Rembulan Pengganti

Rembulan Pengganti
Bab 22


__ADS_3

Dengan susah payah Shen Ling berdiri dan berjalan kearah kereta kuda, terdengar suara A Li yang berlari sambil menangis, rupanya dia terus mencari kemana nona nya pergi. A Li menangis melihat keadaan nona nya kemudian memapahnya ke arah kereta kuda. Di sana sudah berkumpul pangeran keempat dan kelima, mereka melindungi keselamatan permaisuri dan para selir.


Shen Ling kemudian meminta A Li mengambil pil penghenti perdarahan yang dia simpan di dalam tas nya. Setelah meminum pil putih itu Shen Ling menotok aliran darahnya dan bersandar pada kereta.


Dari kejauhan terdengar teriakan Xuan Ye memanggil nama Shen Ling. Teriakan itu sangat mengerikan, penuh dengan amarah dan kebencian. Shen Ling menutup matanya menantikan kedatangan Xuan Ye beserta amarahnya.


Xuan Ye mencengkeram lengan Shen Ling dan berteriak padanya, "Kenapa kau mendorongnya ke jurang? Kenapa?! Jika tadi kau dapat menahan penjahat itu satu menit saja sampai aku datang, Huang Ro pasti selamat." Xuan Ye yang emosi mengguncang tubuh Shen Ling dan mendorongnya hingga jatuh.


Pangeran keempat datang membantu Shen Ling berdiri kemudian Shen Ling membela dirinya sendiri, "Aku tak sengaja, sungguh aku tak sengaja, aku sudah memperingatkan nya untuk tidak berlari ke arah tebing, tapi dia tidak mau mendengarkan ku."


Tangan Xuan Ye pun hendak memukul Shen Ling tapi dia menahannya, "Aku tahu kau sengaja membiarkan Huang Ro diculik?! Dengan begini saingan mu untuk menduduki posisi Puteri mahkota pun tidak ada lagi. Benar begitu? jawab aku!! Jangan kau diam saja!! Katakanlah sesuatu."


Xuan She menarik Shen Ling untuk menjauh, dia tidak dapat membiarkan Kakak nya frustasi dan semakin menyakiti Shen Ling. Pandangan Shen Ling kosong, dia tidak menyangka Xuan Ye akan berkata yang begitu menyakitkan padanya, kemudian Shen Ling memuntahkan darah segar dan jatuh pingsan.


Permaisuri segera memerintahkan semua orang untuk kembali ke istana.


Setiba nya di istana, Kaisar terkejut mendapat kabar itu, suasana istana begitu kacau, Ibu suri terus meratapi nasib Huang Ro sedangkan putera mahkota bersikeras untuk keluar istana mencari Huang Ro. Kaisar mencegah Xuan Ye untuk keluar istana saat emosi, dia menyuruh para prajurit untuk menahannya. Xuan Ye terus memberontak dan berteriak, dia sangat frustasi dengan nasib Huang Ro, sampai akhirnya permaisuri mendekati Xuan Ye dan menamparnya dengan keras, "Tenanglah!! dengarkan ayahandamu Xuan Ye. Tidak kah kau menyadari saat kau mencari sesuatu hal dengan emosi maka tidak akan menemukan jalan keluar."


Xuan Ye terdiam, pertama kali dalam hidupnya ibunda permaisuri sampai hati memukulnya. Xuan Ye akhirnya merasa bahwa perkataan Ibunda nya adalan kebenaran, dia tidak boleh emosi saat musuh nya menyerang dengan penuh persiapan.

__ADS_1


Setelah Xuan Ye tenang, permaisuri melanjutkan, "Cuci muka mu, dan dinginkan kepala mu, setelah emosi mu reda temui ayahanda mu dan beberapa kepala pengawal. Susun rencana dengan baik. Saat ini adik mu sudah menyebar lukisan Huang Ro di setiap pojok ibu kota."


Xuan Ye pun mengangguk, "Baiklah ibunda"


Setelah terdiam beberapa saat permaisuri pun melanjutkan, "Jenguk lah Shen Ling, setidaknya dia sudah mencoba berusaha menyelamatkan Huang Ro."


Xuan Ye tersenyum getir, dia belum bisa memaafkan Shen Ling.


