
"Aku ambil upahku sekarang." Sean mengecupi pipi, bibir dan seluruh permukaan wajah Naya. Namun kegiatan mereka harus terhenti tat kala ponsel Naya berdering.
"Sean sembunyi!"
"Ada apa? Apa Abimana menghubungimu?"
"Ini lebih gawat lebih darurat dari telepon Abimana."
"Putrimu?"
"Bukan Se, diamlah!"
Naya meminta Sean untuk bersembunyi di lantai dekat tempat tidur, tapi Naya tak menyuruh Sean tuntuk memasuki kolong tempat tidur.
"Setidaknya katakan dulu siapa yang menelponmu?" Sean masih bertanya, ia penasaran siapa yang menghubungi Naya, jika bukan suami dan putri Naya lalu siapa yang menelepon malam - malam jangan katakan jika ada pria lain yang juga menyukai Naya selain dirinya, Ya Tuhan Sean merasa jika kepalanya berdenyit tiba-tiba.
"Ibu mertuaku. Kau diamlah jangan mengeluarkan suara! Jangan sampai mengacaukan semua susunan rencanaku." Ya Naya sudah menyusun beberapa rencana untuk menyakiti Abimana dan Naya yakin pria itu tidak akan mampu bersikaf angkuh apa lagi membanggakan dirinya.
"Baik. Aku akan menjadi kekasih yang penurut untukmu."
"Ini untuk menopang kepalamu." Naya memberikan bantalnya pada Sean, pria tampan itu tersenyum cerah. Naya memperdulikannya dan ia bahagia.
Naya secara perlahan menggeser gambar camera berwarna hijau dan sepertinya panggilan video yang di lakukan ibu mertuanya.
"Hallo,,, Ada apa Bu? Ibu dan ayah baik - baik sajakan?" Sean dapat mendengar kekhawatiran yang tulus dari nada suara kekasihnya.
"Hallo, Naya sayang. Ibu dan ayah baik - baik saja. Kami hanya merindukanmu, kami juga sudah menelpon Disa di rumah ibumu. Bagaimana kabarmu Sayang?" Ibu mertua Naya terlihat ramah dan antusias terhadap menantu satu-satunya itu. Sean menebak hubungan Naya dan mertuanya berjalan baik.
"Kabarku baik Bu, syukurlah jika Ibu dan Ayah baik-baik saja."
"Uhuk - uhuk,,," terdengar suara seseorang batuk dari sebrang sana.
"Ayah kenapa Bu?" Naya terlihat cemas.
"Ayah baik-baik saja hanya sedikit flu. Kapan kau dan Bima akan mengunjungi kami?" Ayah mertua Naya bertanya dengan suara pelan.
__ADS_1
Naya mengabaikan pertanyaan Ayah mertuanya. "Sejak kapan ayah Flu, apa Ayah sudah ke dokter. Apa perlu Naya ke rumah Ayah dan ibu?" Naya selalu cerewet jika menyangkut orang-orang yang di sayanginya.
Sean yang mendengarkan di bawah tempat tidur merasa tersentuh dengan pertanyaan-pertanyaan Naya terhadap orang tua Abimana. Padahal selama ini Sean adalah seseorang yang tidak pernah perduli terhadap orang di sekitarnya, Namun mendengar Naya memperdulikan orangtua dari suami yang melukai dan menjatuhkan Naya hingga kejurang berlumur luka membuat Sean berpikir jika wanita seperti Naya adalah wanita yang tidak menyangkutpautkan kesalahan satu orang terhadap banyak orang.
"Tidak perlu Nak, jika kau ingin kemari, kemarilah esok hari." Ujar Ayah Bima.
"Oh, Ya. Kemana Abimana? Mengapa sejak tadi Ibu tak melihatnya?" Ayah dan ibu Abimana bergantian menyetor wajah ke ponsel mereka sehingga membuat Naya terkekeh, terlebih saat ibu mertuanya ingin menguasai ponselnya.
"Dia,,, dia-"
Naya kesulitan untuk menjawab tak mungkinkan, jika Naya mengatakan putra mereka satu-satunya tengah berada di rumah istri mudanya.
"Abimana mungkin tengah lembur. Bu," ucap Naya pada akhirnya, terdengar sendu.
"Nayaaa, kau baik-baik daja kan?" Ayah mertuanya kali ini yang bertanya.
Naya tersenyum pelan, "Aku baik-baik saja ayah."
"Nak,,, jika ada sesuatu yang membuatmu tak nyaman katakan pada kami. Jangan kau menutupi sesuatu dari Ayah dan ibu. Kami orang tuamu bukan orang lain." Ibu mertua Naya memang sangat tulus menyayangi Naya sepenuh hati layaknya seorang ibu kepada putrinya.
Naya meneteskan air matanya. Bagai mana Naya tidak terharu terhadap kedua mertuanya yang begitu baik terhadapnya. Naya menyayangi Ayah dan ibu Abimana, terlepas dari apa yang pria itu lakukan terhadapnya.
