Rembulan Pengganti

Rembulan Pengganti
BAB 30


__ADS_3

Shen Ling menangis sepanjang jalan pasar malam tersebut, beberapa kali dia menabrak para pejalan kaki yang berlalu lalang.


Hingga akhirnya Xuan Ye berhasil menyusul nya.


"Shen Ling tunggu!"


Shen Ling mengibaskan tangannya yang berusaha digenggam Xuan Ye. Pandangan mata nya tetap lurus ke depan, dia tidak mau melihat Xuan Ye untuk saat ini.


Xuan Ye pun berdiri di depannya, "Kenapa kau menangis? Apakah ada yang mengganggu mu? Katakan padaku, jangan diam saja."


Shen Ling menatap Xuan Ye dengan pandangan kabur akibat air matanya.


"Ya! Kau yang membuatku menangis! Jika memang kau begitu menyukai nya maka jadikan saja dia Permaisuri mu. Ayahku pasti tetap akan mendukungmu menjadi raja, asal kau tetap bicara dengan sopan padanya. Jangan jadikan aku untuk menjadi alasanmu mendapatkan takhta sialan itu."


Xuan Ye memeluk Shen Ling, dia menyadari Shen Ling telah mendengar pembicaraannya dengan Huang Ro, "Tapi bagiku kau adalah orang yang cocok untuk jadi permaisuri ku. Apa perlu kita mempercepat hari pernikahan kita?"


Shen Ling mendorong tubuh Xuan Ye, "Simpan saja kebohonganmu untuk dirimu sendiri! Aku sudah tak percaya lagi padamu."


Shen Ling pun berlari menjauh dari Xuan Ye dan meninggalkan Xuan Ye berdiri mematung di sana.


Malam itu Shen Ling memandangi Rembulan dari jendela kamarnya. Dia sudah lelah dengan rasa sakit hati yang menggerogoti nya.


Tiba - tiba Shen Ling dikejutkan dengan kedatangan pangeran Yuan Chen.


"Kenapa kau bersedih?"


"Pangeran, apakah anda tidak dapat muncul dengan waktu dan tempat yang normal?"


Acuh tak acuh, pangeran Yuan hanya mengedikkan bahu nya, "Memang nya menurutmu tempat dan waktu bagaimana yang normal?"


Shen Ling sangat geregetan dengan sikap Pangeran Yuan Chen, "Setidaknya kau tak seenaknya muncul di kamarku, terlebih lagi di malam hari. Jika terlihat oleh orang lain maka akan tersebar gosip yang tidak benar."


Belum sempat pangeran Yuan menjawab, terdengar suara berat dibelakang nya, "Itu benar! Aku rasa sangat tidak sopan laki - laki mengunjungi kamar wanita di malam hari. Terlebih lagi jika tidak memiliki hubungan apa pun"

__ADS_1


Yuan Chen pun berkilah, "Jika seorang pria mencintai wanita nya. Maka dia tidak akan pernah membiarkan setetes air mata jatuh karena dirinya"


Xuan Ye sangat kesal mendengar ucapan Yuan Chen, "Jangan kau ikut campur dengan urusanku dengannya. Hanya kami berdua yang berhak menyelesaikan masalah kami. Dan orang luar lebih baik tidak ikut campur."


Merasa geram Yuan Chen menarik baju Xuan Ye dan mereka berdua pun berkelahi. Shen Ling memutar bola mata nya tampak tidak perduli dan tidak mau tahu. Hingga akhirnya ketika kedua pria itu berkelahi di halaman, Shen Ling menutup pintu dan jendela dengan keraskeras, sehingga mengejutkan mereka berdua.


Kedua pria itu pun berhenti berkelahi, Xuan Ye pun melepas cengkraman tangannya,"Dia benar - benar marah."


"Seperti nya demikian." Pangeran Yuan Cheng tampak tidak perduli.


Dengan kesal nya Xuan Ye hendak pergi, "Semua nya gara- gara dirimu."


Yuan Cheng pun bersiul, "Ya.. Ya.. terserah kau saja. Yang mulia hamba hanya berpesan, jika yang mulia berencana kembali pada Huang Ro, mohon kabari saya. Dengan senang hati hamba akan menjadikan Shen Ling sebagai calon permaisuri hamba."


Xuan Ye kembali naik pitam, begitu dia berbalik Yuan Cheng sudah menghilang menggunakan ilmu peringan tubuh nya.


