
"Ibu Suri telah tiba." terdengar seorang Kasim memberi kabar kedatangan Ibu Suri di Taman Air Istana.
Seketika semua orang memberi hormat, tidak terkecuali Shen Ling.
"Nenek Kaisar, baru saja Xuan Nu hendak berkunjung. Tapi nenek ternyata datang kesini juga bersama kakak Huang Ro."
Xuen Nu selalu bersikap manja pada nenek nya.
"Hahaha cucu baik cucu baik. aku sangat suka jika kau datang mengunjungi ku. Kau sedang bermain dengan siapa?" Tanya Ibu Suri kepada Xuan Nu.
Shen Ling selalu mengingat pesan Ibu nya, bahwa tidak boleh berbicara jika tidak ditanya.
Terlebih lagi jika bertemu Ibu Suri, karena beliau memiliki aturan yang cukup ketat.
"Dia ini Shen Ling nenek, teman baru Xuan Nu."
salah satu alis Ibu Suri terangkat setelah mendengar jawaban Xuan Nu.
"Siapa kah kamu?" tanya Ibu Suri pada Shen Ling.
"Menjawab Ibu Suri, hamba Shen Ling Puteri pertama kediaman keluarga Shen"
Ibu Suri lalu tersenyum lebar, "Ternyata kau yang bernama Shen Ling. Pagi ini ada seekor burung datang ke tempatku, burung itu bercerita kalau kau akan dijodohkan dengan putera mahkota, benar begitu?."
Shen Ling menjawab dengan polos nya
"Hamba dan keluarga hanya datang berkunjung ke Istana dan tidak tahu menahu perihal itu Ibu Suri."
Sekilas Shen Ling melihat tatapan sinis dari Huang Ro, dan dia menyadari bahwa Huang Ro tidak menyukai kehadirannya.
"Sudahlah, aku hanya mengingatkan bahwa Bunga yang aku besarkan jauh lebih cantik daripada bunga dikediaman Shen, bukankah begitu Shen Ling?"
Shen Ling merasa terpojok, baru kali ini dia dibuly seperti ini.
Tiba - tiba pangeran keempat memotong pembicaraan
"Nenek Kaisar, hamba dan Shen Ling mohon diri, ayahanda kaisar sudah menunggu."
Shen Ling sangat lega mendengar hal itu, dia pun berpamitan pada Ibu Suri, dan berlari kecil mengejar pangeran keempat.
"Shen Ling mengucapkan terima kasih pada pangeran keempat."
__ADS_1
"Kau, berjalanlah lurus ke depan, setelah menemukan sebuah batu besar di depan sana berbelok lah ke kiri. Orang tua mu menunggu disana, aku yakin kau tidak bodoh untuk menemukan jalan pulang. Pulanglah, istana bukan tempat yang cocok untukmu."
Setelah mengucapkan itu pangeran keempat pun berlari ke arah lain dan menghilang.
Shen Ling menatap punggung pangeran keempat, "Terima kasih."
Lalu dia berlari ke arah yang ditunjukkan pangeran tadi, dan menemukan orang tua nya.
Dalam perjalanan pulang, Shen Ling tidak banyak berbicara dan membuat ibu nya heran
"Ling Er, apa yang terjadi padamu? Apakah terjadi sesuatu di taman air istana?"
"Tidak Bu, aku hanya berpikiran istana tempat yang menakutkan. Aku tidak mau ikut ke istana lagi."
Shen Miao hanya tersenyum mendengar hal itu, lalu diusapnya rambut Shen Ling dan memeluknya.
Istana Ibu Suri
Huang Ro sedang merajuk pada Ibu Suri, dia tidak rela jika Xuan Ye dijodohkan dengan Shen Ling. Jika Shen Ling benar - benar menikah dengan Xuan Ye, maka impian Huang Ro untuk menjadi Puteri mahkota akan hancur berantakan.
Huang Ro sangat menginginkan menjadi seorang Puteri mahkota, impian itu sudah ada sejak dulu.
"Sudahlah Ro Er, tak peduli dia menyukaimu atau pun tidak, yang penting aku sangat menyayangimu."
"Apakah aku memang tidak pantas untuk putera mahkota Nek?"
"Lancang, siapa yang berani berkata demikian. Lihat saja Ro Er, nenek akan menjadikanmu puteri mahkota."
Huang Ro sangat puas mendengar itu, 'Lihatlah nanti Shen Ling, hanya aku yang pantas menjadi Puteri mahkota.' batinnya.
