Reuni Invite Hell

Reuni Invite Hell
Menginginkan bayi darimu


__ADS_3

Naya mengunjungi Caffe pusat yang ia miliki, ia semakin bersemangat untuk menambah cabang baru mengingat caffenya banyak di minati dari semua kalangan mulai dari anak muda hingga lanjut usia.


Tidak hanya dari dekor dan konsep yang Naya buat semenarik mungkin, Naya juga mengusung tema modern juga mengambil beberapa makanan khas luar negri. Naya juga membuat konsep caffe yang kekinian dengan target pasar anak-anak jaman now, pernak pernik seperti ala-ala korea Naya hadirkan di caffenya demi memanjakan pengunjungnya.


Harga yang di tawarkan caffe milik Naya juga terjangkau serta ramah di kantong anak sekolah, tidak hanya itu Naya juga menyediakan akses internet sehingga caffenya selalu terlihat ramai oleh pengunjung.


Semua pegawai Naya menatap penuh penasarah sosok pria tinggi yang berjalan di samping Naya, apakah mereka tidak menyadari pakaian yang di gunakan Sean adalah pakaian supir?


Mereka menyadarinya, hanya saja baik pegawai ataupun pengunjung di sana masih sangsi saat ada seorang pria setampan dan se kekar Sean menjadi supir, bukankah pria itu bisa mencari pekerjaan yang lebih baik dari seorang supir? Apakah riwayat pendidikan pria di samping bos mereka rendah atau bisa jadi ini memang nasib. Ya si nasib selalu menjadi tersangka utama di kala kehidupan tak sesuai ekspetasi.


Naya mendelik beberapa kali ke arah Sean kala pria memelankan langkah dan berjalan di belakang Naya, ia menyadari kali ini tengah menjadi pusat perhatian.


"Se, berjalan di sampingku. Kau adalah kekasihku!" ujar Naya tegas, meski dengan suara yang amat pelan, membuat Sean menjadi besar kepala. "Seandainya saja statusku sendiri, aku akan dengan bangga memperkenalkan dirimu sebagai kekasihku." Naya melirih dengan amat pelan.


Sean sama sekali tak menggubris kalimat Naya, ia juga sadar posisi tapi saat Naya mengatakan jika dirinya kekasih dari wanita itu relung hatinya tiba-tiba menghangat. Meskipun mereka tidak tau pasti kapan mereka berkomitmen untuk menjadi sepasang kekasih.


"Re, keruanganku sekarang." Naya meminta Rere seorang wanita yang menjabat sebagai orang kepercayaan Naya untuk ke ruangannya.


Wanita yang mengenakan rok span berwarna hitam juga dengan blezer berwarna senada mengikuti langkah Naya dan sang pria yang asing baginya.


"Ada apa Bu?" wanita bernama Rere itu berujar sopan.


"Carikan tiket konser boy band favorite putriku di korea selatan sana, dia meminta hadiah ulang tahunnya berupa itu dan tak mau di tawar lagi, jika tidak nona mudamu akan merajuk dan percayalah itu membosankan saat dia tak mengajakku bicara dalam kurun waktu semaunya." Naya memijat pelipisnya di atas kursi kebesarannya, putrinya benar-benar keras kepala juga keras hati, apapun yang ia kehendaki harus terlaksana.

__ADS_1


"Kemana saya harus mencarinya Bu?"


"Terserah, kau mencari lewat kenalanmu atau siapapun yang jelas kau harus mendapatkannya."


"Tapi Bu,,,"


"Keluar, saya sudah tak ingin bicara lagi. Beritahu karyawan yang lain untuk membantumu."


Saat Rere sudah hendak keluar tiba-tiba Naya menghentikan langkahnya.


"Re-"


"Iya Bu."


"Ayah saya sudah lebih baik Bu, terimakasih atas bantuan ibu."


"Hmm,,, maaf saya belum sempat menjenguk."


"Tidak papa Bu."


Sean menyimak percakapan antara atasan dan bawahannya. Sean kerap kali terkecoh dengan pribadi Naya, antara lembut atau keras Naya menampakan keduanya sifatnya bersamaan.


Rere yang merasa penasaran akan pria asing di sana memandang ke atah Sean dengan dahi yang membentuk segaris lurus.

__ADS_1


"Rere, kendalikan pandanganmu jangan membuat Seanku tak nyaman. Maksudku jangan membuat supirku tak nyaman." Ralat Naya. Sean yang mendengar Naya berujar kikuk hanya tersenyum sumir, Seanku. Panggilan yang manis.


Supir? Sejak kapan atasannya mempunyai supir bukankah selama ini bosnya itu lebih nyaman menyetir sendiri, atau sesekali di antar suaminya. Ngomong-ngomong mengenas suami bosnya kemana pria itu pergi selama beberapa bulan Rere dan para pekerja lain tidak melihat suami Naya yang bernama Abimana.


"Rere kembali ke tempatmu."


"Ba, baik Bu." Naya undur diri dari sana yang membuat Sean mendekat ke arahnya.


"Sayang. Aku bisa memberikan hadiah ulang tahun yang di inginkan putrimu." Sean semakin mendekat.


"Tidak usah Se, aku kasihan terhadapmu. Meskipun kau memiliki dua pekerjaan menjadi supir dan mandor, tapi tiket konser dan biaya di negri korea tidaklah murah."


Entah Naya tengah bergurau atau memang tengah berpura-pura untuk memancing Sean agar mengakui pekerjaan sebenarnya. Tidak mungkin kan Naya beranggapan jika mandor adalah pekerjaan sean. Mengingat selama beberapa waktu kebersamaan mereka Sean sangat royal terhadap Naya, mulai dari shoping bahkan makan-makan Sean mengajak Naya di tempat paling mewah.


"Aku bisa memberikan apapun yang kau inginkan Nayaa." ujar Sean sungguh-sungguh.


"Jika aku menginginkan seorang bayi, apa kau akan memberikannya untukku?"


"Se-seorang bayi?" Sean di buat bertanya-tanya di antara bibirnya yang mengatup rapat maksudnya Naya meminta seorang bayi darinya.


"Ya, aku menginginkan bayi darimu Sean Aditya." ujar Naya lantang tanpa keraguan sedikitpun.


Entah apa yang di rencanakan Naya, Sean di buat kalang kabut dengan kata bayi. Yang Sean pikirkan adalah proses membuat bayi itu.

__ADS_1


__ADS_2