
"Ku pikir tadinya seleraku dan Bima sama."
"Tidak Se, selera kalian berbeda. Jika Bima normal menyukai daur muda sedangkan kau? Kau menyukai wanita tua istri orang pula." cebik Naya.
Sean terkekeh dengan sangat lepas, tawanya semakin nyaring hingga gigi geraham Sean yang amat rapih nampak di pandangan mata Naya.
"Aku paling tau kualitas Nayaaa, aku tak akan mengambil kualitas abal-abal untuk ku pergunakan, apalagi untuk seumur hidup aku akan memilih ibu yang tepat untuk calon anak - anakku." Sean tak bercanda dengan ucapannya.
"Ya Tuhan Sean bicaramu terlalu jauh."
Makan yang berupa nasi goreng itu secara perlahan mulai di sendok ke mulutnya, sean mengulum senyum simpul.
"Bagai mana rasanya apa enak?" Naya meminta pendapat, ia persis seperti seorang peserta ajang memasak yang tengah menunggu keritikan atau pendapat tentang makanannya dari sang juri.
"Enak, ini sesuai dengan seleraku. Aku menyukainya.
Sean menyendokan suapan demi suapan ke mulutnya. Namun irisan timun yang Naya letakan sebagai pelengkap di sisihkan oleh Sean, pria itu tak menyentuhnya sama sekali.
"Kenapa kau tak memakan timunnya?" Naya mencomot satu irisan timun dan ia masukan kedalam mulutnya, hingga terdengar kunyahan Naya yan crunchi mengunyah timun itu.
"Selain bawang putih aku juga tidak menyukai timun." ujar Sean dengan makanan yang sesaat lalu baru ia telan.
"Oh, pantas saja." menurut Naya Sean adalah orang yang apa adanya mengakui sesuatu yang ia sukai ataupun yang ia tidak sukai sekalipun.
Naya kembali memakan irisan timun di tempat makan Sean, sayang sekali jika di buang. Meski harga timun tidak seberapa tapi Naya adalah salah satu orang yang tidak bisa menyia-nyiakan makanan.
__ADS_1
"Sepertinya kau sangat menyukai timun!"
"Ya aku menyukai semua jenis timun."
"Uhuk,,, uhuk,,," Sean terbatuk-batuk mendengar kalimat pengakuan Naya yang menurut Sean terlalu ambigu, ayolah seorang pria selalu beriringan dengan keberengsekan bukan.
"Ma-maksudku sa-sayur timun Sean, bukan timun yang lain. Jangan berpikir macam-macam." Naya seakan tau apa yang berada di otak licik pria di sampingnya. Bagaimana tidak Naya adalah seorang wanita dewasa yang berpengalaman tentu saja Naya mengetahui isi otak para pria.
"Memangnya apa yang ku pikirkan?" Sean memibcingkan mata, ia menyangkal atas pernyataan Naya yang benar menebak pemikirannya, Naya terlalu berbahaya untuk iman Sean yan setipis kulit lumpia itu.
Naya merona, bisa-bisanya ia berkata hal memalukan. Sekalipun tebakannya benar harusnya Naya bisa memprediksi jika Sean akan menampiknya. Benar-benar menalukan.
"Lupakan!" Naya malu, ia tak ingin membahas hal itu lebih lanjut.
Sean menutup kotak makan, ia segera mengambil botol air mineral yang tersedia di mobil Naya, ia juga membuka segelnya sampai terdengar bunyi krek, Sean meneguk isinya sampai Jakunnya turut andil, ya jakun Sean naik turut dengan sangat seksi di mata Naya, semua yang di lakukan Sean di perhatikan dan tak lepas dari pandangan Naya.
Sean hanya bisa melongo di buatnya.
Setelah menghabiskan makanannya Sean mulai menyalakan mesin mobil dan mulai melanjukan mobilnya.
"Kita mau kemana?"
"Aku mau ke Caffe pusat terlebih dahulu." Naya berujar, ia tengah berbalas pesan dengan seseorang.
Ting ...
__ADS_1
Ting ...
Setiap membaca pesan balasan dari orang itu Naya terlihat bahagia dan mengembangkan senyumannya. Entah mengapa tubuh Sean merasa gerah dan tak nyaman saat menyaksikan Naya senang dan bukan ia penyebabnya Sean merasa kesal sendiri.
Tiba-tiba saja Sean meminggirkan mobilnya dan merebut ponsel Naya dan melihat dengan kepala matanya sendiri jika yang kini tengah berbalas pesan adalah dengan Naya adalah Disa, remaja empat belas tahun yang merupakan calon putri sambungnya.
Tanpa sengaja Sean menglik poto profil remaja itu.
"Ck, wajahnya lebih menyerupai Abimana di bandingkan dirimu. Sepertinya kau sangat menyayangi pria itu sampai putrimu terlihat duplikat seperti Abimana." Sean menyerahkan kembali ponsel Naya saat rasa penasarannya terpuaskan.
"Sok tau."
"Bukan sok tau, kata orang memang seperi itu. Jika anak menyerupai salah satu dari orang tuanya itu artinya, orangtuanya sangat mencintai pasangannya sehingga wajahnya sampai di tiru oleh anaknya."
"Aku tak menyangka kau mempercayai mitos Se, Disa mirip Papanya itu karna gen papanya bukan masaslah perasaan atau cinta." tapi dalam hati Naya mengakui jika di masa lalu Naya sangat mencintai suaminya itu.
"Setelah dari Caffemu, kita mampir ke kantorku sebentar." Sean kembali melanjutkan perjalanan setelah Nasya memberitahukan alamat Caffenya.
"Baiklah, memangnya kau bekerja sebagai apa Se, bisa santai begini." Naya memancing pria itu untuk mengakui pekerjaan sesengguhnya.
"Tidak banyak, hanya mengecek para pekerja saja."
"Kau seorang mandor?"
"Katakan saja begitu." Sean menggelengkan kepala pelan saat Naya tak melihatnya, apa Naya menganggapnya sebagai buruh bangunan atau perkebunan yan memerlukan mandor.
__ADS_1
"Hah, ternyata kekasihku seorang mandor tampan."