
Selalu ada harga yang harus di bayar setiap perbuatan. Entah itu perbuatan baik maupun perbuatan buruk.
Istilah tabur tuai akan selalu menyertai setiap orang yang masih bernafas dan itu benar adanya, semesta sudah merancang setiap hukum untuk memberikan efek terhadap setiap makhluk.
Sean dan Naya kini akan pulang menuju ke rumah yang sudah Naya tinggali. Setelah restu ayah ibu Nya belum Sean kantongi akhirnya Sean memilih memberikan waktu pada calon mertuanya.
Di perjalan pulang tiba-tiba saja mobil Sean terdengar suara letusan dan seketika mobilnya oleng, sepertinya ban mobil Sean meletus. Sean mengerem mobilnya yang sedikit terguncang sebelum menabrak bahu jalan atau kendaraan lainnya. Beruntung tidak terjadi kecelakaan.
Namun Sean dibuat panik saat Naya tiba-tiba berteriak kesakitan memeluk perutnya sendiri.
"Aww ..."
"Ada apa Naya?"
"Perutku sakit sekali Se,"
Sean mulai panik dengan apa yang terjadi terjadi pada Naya. Sean dapat melihat dengan jelas darah yang merembes di antara kedua kaki kekasihnya. Sangat aneh padahal mereka tidak mengalami benturan sama sekali tapi Naya pendarahan.
Sean segera mengeluarkan Naya dari dalam mobil juga mencegat salah satu mobil untuk membawanya kerumah sakit.
__ADS_1
"Sayang kumohon. Bertahanlah." Sepanjang perjalanan kerumah sakit Sean menggenggam tangan Naya dengan sangat erat. Ia tak ingin membuat Naya merasa sendiri.
Setibanya di rumah sakit Naya langsung di tangani oleh dokter, namun sayangnya bayi yang di kandung Naya tak dapat di selamatkan. Janin yang tak memiliki dosa itu harus kembali pada pangkuan illahi.
Apakah ini hukuman baginya karna sudah turut ikut serta membantu Naya membalaskan dendam juga menyakiti hati Abimana, Sean sudah menyakiti Abimana sedemikian rupa. Harga diri Abimana juga sudah ia hancurkan.
Sean menunduk dengan air mata yang mulai menetes. Disamping brankar Naya Sean benar-benar menangis.
Sean seakan kehilahangan separuh jiwanya, saat bayinya harus tiada. Sean tau ini bukan karna soal ban mobilnya yang pecah. Melainkan karna campur tangan Tuhan yang menghendaki dirinya di hukum atas semua perbuatannya.
Tapi mengapa harus calon bayinya yang tak berdosa yang harus lenyap? Tidak adakan jenis penghukuman lain yang harus Sean lalui. Ini berat untuknya, kehilangan calon anaknya merupakan pukulan tertepat untuknya.
"Se, bagaimana keadaan bayi kita?"
Sean tak mampu menjawab apa yang di tanyakan oleh Naya.
"Naya, yang sabar ya. Bayi kita sudah tiada." Sean berujar pelan. Naya tak kuasa, ia bukan lagi menanhis melainkan meraung dengan sangat keras. Kehilangan seorang bayi siapa yang menginginkannya?
Pada Akhirnya mereka menyadari setiap kesalahan mereka dan berencana untuk mendatangi rumah Abima untuk memohon maaf atas semua yang dudah Sean dan Naya lakukan pada Abimana.
__ADS_1
Satu hal yang Naya sadari. Ia tidak perlu repot-repot memmbalas dendem di saat dirinya tersakiti. Buktinya Abimana tidak kembali membalas dendam padanya. Tapi semesta memiliki cara lain agar menyadarkan dirinya juga Sean.
Satu minghu sudah berlalu.
Naya dan Sean benar-benar menemui Abimana di rumahnya. Disa sedang sekolah sehingga di rumahnya tak ada orang lain selain Abimana seorang diri.
Abimana, Naya dan Sean kini tengah berada di ruang tamu di rumah Abimana. Pria itu terlihat lebih kurus dari sebelumnya. Abimana juga nampak biasa saja saat melihat Sean dan Naya, tidak ada dendam di wajahnya yang terlihat tirus.
"Abimana. Aku dan Naya kemari dengan satu tujuan, yaitu memohon maaf padamu atas apa yang sudah kami lakukan di belakangmu. Terutama aku. Maafkan aku karna sudah menjadi penyebab utama hancurnya pernikahan kalian." Sean mengakui segala dosanya di hadapan Abimana.
Abimana tersenyum sejenak. Menatap Sean dan Naya bergantian.
"Aku sudah memaafkan kalian. Akulah yang menjadi penyebab utama kehancuran rumah tanggaku dengan Naya. Hiduplah dengan baik aku sudah berdamai dan memaafkan semuanya." Abimana menepuk pundak Sean.
"Jika kalian menikah nanti, aku meminta satu hal padamu Sean, tolong biarkan aku untuk berhubungan baik dengan Naya. Kami memiliki anak yang harus kami besarkan bersama. Ku harap kau tidak keberatan saat aku merepotkan kalian nanti." Abima memang sudah merelakan takdir apapun pada dirinya.
"Tentu. Kita akan membesarkan anakmu bersama."
Pada akhirnya mereka dapat berdamai dengan ke adaan. Mereka saling memaafkan juga bersedia membuka lembaaran hidup yang baru.
__ADS_1
Tamat.