
Dalam perjalanan pulang, Shen Ling menyadari ada seseorang mengikutinya dan menyadari orang yang mengikuti nya tidak berbahaya, dia hanya akan mengawasi saja. Oleh karena itu Shen Ling tidak mengambil tindakan apa pun dan bersikap seolah - olah dia tidak tahu jika sedang diikuti.
Di sisi lain, para pangeran sudah berkumpul kembali dan melakukan perjalanan pulang.
"Adik keempat, apakah kau tidak merasa bahwa nona Shen tadi sama sekali tidak takut dengan pedang ketua pencuri tadi?" Perkataan putera mahkota memecah keheningan.
Pangeran keempat pun menimpalinya, "Betul kak, dia sama sekali tidak ada reaksi saat melihat pedang ketua pencuri itu. Jika seorang perempuan bangsawan lainnya, pasti akan berteriak atau memundurkan langkah kakinya atau bahkan menunduk ketakutan."
"Apakah kau tidak melihat reaksinya ketika kau bilang dia bau? Sangat lucu sekali, aku sampai tidak tega melihat dia kebingungan dan menciumi bau badannya sendiri." Putera mahkota tertawa terbahak - bahak, dan dia tidak menyadari bahwa dia sangat jarang tertawa seperti ini.
"Perempuan itu sangat berbeda, dalam dirinya terdapat sesuatu yang membuat seseorang tertarik padanya." Putera mahkota bergumam dengan tersenyum.
Pangeran keempat hanya melirik kearahnya, dan terkejut bahwa putera mahkota dapat membicarakan perempuan lain selain Huang Ro. Sudah bukan rahasia lagi jika putera mahkota sangat tergila - gila pada Huang Ro. Entah apa yang menarik dari wanita manja dan menyebalkan itu, bisa menyebabkan kakak pertama dan kedua nya bertengkar dan perang dingin sampai sekarang.
"Hey kakak, apa hebatnya perempuan kasar itu? Mungkin hanya kebetulan saja dia seperti itu. Menurutku tidak ada yang istimewa pada perempuan itu." Pangeran ketiga tidak pernah peka pada situasi.
Putera mahkota hanya tersenyum, dan mengajak mereka bergegas kembali ke istana. Tadi di pasar dia membeli makanan kesukaan Huang Ro, dan tak sabar untuk memberikannya pada Huang Ro.
Taman Bunga Istana
"Huang Ro, aku sudah kembali." Huang Ro yang sudah lama menunggu kepulangan putera mahkota tersenyum bahagia dan langsung dipeluk oleh putera mahkota.
"Putera mahkota apa kau merindukan hamba selama perjalanan?" Huang Ro pura - pura merajuk, dia sangat memahami bagaimana cara membuat putera mahkota semakin jatuh hati padanya.
"Tentu saja, lihatlah aku bahkan membelikan camilan kesukaanmu." putera mahkota memberikan bungkusan itu pada pelayan Huang Ro.
"Putera mahkota, apakah di kota memang sangat menyenangkan? aku belum pernah keluar istana kecuali diajak oleh Ibu Suri ke kuil untuk berdoa."
Putera mahkota pun berpikiran yang sama, Huang Ro sama sekali belum pernah melihat pasar di ibu kota dan tiba - tiba dirinya teringat pada Shen Ling, dua orang wanita ini sangatlah bertolak belakang.
"putera mahkota, ada apa? kenapa kau melamun?" Huang Ro memecah lamunan putera mahkota.
__ADS_1
"Hmm tidak, aku hanya berpikir di lain kesempatan aku akan mencari cara untuk mengajakmu, kita akan berjalan - jalan di pasar dan melihat pertunjukkan."
Mata Huang Ro berbinar - binar, "Benarkah yang mulia? Pasti sangat menyenangkan." Putera mahkota membelai lembut rambut Huang Ro dan memeluknya.
Mereka berdua tidak menyadari bahwa Kaisar sedang mengawasi mereka, bagaimana pun perlakuan Ibu Suri terhadap Huang Ro bagi Kaisar Huang Ro tetaplah seorang wanita yang tidak jelas. Jika putera mahkota hanya menjadikannya selir maka hal itu tidak masalah, tetapi jika putera mahkota menjadikannya Puteri mahkota hal itu akan menjadi masalah besar di kemudian hari.