7 tahun kemudian
kediaman keluarga Shen
"A Li, ayo dandani aku seperti biasa kita akan mengunjungi kedai teh yang baru buka itu, kata nya disana banyak berkumpul pria bangsawan tampan, aku sangat penasaran dengan tempat itu." Lagi - lagi Shen Ling membuat ulah, dia memaksa pelayannya untuk membantunya berjalan - jalan diluar rumah.
"Nona, ampuni hamba, hamba tidak berani lagi. apakah Nona masih ingat terakhir kali Tuan besar menangkap basah Nona bermain di pasar. Nona tidak boleh keluar kamar selama 1minggu, dan hamba tidak boleh memakan daging selama 1minggu. Itu sangat menyiksa, hamba tidak mau lagi membantu Nona besar." A Li, pelayan Shen Ling terus menolak permintaan majikannya itu.
"A Li, apakah aku masih majikanmu? Kau berani membantahku? Tenang saja untuk kali ini kita akan menyamar menjadi pria, jadi ayah pun tidak akan mengetahuinya." dengan bangga, Shen Ling mengeluarkan 2stel pakaian pria dan menyerahkannya pada A Li.
A Li yang ketakutan dengan ide gila majikannya hanya dapat mematuhinya, 'mati aku jika sampai Nyonya besar tahu, bisa dihukum berat aku' batin A Li.
__ADS_1
Setelah berdandan seperti pria, Shen Ling dan A Li pun pergi menuju kedai teh yang tersohor itu.
"Ingat kau harus memanggilku sebagai apa?"
Dengan keraguan A Li pun menjawab, "Tuan Muda"
"Bagus, tidak boleh ada kesalahan sedikitpun."
Pelayan kedai teh pun menyambut mereka, rupanya kedatangan mereka berdua di kedai teh itu bersamaan dengan kedatangan putera mahkota beserta pangeran ke tiga dan ke empat.
"Mohon maaf tuan - tuan, untuk ruangan VIP kami hanya tersisa satu saja. mohon salah satu rombongan mengalah dan bersedia duduk di ruangan lantai bawah."
"Lancang, apakah kau tidak tahu siapa kami?" pangeran ketiga sangat geram dengan ketidak sopanan pelayan itu.
"Adik sopanlah sedikit, mohon maaf Tuan apakah bersedia mengalah pada kami? adik - adik ku sudah lama ingin mengunjungi kedai teh ini, dan mereka tidak terbiasa dengan keramaian. Mungkin tuan muda bisa mengalah supaya tidak menyulitkan pihak kedai teh ini."
putera mahkota meminta Shen Ling untuk mengalah.
"Maaf tuan jika kami menyinggung anda, tetapi kami pun kemari untuk memesan ruang VIP yang katanya dapat melihat keindahan kota dari atas. Mohon pengertiannya." Shen Ling masih tidak mau mengalah.
Pangeran ketiga menjadi emosi melihat sikap keras kepala Shen Ling
"Sudahlah kak ayo kita pergi dari sini dan mencari tempat yang lebih baik."
Akhirnya rombongan para pangeran pun pergi, setiba nya di ruang VIP Shen Ling pun tertawa bahagia
"Apakah kau lihat ekspresi mereka? Sangat lucu sekali, akhh ini terlalu menyenangkan."
"Nona, jangan membuat hamba takut. Apakah Nona tidak melihat kualitas pakaian para tuan muda tadi, sepertinya mereka bukanlah bangsawan biasa."
"Iya kau benar A Li, mereka bukanlah tuan muda biasa, tapi tuan muda luar biasa tampan. apa kau lihat pemuda yang berpakaian biru tadi? Sangat tampan dan berkharisma, tidak rugi aku menyelinap keluar hari ini." Shen Ling tidak menyadari bahwa yang dia maksud adalah putera mahkota.
"Nona, tidak pantas Puteri bangsawan seperti nona berbicara seperti itu. jika terdengar oleh Nyonya besar bisa - bisa anda dihukum berat."
"Sudahlah, tidak perlu membesar - besarkan. Lagi pula hari ini aku berpakaian pria. Tidak akan ada yang menyadari kalau aku adalah perempuan."
Pandangan mata Shen Ling jatuh pada kerumunan dipojok kota.
" Ayo, segera kita kesana A Li."
Shen Ling segera meninggalkan kedai teh itu dan berlari menuju kerumunan, rupanya ada pertunjukkan silat. Dan ternyata rombongan pangeran pun juga berada disana menonton pertunjukkan itu.
__ADS_1