Rembulan Pengganti

Rembulan Pengganti
BAB 7


__ADS_3

Shen Ling melotot pada wanita dengan pakaian mencolok itu, "Seharusnya kau meminta maaf pada ibu anak itu."


Wanita itu hanya melirik padanya dan tersenyum sinis, ketika dia hendak melangkah


terdengar suara memanggilnya, "Huang Ro ada apa? Kenapa disini ribut sekali? Ini aku bawakan bakpao mu." Suara itu berasal dari putera mahkota.


Shen Ling pun baru menyadari wanita mencolok itu adalah cucu angkat ibu suri, Huang Ro.


Huang Ro dengan pakaian mewah dan mencolok datang ke festival rakyat, entah apa yang ada dalam pikirannya.


Tanpa sadar, ada seseorang yang memberi Shen Ling jubah besar, ketika Shen Ling menoleh ternyata pangeran keempat.


Putera mahkota pun menyadari kehadiran Shen Ling, "Nona Shen, anda juga ada disini, eh kenapa anda basah kuyup?"


Huang Ro pun menarik lengan baju putera mahkota, "Hamba tak sengaja tertabrak anak itu, dan anak itu jatuh ke dalam sungai. Hamba sudah berusaha hendak menolongnya. Apa daya pelayan hamba terus memegangi hamba supaya tidak ikut melompat ke dalam sungai. Hamba sangat kuatir pada anak itu. "


Huang Ro memeluk putera mahkota dengan erat.


Shen Ling terkejut mendengar hal itu, "Yo nona besar, kau lah yang menabrak anak itu sampai terjatuh ke sungai, kau belum meminta maaf pada nya, sekarang berani mengarang cerita bohong."


Ibu sang anak sudah menarik Shen Ling untuk tidak usah memperpanjang masalah.


Huang Ro pun naik pitam mendengar ucapan Shen Ling tetapi putera mahkota ada disini dan dia tidak boleh sembarangan, tiba - tiba air mata Huang Ro pun mengalir, "Aku benar - benar minta maaf, iya sudah aku yang salah semua adalah salahku."


Putera mahkota memeluknya, "Sudahlah, pengawal beri beberapa koin pada ibu anak itu sebagai permintaan maaf. Dan nona Shen kau tidak perlu membesar - besarkan masalah. Semua sudah berlalu."


Shen Ling semakin merasa kesal, tetapi ibu anak itu memegang nya, menyuruhnya untuk tenang "Saya tidak apa - apa nona. Yang penting anak saya selamat. Itu sudah lebih dari cukup."


Kemudian pangeran keempat pun menimpali, "Pulanglah atau kau masuk angin."


Shen Ling sangat kesal pada semua orang, seolah - olah dia menjadi kambing hitam. Orang - orang disana tidak ada yang berani berbicara karena melihat status dari Huang Ro.


Dengan sangat kesal Shen Ling langsung pergi diikuti oleh pelayannya.


Sesampainya dirumah Shen Ling langsung masuk kamar dan membanting pintu nya. A Li memasak air hangat untuk mandi nona nya.

__ADS_1


Di dalam bak mandi, Shen Ling masih juga menggerutu, "Ada apa dengan semua orang? Kenapa mereka membela penjahat? Kenapa semua jadi aku yang salah dan terkesan berlebihan. Argghhh.. Aku kesal sekali?!"


A Li juga ikut sedih, nona nya diperlakukan seperti itu, padahal nona besar sampai melompat ke dalam sungai untuk menolong anak itu.


"Nona, besok di istana harus berhati - hati pada nona Huang Ro. Dia sangat licik."


Shen Ling pun berpikir demikian, dia hampir saja lupa bahwa dirinya akan memasuki istana. Di istana dia berencana akan menghindari Huang Ro.


Di tempat lain, pangeran keempat dan putera mahkota dalam perjalanan pulang, mereka berkuda berdampingan. "Adik keempat, apa yang sebenarnya terjadi di tempat tadi?"


pangeran keempat menjawab dengan acuh "Tidak ada yang spesial kak, hanya nona keluarga Shen menunjukkan sifat heroiknya, menolong anak kecil yang terjatuh ke sungai."


