Rembulan Pengganti

Rembulan Pengganti
BAB 11


__ADS_3

Kaisar sangat marah, dia memerintah Xuan Er dan Xuan She untuk memeriksa kasus ini.


Perayaan yang semestinya membahagiakan justru berakhir berantakan. Tabib yang diperintahkan memeriksa Xuan Ye pun sudah selesai, beruntung pisau itu tidak dilumuri racun, jadi hanya tergores biasa.


Xuan Ye mencari sosok Shen Ling, tapi yang ada hanya Huang Ro yang terus saja mengoceh.


Akhirnya Xuan Ye berpamitan untuk kembali ke istana Plum.


Di istana Plum Xuan Ye melihat Shen Ling duduk termenung di atas batu.


Shen Ling yang merasakan kehadiran Xuan Ye segera berdiri dan menghampirinya, "Apakah lukamu tidak apa - apa? Te - terima kasih sudah menolongku."


Tanpa Xuan Ye sadari tangannya terangkat dan mengelus kepala Shen Ling, "Hanya luka kecil, aku pun berterima kasih kau sudah menyelamatkan Ayah Kaisar."


Shen Ling hanya menggelengkan kepala nya, dia merasa ceroboh tidak menyadari pisau terbang itu sebelumnya. "Lalu bagaimana dengan para penjahat itu? Apakah itu pemberontak yang dicari selama ini?"


Xuan Ye hanya mengangguk dan menjawab, "Biarkan para petugas yang menyelidikinya, ini sudah malam kau tidurlah."


Shen Ling merasa malam ini putera mahkota sangat berbeda, akhirnya dia mengangguk dan hendak kembali ke kamarnya, kemudian Xuan Ye memanggilnya kembali, "Shen Ling"


"Ya?"


"Jangan menari lagi di depan umum, aku tak suka semua mata lelaki memandang mu."


Pipi Shen Ling merona merah mendengarnya.


Dan dia berlari ke kamarnya karena malu, sesampainya di kamar dia segera mengganti baju nya dan naik ke tempat tidur.


Sudah beberapa lama dia berbaring tapi belum juga mengantuk, perkataan Xuan Ye kembali terbayang dalam pikirannya, dan membuatnya malu. Entah bagaimana Shen Ling merasa Xuan Ye hari ini berbeda.


Kedai teh Lin


"Bagaimana? prajurit yang kita kirim gagal juga, tapi mereka cukup tahu diri dengan meminum racun sehingga kita tidak ketahuan."


Seorang pria memulai percakapan.


Tiba - tiba dengan ilmu peringan tubuh yang handal seorang wanita tua pun telah sampai,

__ADS_1


semua para lelaki itu memberi hormat


"Salam Nyonya Rong."


Denga ilmu nya Nyonya Rong memukulkan sarung pedang nya ke lantai dan menimbulkan retakan dahsyat, "LANCANG! Siapa yang menyuruh kalian bertindak? Apakah kalian tahu akibat kebodohan kita Kaisar Ming memperketat penjagaan."


Mereka semua saling bertatapan lalu berkata, "Ampuni kami Nyonya Rong, kami hanya tidak sabar dan merasa saat perayaan adalah saat yang paling tepat."


Dengan sigap Nyonya Rong atau yang biasa dikenal dengan dayang Rong memukul orang itu, "Bodoh! Langkah yang akan kita ambil bukanlah langkah mudah. Dan kita harus menunggu persiapan dari Tuan Puteri."


Salah seorang dari mereka akhirnya berani berbicara karena penasaran,


"Nyonya Rong, sebenarnya siapakah tuan Puteri kami dan dimana dia berada?"


Nyonya Rong tersenyum datar, "Kalian tidak perlu ikut campur masalah tuan Puteri. Urus saja urusan kalian. Jika sudah saatnya semua pasti akan terbongkar. Saat ini kalian hiduplah seperti biasa."


Dengan serempak mereka berkata, "Baik Nyonya Rong."


Dan mereka pun menghilang ke arah masing - masing.


Huang Rong tampak kesal sekali, dia membanting semua perabotan di kamarnya.


Kemudian Ibu Suri yang mendengar kekacauan itu pun masuk, "Huang Ro ada apa ini?"


Huang Ro segera menangis dan berlutut, "Ibu Suri hamba mohon keadilanmu. Apakah Ibu Suri masih belum menangkap perlakuan Xuan Ye pada Gadis Shen itu? Sepertinya putera mahkota mulai menyukai gadis itu. Hamba harus bagaimana?