'Secepatnya aku harus membicarakan ini dengan Permaisuri, dia pasti memiliki jalan keluar yang terbaik."
Kediaman Pangeran Keempat
"Ahui" Pangeran Keempat menyadari bahwa utusannya telah kembali.
Dalam sekejap sang prajurit bayangan pun hadir,
"Hamba yang mulia, hamba sudah selesai mengikuti nona Shen Ling pulang dengan selamat. Pangeran, seperti nya nona Shen Ling sudah menyadari bahwa dirinya diikuti oleh hamba."
"Apakah demikian? Aku pun yakin ada sesuatu yang disembunyikan gadis ini." Pangeran keempat merasakan ada sesuatu yang membuat gadis ini berbeda.
"Apakah hamba perlu mengawasinya?"
"Baik pangeran, hamba undur diri."
Pangeran keempat sedikit terkejut, bahwa Shen Ling bisa merasakan kehadiran Ahui. Memang Ahui bukanlah prajurit bayangannya yang paling ahli bela diri. Tetapi seharusnya, perempuan biasa tidak mungkin bisa merasakan kehadiran Ahui, kecuali jika dia memang bisa bela diri.
'Perempuan itu semakin menarik.' Gumam pangeran keempat.
Kediaman keluarga Shen
Shen Ming sudah menunggu kakak nya sedari tadi, dia sibuk mondar mandir di depan pintu, was was jika orang tuanya sudah pulang secara mendadak.
Tak lama kemudian Shen Ling pun pulang, "kakak ayo cepat ganti pakaianmu kak, sebentar lagi ayah dan ibu akan pulang."
__ADS_1
"Duh adik Ming, tenang saja kakak mu ini sudah berpengalaman. Lihat saja nanti aku sudah berada di aula keluarga dalam sekejap."
Benar saja, sesaat setelah Shen Ling selesai membenahi urusannya, orang tua nya telah kembali.
"Shen Ling hari ini kau tidak membuat onar kan?" Ibunda Shen Ling menatap tajam anaknya.
"Ananda tidak berani Ibu."
"Baguslah nak, kau sudah dewasa sekarang, sudah saatnya kau untuk menikah. Tidak baik jika kau terus menerus keluyuran, jika sampai terdengar keluar maka keluarga terpandang pun enggan untuk mengambilmu menjadi menantu mereka."
Seperti biasa, Shen Ling selalu menggerutu jika diceramahi tentang pernikahan. Dirinya masih belum bersedia untuk menikah, baginya terlalu cepat.
"Shen Ling! Dengarkan perkataan Ibumu!"
Suara perdana menteri menggelegar di ruangan itu.
"Tapi ayah, aku masih ingin di rumah menemani ayah dan ibu serta adik Ming."
Ibu Shen Ling hanya menggelengkan kepala nya mendengar jawaban palsu anakny, dia tahu seperti apa watak Shen Ling. Gadis tomboy itu masih ingin bermain seperti anak kecil.
lalu ibu nya pun berkata,
"Selesaikanlah sulaman mu Nak, kemudian bersiap untuk makan malam."
Shen Ming menatap penuh iba pada kakaknya, dia merasa beban yang diberikan oleh orang tuanya terlalu besar.
Sedari kecil Shen Ling sudah dipaksa untuk mempelajari semua keterampilan lelaki. Shen Ling hanyalah dijadikan pelampiasan oleh ayahnya, karena Shen Ming tidak dapat melakukan apa yang dikehendaki ayahnya.
Jangankan berlatih bela diri, untuk berlari kencang pun badannya tidak kuat.
Jadi menurutnya, sikap Shen Ling sekarang tidaklah mengherankan. Sedari kecil dia sudah menghilangkan sisi feminimnya, walaupun ibu mereka sudah merecoki Shen Ling dengan keterampilan wanita bangsawan, tetap saja Shen Ling lebih menyukai keterampilan laki - laki.
__ADS_1
Entah sampai kapan kakak nya itu akan berubah, mungkin jika nanti dia menemukan seseorang yang dapat membuatnya jatuh cinta, maka semua nya akan berubah.
Sebagai adik, dia hanya dapat mendoakan kebahagiaan kakak perempuannya itu.