
Raja Yun memanggil putera mahkota Yuan Cheng, "Cheng Er aku mengutus mu pergi ke negeri Ming lebih awal dan tinggallah disana lebih lama. Aku ingin kau menyelidiki tentang Puteri Tian Yu yang ditemukan Hok Ben."
Yuan Cheng sejak kecil selalu diceritakan kisah tentang runtuh nya kerajaan Tang, terutama mengenai hubungan baik raja Yun dan Raja Tang serta mengenai dirinya yang dijodohkan dengan Puteri Tian Yu, "Apakah ayahanda raja tidak percaya pada Hok Ben?"
Raja terdiam sesaat, pada jaman dahulu Hok Ben merupakan jenderal pelindung kerajaan yang kuat, tetapi semua orang tahu dia sangat berambisi untuk menjadi seorang raja. Sayang sekali dinasti Tang harus runtuh dan kesempatan Hok Ben menjadi raja pun sirna. Oleh karena itu, Hok Ben lah yang paling berambisi untuk menggulingkan negeri Ming, dia berharap dia akan menjadi raja berikutnya.
"Apa yang ingin ayahanda selidiki?"
Raja Yun sangat menyukai Yuan Cheng yang cepat tanggap, "Saat Puteri Tian Yu lahir aku sedang berkunjung ke negeri Tang, anak itu sangat unik, terdapat tanda lahir berbentuk bulan sabit di bahu kiri nya dan juga ada setitik tanda lahir merah di telapak tangan kanannya. Hanya sedikit orang yang mengetahui tanda titik merah ini."
Yuan Cheng langsung mengerti apa yang ayahanda nya ketahui, "Hamba mengerti ayahanda, hamba akan mencari tahu kebenaran yang sebenarnya."
Setelah Yuan Cheng hendak pergi, Raja Yun memanggilnya kembali, "Anakku jika memang perempuan yang ditemukan oleh Hok Ben bukanlah Tian Yu, maka biarkan saja. Kita akan menunggu waktu yang tepat, tetapi jika perempuan itu benar adalah Puteri Tian Yu maka aku harus membayar hutangku pada nya sebagai pengganti ayah nya yang telah wafat."
Yuan Cheng pun mengerti kemauan ayah nya, siang itu Yuan Cheng membawa sedikit anak buah dengan kemampuan tinggi. Dia tidak mau keberangkatannya mencolok, sehingga dia mudah bergerak.
Setiba nya di ibu kota Ming, Yuan Cheng tidak langsung menuju istana melainkan beristirahat sejenak di penginapan.
Di tempat lain, kapal yang mengurung Huang Ro pun mendarat, dengan mata tertutup Huang Ro dipaksa berjalan menuju kediaman Hok Ben, setelah mereka sampai barulah penutup kepala Huang Ro dilepas.
"Selamat datang Puteri Tian Yu, selamat datang di rumah barumu."
Huang Ro yang sudah muak dengan Hok Ben tidak pernah lagi menanggapi ocehannya.
"Tuan Hok Ben, aku akan bertanya satu hal padamu, keuntungan apa yang aku dapatkan jika aku membantumu? Dan bagaimana caraku membantumu?"
Hok Ben sangat senang mendengar itu, "Tuan Puteri yang mulia, tentu saja hamba dapat membantu Tuan Puteri untuk membunuh Kaisar Ming dan putera mahkota serta seluruh keluarga kerajaan yang anda benci. Hal itu sama saja anda membalaskan dendam keluarga anda yang telah mereka bantai."
__ADS_1
Huang Ro melirik dengan tajam, "Bagaimana cara nya? Apakah semudah itu membunuh mereka?"
Hok Ben tersenyum, "Tentu saja, mendiang ayah anda bersahabat sangat baik dengan negeri Yun. Mereka akan bersedia membantu kita untuk mencapai tujuan. Tetapi tuan Puteri, tentu nya ada persyaratan yang harus tuan Puteri hadapi."
"Apa itu?" Huang Ro sudah tidak ingin bertele - tele lagi.
"Persyaratan itu adalah anda harus memenuhi janji pernikahan dengan putera mahkota negeri Yun. Dengan begitu akan ada alasan kuat bagi kita untuk menghabisi kaisar Ming dan seluruh keluarga kerajaan. Hahahaha" Mata Hok Ben di penuhi dengan ambisi yang menakutkan. Dia sudah berencana jika Puteri Tian Yu menikahi putera mahkota Yun, maka posisi Raja yang kosong setelah melengserkan raja Ming akan dia tempati, sebuah rencana yang sangat mulus.