-


-


-


Hok Ben sudah menunggu kedatangan Huang Ro di dalam kamar nya. Huang Ro berusaha tetap tenang dan tampak acuh tak acuh dengan keberadaan Hok Ben.


"Tunggu tuan Puteri! Seperti nya aku terlalu bersikap lunak padamu."


Huang Ro menjadi waspada, "Apa maksud mu?"


Hok Ben pun berjalan pelan mendekati nya, "Kami memang mempunyai harapan besar padamu. Tetapi bukan berarti kau dapat berkeliaran sesuka hatimu. Terlebih untuk bertemu dan memadu kasih dengan Kaisar baru itu!"


Huang Ro merasa terpojok di sudut ruangan, Hok Ben begitu mendominasi, "A-apa maksudmu? Aku tak mengerti."


Hok Ben memukul dinding di sisi kanan Huang Ro, "Jangan berlagak bodoh! Kau harus tahu, segala gerak gerik mu selalu berada di bawah pengawasan kami. Jadi kau jangan terlalu gegabah dan berbuat hal sesuka hatimu! PAHAM?"

__ADS_1


Huang Ro mengangguk lemah dan Hok Ben menyeringai dengan penuh kepuasan. Dia sangat suka melihat Huang Ro bagaikan kelinci yang ketakutan. "Gadis pintar, dan ingat lah satu hal yang dapat mendampingi mu baik sekarang maupun nanti ketika kau sudah berhasil naik takhta adalah aku. Kau adalah permaisuri dan aku akan menjadi kaisar mu. Ingat itu!".


Hok Ben pun meninggalkan Huang Ro yang terus bergetar karena ketakutan.


"Aku harus bisa kabur dari sini! Harus secepatnya kabur!"


Menjelang subuh, tampak para penjaga kediaman Hok Ben sudah mengantuk dan terlelap. Huang Ro mengambil kesempatan itu untuk kabur.


Dia membuka pelan pintu kamar nya, dan berjingkat - jingjat menuju ke istal kuda.


Huang Ro melihat beberapa ekor tampak berjejer rapi, membuat senyumannya menjadi cerah.


Ketika dia hampir menggapai tali kuda terdekat, sebuah tangan kekar menariknya dan membungkam mulutnya.


Rupanya niatnya untuk kabur sudah diketahui oleh Hok Ben. Aroma alkohol yang menyengat tercium dari mulutnya, Hok Ben pun tertawa mengerikan.


"Ka-kau mau apa? Lepaskan!!"


Hokben hanya tertawa dan berusaha mengumpulkan kesadarannya, "Tuan Puteri ku yang cantik. Bukankah aku sudah mengatakan padamu. Aku tidak akan membiarkan kau pergi dari sini! Kau adalah milikku untuk selamanya!"


Wajah Huang Ro menjadi pucat pasi, dia sangat ketakutan. "Tidak!! Tidak!! Jangan mendekat!!"


Huang Ro berusaha berdiri dan bersiap untuk lari, tetapi kekuatan Hok Ben jauh lebih kuat. Dia menarik tangan Huang Ro hingga terjatuh di tumpukan jerami. Kemudian mulai merobek pakaian Huang Ro.


Huang Ro berteriak meminta tolong, tetapi nihil tidak ada seorang pun yang datang. Dia sangat jijik melihat muka Hok Ben yang penuh dengan niat cabul dan juga tempat kumuh dengan bau kotoran kuda yang menyengat.


Huang Ro menangis sejadinya ketika mulut bau Hok Ben berusaha mencium bibir ranum nya, Huang Ro melakukan perlawanan dengan memukul serta mencakar Hok Ben. Namun naas, segala perlawanan yang dilakukan Huang Ro hanya membangkitkan niat bejat Hok Ben yang semakin menjadi.


Semua pakaiannya sudah terlepas dari tubuh Huang Ro, dan dengan tega nya Hok Ben mulai menggagahi nya.


Huang Ro menangis sejadi nya, bunga kehormatan yang sengaja dia jaga untuk Xuan Ye sudah hilang bersamaan dengan kesempatan nya untuk menjadi permaisuri Xuan Ye.


Malam itu menjadi malam yang panjang untuk Huang Ro, sepanjang malam Hok Ben menggagahi dirinya berulang kali. Hingga rasa nya Huang Ro tidak ingin hidup lagi.

__ADS_1


__ADS_2