Reuni Invite Hell

Reuni Invite Hell
Ingin imbalan


__ADS_3

Naya semakin di perlakukan tak layak oleh Abimana. Pria itu bahkan tetap melenggang pergi setelah meninggalkan jejak luka di wajahnya.


"Hahaha ..."


Naya tertawa lirih, di iringi air mata yang menetes di kedua sudut matany


"Disaat, aku mengetahui Ayahku memiliki anak lain selain dari ibuku. Bahkan anak itu adalah kakakku lantas pria mana yang harus ku percayai?" Naya bertanya pada dirinya sendiri.


"Dan sekarang priaku juga menghianatiku." Naya tak tidur lagi setelah kepergian suaminya, ia memilih kembali meratapi pernikahannya yang sudah di ambang kehancuran.


Pagi ini Naya sudah berada di ruang makan, ia sarapan sendirian tanpa teman. Makanan yang melewati mulutnya juga terasa hambar tanpa rasa sama sekali. Hanya kepahitan yang dapat Naya rasa di samping itu kegetirannya menemani hidupnya yang malang.


"Nyonya ada tamu." Salah satu pelayan di rumah Naya menghampirinya dengan tergopoh juga dengan satu kemonceng di tangannya.


"Suruh tunggu di ruang tamu saja Bi." Naya meminum jud buah miliknya dan mengelap bibirnya menggunakan selembar tissue.


Naya berjalan menghampiri tamunya, ia terkesiap saat melihat tamu yang di maksud adalah adik kelasnya dulu, yang semalam melamar menjadi supirnya.


"Se-Sean ..."


Sean jauh lebih terkejut akan pemandangan yang di dapatnya, wanita cantik yang menjadi pusat perhatian semalam ia lihat di acara reuni, kini sudah berganti kostum menjadi wanita menyedihkan.


Wanita dengan mata sembab, kedua bola matanya nyaris tak terlihat. Sean yakin jika Naya pasti habis menangis dalam kurun waktu yang tak sebentar.


Sean terus meneliti wajah polos itu, ada setitik luka di ujung bibirnya, juga dengan pipi yang membiru. Tak salah lagi Naya pasti mendapat tamparan dari suaminya.


"Brengsek." Sean mengumpat pelan, kedua tangannya bahkan terkepal dengan urat-urat yang menonjol.


Sean mendekat, sedangkan Naya hanya mematung di tempatnya berdiri. Naya masih terkejut akan keberadaan Sean pagi ini.


"Apa sakit?" Sean meraih wajah Naya dan mengusapnya dengan lembut.


Naya mengangguk, ia tak perduli lagi siapa yang berada di hadapannga, matanya tiba-tiba memanas kala mengingat tamparan yang di lakukan Abimana padanya. Kaca-kaca yang membingkai mata kini siap tumpah.

__ADS_1


"Ayo ..."


Sean meraih tangan Naya dan membawanya keluar rumah.


"Kemana?"


"Berobat."


Kali ini Naya tak dapat menahan laju air matanya yang mulai menganak sungai, di belakang tubuh Sean yang berjalan di depannya, Naya kembali menangis.


Mengapa harus orang lain yang perduli terhadapnya? Mengapa harus pria lain yang hendak mengobati luka yang di sebabkan suaminya?


Sean membawa Naya kerumah sakit paling elite di kota itu. Tanpa rencana sebelumnya. Di parkiran Naya menyaksikan bagaimana Abimana menggendong seorang wanita ke dalam mobil miliknya. Wanita yang beberapa waktu lalu memperkenalkan diri sebagai istri muda suaminya.


Hati Naya semakin tercabik kala Abimana tersenyum teduh kearah wanita itu, yang mana selama ini senyuman itu hanya di perlihatkan padanya. Tapi kali ini ada wanita lain yang mendapatkan senyuman itu. Sialan Abimana bahkan mengecup kening wanita itu tepat di hadapannya langsung.


Di balik kaca mobilnya, Naya menatap nanar perlakuan lembut pria itu. Berbanding terbalik dengan perlakuan kasar Abimana padanya beberapa saat lalu.


Demi apapun Sean tak tahu menahu mengenai Abimana dan istri mudanya yang berada di parkiran rumah sakit ini. Sean dapat melihat dengan jelas amarah yang di rasakan Naya, terlihat dari matanya yang berkobar dan membara.


Naya tak melepaskan tatapan sampai mobil Abimana hilang di jangkauan matanya.


"Naya are you okay?"


"No."


"Sekali lagi dia melukaiku Se." Naya terisak tanpa suara.


"Tidak apa, itu pilihannya. Mari berobat setelah itu kita akan jalan-jalan." Sean berusaha menghibur Naya.


.


Setelah menemui dokter dan berobat, Naya benar-benar di ajak Sean untuk bersenang-senang. Pertama-tama Naya mengunjungi mall yang mana Sean membebaskan Naya memilih barang apapun yang ia inginkan. Di balik pakaian supir yang di kenakan Sean, pria itu adalah pria dengan jutaan dolar di balik kartu hitamnya.

__ADS_1


Wanita mana yang tak menyukai shoping? Naya bahkan melupakan kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu.


"Mau menemaniku melihat pantai." tawar Sean, yang seketika segera di angguki oleh Naya.


"Baiklah, tapi kita perlu makan terlebih dahulu."


Dari cara Sean memperlakukannya seperti ini Naya tau Sean seorang yang memiliki banyak uang. Dan satu hal yang mencoba Naya pahami di dunia ini tak ada yang geratisan, dan ia mengerti bahkan ia siap seandainya Sean menginginkan dirinya. Tak apa, bukankah ini yang tengah ia lakukan pada Abimana balas dendam.


"Kau terhibur." Sean menatap ke arah Naya yang berjalan di sampingnya menyisiri pasir pantai dengan ombak kecil yang beberapa kali membelai punggung kakinya.


"Sangat. Terima kasih." Naya menyelipkan senyum tipis.


Kedua sendal Naya di tenteng di tangan Sean, lengkap dengan sepatunya juga.


"Aku masih ingin menghabiskan waktu denganmu Naya. Tapi hari sudah mulai senja, aku harus mengembalikanmu kerumahmu." Sean tersenyum.


Benar apa yang Sean katakan langitnya bahkan sudah berubah menjadi warna jingga. Senja sudah mulai menyapa keduanya


"Aku ingin melihat mata hari terbenam Sean. Sebentar lagi kita pulangnya." Naya menggoncang pelan lengan tangan Sean, Naya juga memperlihatkan pulpy eyesnya. Sehingga pria itu tak tega untuk menolaknya.


"Baiklah."


Selama seharian Sean menemani Naya berkeliling dari satu tempat ketempat lainnya. Entah mengapa Sean mendadak terlihat sangat manis di hadapannya.


"Terimakasih."


"Apa ini masih sakit?" Sean memegang pipi Naya dengan kembut.


Naya menggeleng dengan cepat membuat Sean gemas sendiri. Sean meraih karet gelang yang ia temukan di depannya, Sean menggulung rambut Naya menjadi satu dan mengikatnya secara asal.


Meski ikatannya acak-acakan tapi Naya masih terlihat cantik di hadapannya.


"Tapi aku ingin imbalan setelah ini." Sean berbisik.

__ADS_1


"Im-imbalan?"


__ADS_2