Huang Ro terus berpikir, saat ini dia sangat membenci seluruh kerajaan itu, dia ingin mencabik - cabik mereka dan membunuh mereka semua tak peduli dengan cara apa pun dia akan membalas penghinaan mereka. "Baiklah aku akan bekerja sama denganmu, tetapi ingat satu hal, biarkan aku yang membunuh Kaisar Ming dengan tanganku sendiri."
Senyum Hok Ben semakin melebar, "dengan senang hati tuan Puteri."
Istana Plum
Shen Ling bertemu dengan Xuan Ye, dia tahu bahwa Xuan Ye sangat sibuk keluar masuk istana untuk mencari Huang Ro. Shen Ling sangat bosan dalam istana, belum lagi para pelayan senior mengharuskan dirinya untuk belajar tata Krama istana yang membosankan.
Xuan Ye agak lama berpikir, dia mengkuatirkan luka Shen Ling, tetapi dia juga tahu bahwa Shen Ling pasti sangat lah bosan.
"Baiklah, tapi bawa a Li bersama mu dan jangan lupa membawa pil mujarab mu. Aku tidak bisa terus menerus mengawasi mu, jadi kau harus menjaga dirimu sendiri."
Shen Ling tertawa bahagia "Baik Yang mulia. Tunggu aku, aku akan berganti baju supaya mudah membaur dengan rakyat."
Tak lama setelah itu, Shen Ling pun pergi keluar, mereka berpencar. Shen Ling pergi ke arah pasar sedangkan Xuan Ye ke kantor kepala pengawal, merek berjanji akan bertemu di gerbang istana sebelum hari gelap.
Di pasar Shen Ling melihat - lihat banyak sekali asesoris lucu, sudah lama sekali dia tidak ke pasar dan tiba - tiba dia kangen dengan rumah. jika saat ini dia pulang ke rumah, dapat dipastikan ayahnya pasti marah besar. Tanpa seijin Kaisar, Shen Ling dilarang untuk keluar masuk istana seenaknya.
Hari sudah siang dan perut Shen Ling kelaparan, kemudian dia mengajak A Li untuk mampir ke salah satu restoran favoritnya.
__ADS_1
Saat sedang menunggu hidangannya datang, terjadi keributan di dalam restoran. Salah seorang tamu tampan tidak sengaja telah menyenggol seorang tamu lain yang berpenampilan seperti preman, dan preman tersebut tidak terima, awal nya mereka beradu mulut tetapi pria tampan itu tidak menghiraukannya dan terus melanjutkan makan siang nya.
Tiba - tiba preman tersebut melakukan kecurangan, dia melempar pisau ke arah pria tampan secara diam - diam.
Shen Ling dengan sigap melempar pisau miliknya untuk menghadang pisau tersebut.
Preman itu tidak terima "Siapa berani menantang ku?"
Shen Ling tahu dirinya tidak boleh menonjol, maka dia hanya diam dan menonton.
Kemudian pria tampan itu berdiri, "Sedari tadi aku sudah membiarkanmu pergi, tetapi kau terus mencari masalah. Apakah aku harus membunuhmu baru kau bisa diam?"
Preman tersebut sangat marah dan terjadilah perkelahian, rupanya pria tampan itu berilmu tinggi, dengan satu gerakan dia berhasil melempar preman itu keluar restoran.
tepuk tangan dan sorak Sorai para tamu lainnya terdengar. Preman itu pun pergi dengan wajah penuh dendam, kemudian pria tersebut mendekati Shen Ling, "Saya berterima kasih atas bantuan nona?"
Shen Ling segera menjawab, "Aku tidak melakukan apa pun."
Pria tersebut berjalan dan memungut pisau milik Shen Ling, kemudian membuka telapak tangan kanan Shen Ling dan meletakkan pisau itu di tangannya. Pria itu terkejut dan terdiam beberapa saat, Shen Ling yang merasa risih berusaha melepaskan tangannya.
"Tidak masalah, tidak perlu berterima kasih. Saya pamit dulu."
Shen Ling dengan segera pergi dari restoran itu, jika kabar tersiar bahwa tangan calon mempelai wanita dipegang oleh pria lain maka bisa terjadi bencana 'Lagi pula pria itu sangat aneh, lebih baik aku tidak mencari masalah.'
Yuan Cheng terkejut, tugas dari ayahanda nya yang dirasa sulit sekali ternyata sudah terpecahkan. Tanpa sengaja dia menemukan seorang wanita dengan tanda merah di telapak tangannya, tetapi dia masih harus memastikan tanda lahir bulan sabit di bahunya.
Dengan satu gerakan tangan anak buah nya mengerti bahwa dia harus mengikuti wanita itu.
__ADS_1