Xuan Ye tidak mengucapkan kata apa pun dan pergi menuju istana Plum.


Dari kejauhan dia mendengar suara A Li yang terus memanggil nona nya, tampak para tabib sibuk mengobati nya.


Saat seorang pelayan keluar dari kamar Shen Ling, Xuan Ye menghadangnya "Bagaimana kondisi nona Shen?"


Setelah mendengar penjelasan pelayan, ada sedikit rasa lega dalam hati Xuan Ye, tetapi entah kenapa sulit sekali memaafkan gadis itu. Ibunda Permaisuri sudah mengatakan bahwa Shen Ling mati - matian melindungi Huang Ro. Xuan Ye yang masih frustasi belum bisa menerima kenyataan bahwa Huang Ro telah menghilang, akhirnya Xuan Ye memutuskan untuk pergi ke kamarnya sendiri, dia belum bisa menemui Shen Ling untuk saat ini.


Di tempat lain, kesadaran Huang Ro mulai pulih, ketika dia membuka mata, tangannya telah terikat dan dia melihat sekeliling ruangan tempatnya berada. Ruangan ini penuh dengan kayu - kayu, dan badannya berasa diombang - ambing, Huang Ro menyadari bahwa dirinya berada di sebuah kapal, dengan mulut yang bebas dia pun berteriak, "Apakah ada orang? Tolong aku."


Beberapa saat kemudian muncullah seorang pelayan muda membawakan air minum, kemudian dia berteriak "Tuan Puteri telah sadar, tuan Puteri telah sadar."

__ADS_1


Hok Ben beserta antek antek nya pun menemui Puteri Huang Ro.


Huang Ro yang ketakutan berteriak dan merapat mundur ke dinding, "siapa kalian? Apakah kalian tidak tahu siapa aku? Kalian bosan hidup?"


Hok Ben dan para pengikutnya semua berlutut, "Hormat Yang Mulia Tuan Puteri Tian Yu, panjang umur selalu."


Huang Ro terkejut dengan kelakuan mereka, "Kalian semua sinting! Tidak waras! Nama ku Huang Ro! Huang Ro! Aku tidak mengenal siapa itu Tian Yu."


Hok Ben pun tertawa pelan, "Tuan Puteri bukankah di bahu kiri tuan Puteri terdapat tanda lahir berbentuk bulan? Kau adalah keturunan terakhir dari dinasti Tang. Jika tuan Puteri mau mengakui takdirmu, kita dapat menggulingkan kekaisaran saat ini dan memperoleh kejayaan dinasti Tang seperti dahulu." Tawa Hok Ben semakin kencang, Huang Ro sangat ketakutan.


"Lepaskan aku! Biarkan aku pergi! Kalian semua tidak waras!"


Hok Ben kembali tersenyum mengerikan, "Tolong tuan Puteri pikirkan baik - baik. Jika tuan Puteri bersedia bekerja sama dengan kami, maka tuan Puteri dapat naik takhta menjadi permaisuri dan seluruh negeri ini berada di bawah kakimu. Tetapi jika tuan Puteri tetap ingin lari dari sini, silahkan saja, saat ini kita berada di atas laut. O iya satu hal lagi, pelayan kecil itu bernama A Du, dia akan melayani mu selama disini. Pikirkanlah baik - baik Puteri Tian yu."


Hok Ben pun pergi meninggalkan Huang Ro dalam kondisi terikat.


'Tidak ada gunanya aku menangis, aku harus bisa keluar dari sini. Tunggu, pria itu mengatakan aku memiliki tanda lahir di bahu kiri? Apakah yang dia maksud adalah bekas luka di bahu kiri ku? Jika mereka tahu kalau aku bukan Puteri Tian Yu mereka pasti akan membunuhku.'


Kemudian dia berbicara pada A Du, "Hey kau bernama A Du? Bisa tolong ambilkan air minum itu? Aku sangat haus."

__ADS_1


A Du pun segera mengambilkannya, kemudian Huang Ro menanyakan keberadaan mereka dan A Du menjelaskan kalau mereka sedang berada di lautan menuju markas tuan Hok Ben.


Huang Ro pun berpikir jika saat ini dia melawannya sama saja dengan mencari masalah. Dia akan menyetujui pria ini dan mencari saat yang tepat untuk melarikan diri.


__ADS_2