
Keesokan harinya Kaisar mengadakan perjamuan makan siang, seluruh anggota kerajaan termasuk Shen Ling diminta untuk hadir.
Sejak insiden penyerangan Kaisar, ibu suri menjadi lebih lunak terhadap Shen Ling, dia sangat berterima kasih karena Shen Ling sudah menyelematkan Kaisar dari pembunuh.
Permaisuri menatap kedua mata Shen Ling yang membengkak dan bertanya, "Shen Ling apakah kau habis menangis? Kenapa kedua matamu membengkak?"
Shen Ling terkejut karena permaisuri menyadarinya, "Menjawab yang mulia, ini karena hamba kurang tidur, semalam tidur hamba diganggu oleh seekor nyamuk, nyamuk itu sangatlah berisik seakan - akan mengomel terus."
Xuan Ye melirik sekilas ke arah Shen Ling, 'Gadis kurang ajar, dia menyamakan diriku dengan nyamuk pengganggu.'
Ibu Suri yang mendengar itu tampak kuatir, "Dayang Rong, ambilkan kelambu kualitas terbaik dan kirimkan ke istana Plum timur. Dengan begini tidak akan ada nyamuk yang mengganggu nona Shen."
Shen Ling segera berterima kasih atas perhatian ibu suri.
Di sisi lain, Huang Ro tidak suka dengan suasana ini, 'Apa hebatnya perempuan itu, kenapa dia bisa mendapatkan perhatian dari seluruh anggota kerajaan.'
Tanpa sengaja Huang Ro menggigit bibirnya sendiri, sontak Xuan Ye langsung memberi perhatian padanya.
Kaisar yang melihat hal ini menjadi tidak suka dan berusaha mengalihkan perhatian putera mahkota, "Putera mahkota apakah kau sudah mempelajari kasus banjir di kota Lin Man?"
Xuan Ye pun menjawab, "Laporan terakhir yang hamba baca banjir itu belum lah reda, korban semakin bertambah banyak Yang Mulia."
Kaisar pun berpikir keras, banjir kota Lin Man memang tidak dapat disepelekan, kota itu dekat dengan Muara sungai, dan hujan terus menerus turun sehingga air sungai terus naik.
__ADS_1
Tiba - tiba Shen Ling bergumam, "Apakah tidak ada sesuatu yang bisa membendung air itu?"
Kaisar yang tidak sengaja mendengar gumamam Shen Ling pun tertarik dengan perkataannya.
"Berbicaralah yang jelas nona Shen."
Shen Ling pun terkejut, dia tahu bahwa wanita dilarang keras untuk ikut campur dalam masalah kerajaan, terlebih lagi memotong pembicaraan Kaisar, "Hamba mohon ampun Yang Mulia. Secara tidak sadar hamba sudah memotong pembicaraan Yang Mulia dan Putera mahkota."
Kaisar hanya tersenyum melihat kelakuan Shen Ling, "Cepat ulangi perkataan mu barusan secara jelas, aku ingin mendengarnya."
Dengan ragu - ragu Shen Ling pun berbicara, "Menjawab yang mulia, hamba hanya berpikiran kota Lin Man dekat dengan Muara Sungai, jika hujan besar turun dan air sungai naik maka kota Lin Man pasti akan banjir kembali. Daripada kita terus menerus memusingkan bantuan dan pengungsian rakyat, kenapa kita tidak mencegah luapan air sungai mengalir ke kota Lin Man sehingga kejadian tidak akan terulang kembali?"
Kaisar dan para pangeran terkejut mereka tidak pernah memikirkan hal itu, lalu kaisar meminta Shen Ling melanjutkan kembali rencana nya.
"Hamba hanya berpikir jika kita menaikkan tanah dipinggir muara sungai, maka ketika air sungai naik dia tidak akan mengalir keluar."
Shen Ling tersenyum mendengar hal itu, "Kita bisa membuat pipa bambu di beberapa titik tembok itu sehingga air akan tetap keluar, dan untuk bagian sungai yang dirasa tidak membahayakan desa kita dapat membiarkannya terbuka sehingga rakyat masih dapat mandi disana dan memperoleh akses air untuk mengairi sawah dan ladang."
