
Saya ucapkan terimakasih kepada Kak Puspa Trimulyani🙏🙏 selalu memberikan saya tips koin di karya recehan ini, sehingga karya ini di kontrak lebih cepat. Sehat selalu kakak dan murah rezeki🤗🤗🤗. Begitu juga untuk seluruh pembacaku semoga kita semua selalu di limpahi kesehatan dan rejeki yang berkah Aamiin.
Oke kita mulai ...
Naya terengah-engah mengatur nafasnya begitu juga dengan Sean. Mereka benar-benar tersesat dalam dosa yang mereka sengaja.
Naya benar-benar sudah gila, ia rela terjerumus dalam kubangan dosa yang sama bahkan lebih parah dari Abimana. Namun siapa yang menyangka jika apa yang telah ia lakukan sedikit mengobati lukanya.
"Kuharap kau tak menyesali hari ini." Sean beranjak menuju kamar mandi ia harus mengguyur kepalanya sebelum gai-rahnya kembali menguasainya.
Ponsel miliknya yang ia letakan di atas nakas berkedip-kedip mununjukan jika ada panggilan masuk.
Naya tertawa pelan dan membiarkan ponselnya seperti itu, ia menyukai saat Abimana memanggilnya beberapa kali. Ia yakin Abimana tengah panik mencarinya.
Serentetan pesan menyusul masuk ke ponselnya. Abimana menanyakan keberadaannya dan meminta Naya untuk mengaktipkan GPS di ponselnya agar Abimana bisa mendatanginya.
Abimana meminta Naya untuk pulang. Tentu saja Naya mengabaikan pesan pria itu ia ingin memberitahu rasanya menunggu itu seperti apa.
Abimana mengatakan jika dirinya menunggu Naya di kamar meteka, ada kejutan untuk Naya dari Abimana sebagai permintaan maaf pria itu.
.
Tengah malam Naya di antar pulang oleh Sean. Supir tampannya itu langsung pamit untuk pulang dan Naya membiarkan kekasihnya untuk pamit, tak mungkin juga ia kembali meminta Sean menginap di saat suaminya berada di rumah.
Naya melangkah gontai menuju kamarnya, dan kebetulan melintasi kamar istri muda suaminya Dewi, suara aneh terdengar dari dalam kamar yang tak tertutup rapat.
Naya bisa menebak aktifitas apa yang di lakukan sepasang suami istri itu. Naya juga tau jika pemeran utama adagan itu adalah suaminya. Namun dasarnya Naya harus keras kepala memastikan.
Naya mengendap dan sekaligus membuka pintu kamar Dewi dengan sangat lebar.
__ADS_1
Naya kaget begitu juga dengan sepasang anak adam yang tengah memadu kasih dengan sangat panas.
"Sorry, ga sengaja lanjutkan saja."
Naya langsung pergi tanpa menutup pintu yang sudah terbuka lebar. Abimana langsung melepas penyatuan juga dengan Demi yang segera menutup tubuhnya dengan selimut.
"Jangan nangis Naya. Bahkan kau sudah melakukan hal itu dengan Sean seharian ini." batinnya. Sial mata Naya tak bisa di ajak kompromi, air matanya menganak sungai seiring langkahnya yang mulai menaiki anak tangga. Menyaksikan suaminya sendiri bercinta dengan wanita lain di rumahnya tetap saja melukai nartabatnya sebagai seorang istri. Meskipun dirinya juga kotor.
"Nayaaa."
Naya terus berjalan dengan tergesa tanpa memperdulikan Abimana yang memanggilnya.
Saat Naya memasuki kamarnya. Kamarnya sudah di hias sedemikian rupa lengkap dengan lilin dan kelopak bunga layaknya sepasang pengantin baru. Abimana memang tipikal pria yang romantis juga tau kesukaannya. Namun itu semua tiada guna.
Seindah apapun Abimana memperindah kamarnya, hasilnya akan sia-sia karna nyatanya rumah tangga mereka mulai hangus terbakar dari dua sudut sekaligus.
"Naya buka pintunya.!"
Dorrr ...
Dorrr...
Abimana terus menggedor pintu kamar Naya tapi wanita itu masih terisak memeluk lututnya. Kapal mereka mulai karam.
"Naya jangan seperti ini! Dewi istriku juga. Aku berkewajiban memberikannya nafkah batin." ujar Abimana tanpa merasa berdosa.
Berbicara kewajiban. Lantas Abimana sudah melupakan kewajiban terhadap dirinya? Yang merupakan istri pertamanya.
Hatinya hancur berkeping-keping. Tidak bisakah Abimana sedikit saja menghargai perasaannya, setidaknya jika ingin bersenang-senang dengan istri mudanya jangan di rumahnya.
__ADS_1
"Naya. Buka pintunya."
Naya tidak memperdulikan teriakan demi teriakan Abimana. Hingga pria itu terlelap di depan pintu kamarnya.
.
Pagi-pagi saat Naya turun untuk sarapan Naya melihat Abimana dan Dewi sudah berada di ruang makan.
Naya dapat melihat dua tanda kepemilikan di leher Dewi, entah sengaja atau tidak Dewi seperti memamerkan tanda iku kepada dirinya.
,"Sepertinya Disa akan mempunyai adik baru." Entah untuk siapa Naya mengatakan hal itu.
Hingga Abimana menyadari keadaan dan berdehem pelan.
"Tidak adakah pakaianmu yang berkerah?" Abimana melirik Naya namun omongannya tertuju pada Dewi.
Dasar Abimana oon, rutuk Naya dalam hati. Dewi sengaja tengah memanasinya, padahal jika Dewi ingin Dewi bisa menutupi tanda itu oleh rambutnya.
"Semua model bajuku seksi seperti ini." sangkal Dewi. "Mas Abi sih, sudah ku bilang jangan meninggalkan jejak. Masih saja bandel." Dewi tersenyum malu-malu yang membuat Naya semakin muak.
Abimana menyadari rau wajah istri pertamanya yang tak bersahabat.
"Oh lupa, berbicara mengenai adik. Sepertinya Disa akan mendapatkan dariku, mengingat istri mudamu tak memiliki rahim, tak mungkin kan Dewi hamil di ginjal." Naya segera undur diri meski belum sarapan.
Ia tak lupa jika Abimana sekarang menjadi pria sableng yang sudah dua kali main tangan. Naya tak ingin wajah cantiknya kembali membengkak.
Abimana masih menatap nanar kepergian Naya. Istri tuanya berada di dekatnya tapi ia kesulitan untuk menjangkaunya. Abimana sadar jika ini kesalahannya.
Dewi sendiri hanya mengepalkan tangannya erat di bawah meja.
__ADS_1