Putera mahkota tidak habis pikir kenapa dia tidak meminta tolong pada orang lain saja, apakah gadis itu tidak berpikir kalau air sungai sedang sangat dingin di malam hari. Apakah dia baik - baik saja, badan sekurus itu pasti menggigil kedinginan.


Tapi dia lega melihat Huang Ro baik - baik saja.


"Sudahlah ayo kita segera kembali ke istana."


2 hari kemudian


ketiga wanita anggun itu mempersilahkan Shen Ling untuk berdiri.


Yang mulia kaisar memasrahkan segala urusan Shen Ling pada istana para wanita.


Permaisuri membuka pembicaraan,


"Shen Ling, mulai sekarang kau akan tinggal di istana Plum timur. Pelayanmu boleh kau bawa, selebihnya kami sudah menyiapkan pelayan lain untuk membantu keperluanmu. Semestinya kau sudah tahu, bahwa aturan istana sangatlah ketat, jika kau memiliki urusan atau membutuhkan sesuatu kau bisa menyampaikan pada para pelayan atau pun Kasim yang bertugas. Seharusnya semua aturan dasar istana kau sudah mempelajarinya di kediaman Shen, bukankah begitu?"


Dengan tetap menunduk Shen Ling menjawab, "Hamba mengerti yang mulia permaisuri, di kemudian hari tidak akan menjadi beban bagi yang mulia."


Permaisuri sangat puas dengan tata cara dan perilaku Shen Ling.


Gadis itu tumbuh dengan sangat cantik, matanya yang jernih dan bulat menampilkan kecerdasannya.


"Yang mulia, bukankah lebih baik nona Shen beristirahat terlebih dahulu. Biarkan dia beradaptasi dengan lingkungan barunya." Selir Wan benar, pastilah berat secara tiba - tiba harus jauh dari keluarga dan tinggal di istana seorang diri.

__ADS_1


Akhirnya permaisuri mengakhiri pertemuan,


"Baiklah, cukup untuk perkenalannya, beristirahatlah di kamarmu. Kasim Tjen antar nona Shen Ling menuju kamarnya, dan jelaskan batasan mana yang boleh dikunjungi dan mana yang tidak boleh."


Setelah Shen Ling pergi, para selir dan permaisuri membicarakan kecantikan Shen Ling. Rumor mengatakan bahwa Shen Ling orang yang ceroboh dan tomboi, ketika melihatnya secara langsung seperti nya isu tersebut tidak lah benar.


Istana Plum Timur


"Nona, istana ini sangatlah indah, nona pasti betah disini. Tetapi apakah istana ini tidak terlalu besar untuk tamu?"


perkataan A Li memang benar, ketika menginjakan kaki di depan istana Plum timur, Shen Ling menyadari bahwa jalanan bercabang dua, kamar Shen Ling terdapat di bagian timur dan satu kamar lainnya di bagian barat.


'Mungkin kamar di sisi barat merupakan kamar Puteri Xuan Nu.' batinnya.


Hari sudah senja, para pelayan mengantar makanan langsung ke kamar Shen Ling


"Nona besar, kami diminta menyampaikan bahwa besok pagi Nona tidak boleh lupa untuk memberi salam pada Ibu Suri dan Yang mulia Kaisar."


"Baiklah aku mengerti, terima kasih."


Para pelayan sangat terkejut dengan kesopanan Shen Ling. Biasa nya para wanita bangsawan yang diundang masuk ke dalam istana selalu bersikap sombong, jangankan ucapan terima kasih, terkadang para pelayan tidak pernah dianggap sebagai manusia.


Shen Ling menatap makanan yang telah tersaji, 'makanan istana memang berbeda, aku sangat lapar.'


"A Li ayo kita makan, kenapa kau terus berdiri di sana?" Shen Ling terkejut dengan perubahan sikap pelayannya.


"Maaf nona, tetapi Kasim Tjen sudah menyampaikan bahwa pelayan dan majikan tidak boleh makan di satu meja."


Shen Ling memutar bola matanya, 'aturan yang menyebalkan,inilah kenapa aku tidak suka dengan aturan istana.'


Setelah perutnya terisi penuh Shen Ling melangkahkan kaki ke luar, "Aku akan berjalan - jalan di sekitar sini."


"Jangan jauh - jauh nona, dan cepatlah kembali."


"Aku tahu."

__ADS_1


__ADS_2