Sesaat mereka semua terdiam lalu Yang Mulia Kaisar tertawa, "Ini rencana yang bagus sekali Shen Ling, lalu bagaimana mengatasi rakyat yang sudah terlanjur menjadi korban?"
Shen Ling dulu sudah sering mendengarkan cerita ayahnya, bahwa setiap bantuan bencana pasti tidak akan sampai sesuai dengan jumlah,
"Yang mulia, hamba rasa yang mulia harus mengganti seluruh orang yang mengatur bahan pangan untuk bencana alam. Gantilah dengan orang yang benar - benar jujur dalam hal ini. Karena dalam pengiriman bahan pangan seperti ini pasti ada sekelompok orang yang mengambil keuntungan.'
__ADS_1
Huang Ro sangatlah kesal melihat Kaisar dan para pangeran mengagumi Shen Ling, akhirnya dia pun bersuara, "Jika itu terlihat mudah bagi nona Shen kenapa nona Shen tidak mengurus masalah ini secara langsung?" sindiran halus Huang Ro tidak mempan terhadap Shen Ling, "Puteri Huang Ro, hamba hanyalah seorang wanita, mana mungkin hamba ikut campur dalam permasalahan pejabat."
Kaisar pun berpikir demikian, dia ingin sekali melihat apakah rencana Shen Ling akan berhasil, "Xuan Ye, pergilah bersama dengan Shen Ling ke kota Lin Man dan bawalah beberapa pejabat yang kau percayai untuk mengurus masalah bendungan di muara sungai. Dan Xuan Er serta Xuan She kau bertugas mengurus bantuan pangan serta obat - obatan untuk korban bencana."
Mereka semua saling memandang, Shen Ling tercengang mengetahui bahwa Yang Mulia percaya dengan rencana nya. "Kami laksanakan Yang Mulia."
Dan mereka pun melanjutkan acara makan siang.
Tangan Huang Ro bergetar menahan amarahnya, dia sangat kesal dengan keputusan Kaisar. Ibu suri diam - diam menggenggam tangan Huang Ro dan menenangkannya.
Setelah perjamuan selesai Xuan Ye mengejar Huang Ro, "Tunggu dulu Huang Ro. Dengarkan aku dulu."
Xuan Ye menangkap tangan Huang Ro dan memeluknya, "Aku tahu kau marah, tenanglah tidak terjadi apa - apa antara aku dan Shen Ling."
Huang Ro bertambah marah dan memukul dada Xuan Ye, "Lihatlah sekarang kau pun lancar menyebut nama nya. Hamba tau yang mulia menyukai Shen Ling."
Xuan Ye terus memeluk Huang Ro, "Tidak akan, aku berjanji padamu aku tidak akan menyukai gadis Shen itu, Di mata ku dia tidak pernah berarti apa pun, dan untuk perjalanan ini aku hanya menganggapnya sebagai rekan kerjaku saja, tidak lebih dari itu."
Dari sudut pandang nya Huang Ro melihat kehadiran Shen Ling, lalu dia menarik Xuan Ye mendekat lalu mencium bibirnya. Xuan Ye yang awal nya terkejut pun tersenyum melihat keberanian Huang Ro dan memperdalam ciumannya.
A Li yang menyaksikan itu segera menutup matanya karena malu, sedangkan Shen Ling hanya bisa berdiri mematung melihat ciuman mereka berdua. Setelah Xuan Ye melepas Huang Ro, dia melihat Shen Ling berdiri menatap merek berdua dengan pandangan terluka. Entah kenapa hati Xuan Ye menjadi tidak enak, dia merasa menyesal dan terbebani dengan kata - kata yang dia ucapkan pada Huang Ro.
Shen Ling pun pergi dengan langkah cepat meninggalkan mereka berdua, ketika Xuan Ye hendak mengejarnya tiba - tiba tangannya ditarik oleh Huang Ro dan mencegahnya untuk mengejar Shen Ling, "Mohon putera mahkota mengingat janji yang mulia."
__ADS_1
Xuan Ye hanya bisa terdiam, dalam hatinya bingung untuk memilih dua wanita itu. Tiba - tiba Huang Ro memeluknya, "Hamba selalu mencintai yang mulia putera mahkota."
Satu kalimat itu membuat hati Xuan Ye menjadi berat sebelah dan tetap memilih Huang Ro.