Ibu suri terdiam sesaat, sebetulnya Ibu Suri sudah sangat berterima kasih pada Shen Ling saat melihat gadis Shen itu melindungi Kaisar sampai tidak mempedulikan nyawanya sendiri. Jadi dia tidak terkejut jika Xuan Ye bersikap seperti itu pada Shen Ling.


Tapi di satu sisi dia juga mengerti perasaan Huang Ro, "Gadis bodoh, bukankah wajar jika lelaki memiliki selir. Kau tetaplah yang akan dijadikan Puteri mahkota. Untuk apa lagi dirimu bersedih?"


Huang Ro pun terdiam, "Benarkah Ibu Suri? Apakah Xuan Ye akan tetap mencintaiku dan hanya sebatas ingin menjadikan gadis Shen itu sebagai selir?"


Ibu Suri dengan tenang menjawab, "Tentu saja."


Lalu memerintahkan para pelayan untuk membereskan kamar Huang Ro yang berantakan.


Di sisi lain, Huang Ro yang merasa tersaingi mulai timbul rasa benci pada Shen Ling.

__ADS_1


Untuk sekarang dia masih bisa terima. Tetapi jika Shen Ling berani melangkah lebih jauh, Huang Ro tidak akan tinggal diam.


Keesokan harinya Xuan She datang ke istana Plum untuk mengunjungi Xuan Ye, mereka berdiskusi mengenai para pemberontak itu.


Xuan She merasa komplotan mereka pasti masih berkeliaran di istana, berarti ada mata - mata di antara prajurit atau pun pelayan istana.


Tanpa sengaja Shen Ling berjalan ke arah mereka, setelah memberi salam dia hendak pergi dari tempat itu. Tiba - tiba kepergiannya dicegah oleh Xuan She, "Nona Shen apa kabarmu? Aku sangat berterima kasih kau telah melindungi ayahanda Kaisar."


Shen Ling hanya menggeleng kecil, "Sudah menjadi kewajiban untuk melindungi Yang Mulia Kaisar. Pangeran keempat apakah sudah menangkap komplotan mereka?"


.


"Belum Nona, sangat sulit untuk menemukan jejak mereka. Mereka sangat rapi dalam bertindak."


Shen Ling pun paham, para pemberontak pastilah bukan kelompok orang sembarangan. Mereka berani menyerang Kaisar secara terang - terangan menandakan nyali mereka sangatlah besar.


Saat mereka sedang asyik mengobrol


Huang Ro datang ke istana Plum, Xuan Ye berbinar melihat kedatangan Huang Ro.


"Kenapa kau kemari? Bukankah istana ini terlalu jauh dari kediaman ibu Suri?"


Huang Ro tersenyum lembut pada Xuan Ye, "Hamba membawakan sup ayam ginseng, berharap Yang Mulia cepat pulih. Tugas seorang putera mahkota sangatlah banyak, yang mulia harus menjaga kesehatan.


Ternyata ada Nona Shen di sini, Nona Shen apa kabarmu? Penampilanmu kemarin sangat memukau." Huang Ro tampak tersenyum lembut, Xuan Ye sangat senang Huang Ro ternyata wanita yang pengertian dan tidak cemburu pada Shen Ling.


Shen Ling terkejut dengan perubahan sikap Huang Ro padanya, jangankan menyapa dirinya, menatapnya saja Huang Ro tak sudi.


Mungkin ini saatnya mereka bisa berdamai, dengan senyum lembut Shen Ling pun membalas sapaan Huang Ro.


"Terima kasih atas perhatian nona Huang Ro, hamba baik - baik saja. Anda terlalu memuji hamba, permainan kecapi nona juga tidak tertandingi, hamba yakin di penjuru negeri ini tidak ada yang bermain kecapi sehebat anda."


Huang Ro tersenyum penuh makna, "Putera mahkota, bagaimana jika sore ini kita berempat berkuda? Apakah lukamu akan baik - baik saja?"


Xuan She menjawab dengan ketus, "Bagaimana mungkin akan baik - baik saja. Kakak jangan hiraukan dia."


Xuan Ye berpikir saat seperti ini jarang terjadi, "Baiklah kita berkuda santai saja, tidak perlu berlomba cukup hanya memutari taman saja."

__ADS_1


__ADS_2