Rembulan Pengganti

Rembulan Pengganti
BAB 32


__ADS_3

Di dalam kamar nya, Yuan Cheng tampak bahagia mengingat pertengkaran antara Xuan Ye dan Shen Ling. Tiba - tiba sebuah anak panah melesat ke arahnya, Yuan Cheng pun mengelak dan anak panah tersebut menancap di pilar kamar nya.


Yuan Cheng mengambil surat yang terikat di anak panah tersebut, dan membaca nya.


Yang Mulia


Tolong bantu lah kami untuk mengembalikan kejayaan dinasti Tang kami.


Kami dengan bantuan Puteri Huang Ro yang tak lain adalah Puteri Tian Yu kami, sudah berhasil membunuh Kaisar Ming terdahulu.


Kini saat nya kami bertindak untuk melawan pemerintahan saat ini.


Mohon ingatlah hubungan anda dengan Puteri Tian Yu yang terikat pertunangan.


Hok Ben


'Cih, Hok Ben berani nya dia memerintah ku. Dia begitu bodoh sampai tidak mengetahui bahwa Puteri Tian Yu yang dia maksud adalah Puteri palsu.'


Salah satu pengawal kepercayaan Yuan Cheng pun penasaran kenapa tuannya tidak pernah menemui Hok Ben, padahal sang Kaisar sudah memerintahkan untuk menemukan putri Tian Yu.


"Yang mulia, apakah anda tidak penasaran dengan Puteri Tian Yu ini? Kenapa yang mulia sama sekali tidak menemui atau pun membalas pesan Hok Ben?"


Yuan Cheng pun tersenyum, "Karena aku tidak pernah tertarik dengan orang bodoh."


Yuan Cheng pun membakar pesan dari Hok Ben, kemudian meniupkan kertas yang sudah menjadi abu itu.


-


-


Seorang wanita terjaga dalam kamar nya, dia memegang sebuah giok berharga milik Dinasti sebelumnya, tak lain wanita itu adalah Nyonya Rong yang tampak gelisah dalam ruangannya.


Nyonya Rong teringat saat sang permaisuri Dinasti sebelumnya menitipkan giok tersebut serta bayi nya.

__ADS_1


Nyonya Rong selalu mengingat pesan sang permaisuri agar dia menjaga tuan Puteri nya dan menjauhkan nya dari segala urusan kerajaan. Tetapi kini hubungan Puteri Tian Yu dengan Xuan Ye semakin runyam.


Jika dia membuka rahasia identitas Puteri Tian Yu pada Shen Ling, pasti berita itu akan tersebar hingga telinga Hok Ben. Nyonya Rong sudah tidak mempercayai pria tamak itu, kemarin dia dan A Du melihat sendiri Hok Ben telah tidur bersama dengan Huang Ro di istal kuda. Dia tidak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada tuan Puteri nya jika sampai jatuh pada tangan Hok Ben.


Di lain pihak putera mahkota Yuan Cheng pun seperti nya menaruh hati pada Puteri Tian Yu yang tak lain adalah Shen Ling.


'Ya Dewi, apa yang harus hamba lakukan, mohon dewi melindungi Puteri Tian Yu dan lancarkanlah segala urusannya.'


Nyonya Rong saat ini hanya bisa berdoa, dia akan mengikuti arus perkembangan.


-


-


Beberapa hari kemudian, Hok Ben menyuruh Huang Ro untuk berusaha kembali ke istana.


Seorang anak buah Hok Ben sudah menerima kabar bahwa kesehatan ibu Suri yang kini sudah berstatus nenek Suri sudah membaik dan siang itu dia akan berdoa di kuil. Hok Ben mengambil kesempatan itu untuk mempertemukan Huang Ro dengan ibu Suri.


Hok Ben menyuruh Huang Ro menggunakan pakaian lusuh dan menempelkan beberapa noda darah ayam pada pakaiannya, kemudian dimulai lah drama antara Huang Ro dan anak buah Hok Ben.


Teriakan Huang Ro sampai pada telinga nenek Suri yang sangat merindukan suara Huang Ro.


"Dayang Rong.. Itu suara Huang Ro! Pengawal!! Pengawal!! Lekas lihat apa yang terjadi!!"


"Siap nenek Suri"


beberapa pengawal melihat Huang Ro yang dikejar beberapa orang bandit. Seorang pengawal pun bergegas melapor pada tuannya.


"Lapor nenek Suri, itu memang nona Huang Ro, tampak nya dia sedang dikejar oleh penjahat."


