


Shen Ling hanya berdiri kebingungan 'apa maksud ucapannya?'


Kemudian putera mahkota berbisik di telinga Shen Ling, "Kau akan ke timur dan aku akan ke barat, kita sudah berada dalam satu atap yang sama sejak semalam." Pipi Shen Ling merona, karena jarak dirinya dan Xuan Ye sangat dekat, bahkan aroma Cendana putera mahkota pun tercium oleh Shen Ling.


Bayangan dirinya semalam, menggunakan baju tipis, menggunakan ilmu meringankan tubuh dan meniup seruling di atas dahan pohon mulai teringat kembali. Wajahnya yang mulai panik sangatlah lucu, Xuan Ye terus menatap wajah malu - malu itu, kemudian melanjutkan berbisik kembali di telinga Shen Ling


"Apakah kau tidak ingat bahwa Rokmu tersingkap oleh angin ketika kau berada di atas dahan yang tinggi. Dan aku sangat berterima kasih atas pertunjukan semalam."


Kemudian putera mahkota berjalan memasuki istana Plum dan meninggalkan Shen Ling sendirian, tak lama kemudian terdengar teriakan Shen Ling


"Arghhhhhh"


Putera mahkota tertawa terbahak - bahak mendengar jeritan Shen Ling

__ADS_1


'Dia pasti malu sekali hahahahhaha.'


__ADS_2