"Kau putri kami satu - satunya. Mana mungkin kami tak memperdulikanmu Nak." Terdengar suara ayah yang parau dengan mata yang berkaca-kaca.
"Ayah, ibu jika Naya melakukan kesalahan apa Naya masih putri kalian." Suara Naya bergetar bahkan suaranya sedikit bengek di karnakan air hidung yang menyumbat nafasnya.
"Seperti apapun keadaanmu kau tetap putri kami. Sekalipun dunia menolakmu, tangan kami selalu terbuka untuk merengkuhmu Nak, tak sekalipun kami menganggapmu menantu. Kau ada putri kami, sekalipun hubunganmu dan putra kammi berakhir kau tetap akan menjadi anak kami." Ayah Darma runtuh pertahanannya, ia kini turut ikut mengeluarkan air matanya bersama sang istri. Entah apa awal pembahasan mereka tapi mereka sama-sama terisak pelan.
Seandainya ayah Naya memiliki pemikiran yang luas seperti Ayah Darma, ia tak akan ragu berpisah dengan Abimana sekalipun tak membawa sepeser gartapun. Namun kenyataan tidaklah semudah itu Ayah Naya menentang ia bercerai.
Rumor tentang mertua kejam di tangkis dengan takdir hidup Naya yang memiliki sosok mertua yang perduli serta perhatian terhadap menantunya.
Meski demikian setiap rumah tangga memiliki cobaannya sendiri, termasuk Naya, suaminya kini tengah bertingkah dan tergila-gila dengan wanita lain.
Sean mematung di bawah, percakapan sederhana antara kedua mertua dan menantunya menggetarkan hati Sean, bagai mana Sean tak terkejut akan ketulusan orang tua Abimana.
__ADS_1
"Terimakasih Ayah, terimakasih ibu." lamunan Sean turut buyar saat terdengar tawa sumbang Naya yang tak mengandung humor sama sekali.
"Tidak perlu berterimakasih Sayang, sebagai orang tua kami menerima baik buruknya anak kami. Kelak jau akan merasakannya."
"Ya Ayah, aku merasakannya tapi tidak dengan ayahku. Ayahku berprinsip jika aku menjanda aku hanya akan menjadi aib untuk keluarga." Naya hanya mampu mengatakan itu dalan hatinya.
"Ibu, Ayah. Ini sudah malam sebaiknya kalian istirahat. Aku akan mengunjungi kalian lain waktu. Aku menyayangi kalian." Naya ingin cepat-cepat mengakhiri panggilan ia tak kuat menahan lebih lama laju air matanya yang hendak kembali meluncur.
"Kau juga harus istirahat. Tidak usah menunggu Abimana, kami menyayangimu. Jaga dirimu baik - baik. Hanya dirimu sendiri yang tau kapasitas kesakitan yang kau terima, kami selalu mebdukung apapun keputusanmu." Ibu Ayu menyemangati Naya, tapi justru Naya semakin melou saja.
"Baik, Bu. Ku akhiri panggilannya, semoga kalian panjang umur dan sehat selalu." Naya tak menunghu jawaban dari keduanya, ia lebih memilih menyembunyikan wajahnya di antara kedua lutut yang ia tekuk.
" Hiks .... Hiks ...."
Bahu Naya tergoncang hebat, Sean yang sejak tadi bersembunyi di bawah akhirnya menunjukan batang hidungnya.
"Nayaaa ..." Sean memanggil Naya dengan mendayu-dayu serta suara yang selembut beledu.
Naya mendongak menampilkan air mata yang membanjiri wajahnya, hidungnya bahkan sudah memerah, karna sedari tadi ia menahan tangis. Punggung tangan Naya berkali-kali menseka air hidung yang merembes dari tempatnya.
"Seann, di banding orang tuaku mereka lebih perduli terhadapku. Lalu pantaskah aku mendapatkan cinta yang tulus dari mereka." Naya kembali menyembunyikan wajahnya di lututnya sendiri.
"Tentu saja pantas, kau juga terlihat sangat menyayangi mereka."
"Ya Se, aku menyayangi mereka. Tak ada alasan untuk aku membenci mereka."
"Mari tidur, bukankan mereka menyuruhmu beristirahat?" Sean membawa Naya untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang raksasa milik Naya.
"Tidurlah."
"Peluk aku Se!"
"Aku akan memelukmu, semalaman. Memang hanya pelukan yang kau butuhkan saat ini." Sean memeluk erat tubuh Naya menjadikan lengannya sebagai bantalan kekasihnya.
Hangat dan nyaman itu yang keduanya rasakan.
__ADS_1
"Se, bagaimana jika Abimana kembali dan mendapatimu di sini?" Naya mendongak menatap wajah Sean, namun tidak hanya wajah yang terlihat jakun serta rahang tegas Sean tak luput dari perhatian Naya.
"Aku janji, aku akan pulang sebelum Abimana tiba. Tidurlah dengan nyenyak tuan putri." Sean mendaratkan satu kecupan di ubun - ubun kekasihnya. Naya hanya mengangguk, entah mengapa ia mempercayai ucapan Sean terhadapnya.