Nenek Suri menjadi panik, "Apa yang kalian tunggu!! Cepat selamatkan dia!! Selamatkan dia!!"


Para pengawal segera bertarung untuk menyelamatkan Huang Ro, anak buah Hok Ben merasa ikan sudah memakan umpan yang ditebar, akhirnya pergi melarikan diri.

__ADS_1


Pengawal pun memapah Huang Ro untuk menemui nenek Suri.


Huang Ro hanya menangis dan terus bersimpuh di depan nenek Suri.


"Angkat kepala mu." Nenek Suri berusaha terlihat tegas, dia masih ingat betapa kejam nya Huang Ro saat menusuk anak nya sampai mati.


"Ha-hamba menghadap ibu Suri. semoga ibu Suri panjang umur." Huang Ro menghadap dengan penampilan yang berantakan, membuat nenek Suri menjadi iba.


"Aku sudah bukan lagi ibu Suri. Kini Xuan Ye sudah naik takhta, kedudukan ku sudah tidak lebih dari seorang nenek. Terima kasih padamu telah membuat nenek ini kehilangan putera kesayangannya!" Tangis nenek Suri pun pecah, mengingat peristiwa pembunuhan tersebut.


Huang Ro pun ikut menangis, dia berusaha memegang kaki nenek Suri, tetapi dihadang oleh dayang Rong, "Ampuni hamba! Ampuni hamba! Hamba terpaksa melakukannya. Jika hamba tidak melakukan nya, maka hamba akan di bunuh dan mayat hamba akan menjadi makanan serigala di hutan. Ampuni hamba yang pengecut ini ibu Suri! Ampuni hamba!!"


"Apa maksudmu? Apakah darah yang menempel di tubuh mu ini karena mereka menyiksamu dengan kejam?" nenek Suri mulai percaya pada perkataan Huang Ro.


Huang Ro pun menangis dengan lebih keras, "Betul ibu Suri. Setiap hari hamba selalu disiksa, bahkan terkadang hamba tidak diberi makan dan minum. Hari - hari hamba bagaikan hidup di neraka, Terima kasih ibu Suri telah menolong hamba."


Ibu Suri menjadi iba, "Bangunlah anakku! Bangunlah, duduklah di samping ku, dan ceritakan semua nya pada nenek ini."


Huang Ro menghapus air mata di pipinya, dan berjalan mendekati ibu Suri, "Ketika aku diculik, ternyata mereka adalah para pemberontak, hamba disiksa supaya mau bekerja sama dengan mereka. Mereka membutuhkan seseorang yang dekat dengan keluarga kerajaan supaya bebas keluar masuk istana."


Ibu Suri pun menghapus air mata yang kembali mengalir pada pipi Huang Ro, "Karena itu kah mereka menyekap mu dan memaksamu untuk membunuh kaisar saat itu?"


Huang Ro mengangguk dan memeluk nenek Suri, "Hamba sangat ketakutan! Mereka bahkan berniat memotong jari, tangan serta serta kaki hamba."


Ibu Suri hanya memeluknya, dan mereka pun menangis bersama,


"Huang Ro ku sayang, sudahlah berhenti menangis, kau sudah aman nak. Kau aman bersamaku. Kembalilah ke istana denganku. Pertemuan kita adalah takdir nak."


Huang Ro hanya menggelengkan kepala nya, "Hamba tidak punya muka untuk bertemu anggota kerajaan. Mereka pasti belum bisa memaafkan hamba."


Nenek kaisar menjadi kesal, "Pehh!! Jangan dikira karena aku sudah cacat tidak bisa berjalan, maka merek bisa menginjak - injak aku dan orang ku. Kau tenang saja Huang Ro, aku akan melindungimu! kau hanya perlu mengaku dan meminta maaf pada anggota kerajaan, sisa nya serahkan padaku."


Huang Ro pun memandang kaki nenek Suri, "Apakah kaki Ibu Suri terluka? Kenapa anda berkata bahwa anda tidak bisa berjalan?"

__ADS_1


ibu Suri menggenggam tangan Huang Ro, "Sejak kematian puteraku, aku menjadi sangat stres, banyak tekanan bertubi - tubi membuat tubuhku tak kuat, sehingga tabib istana menyatakan jika aku tidak dapat berjalan lagi."


Huang Ro memeluk nenek Suri dengan erat, mereka berdua akhirnya menempuh perjalanan menuju istana.


__ADS_2