Reuni Invite Hell

Reuni Invite Hell
Jangan gegabah


__ADS_3

Abimana berada di dalam kamar miliknya dan Naya, sedangkan istrinya itu malah memasuki kamar tamu.


Abimana menatap nanar foto pernikahan yang terbingkai indah di dinding, terlihat jadul di antara deretan foto lainnya. Di sana Naya terlihat sangat cantik dengan senyumam yang luar biasa mempesona, kini senyuman itu tak dapat Abimana nikmati kembali, senyuman itu sudah lenyap di gantikan dengan seringaian sinis yang kerap kali Naya berikan untuknya.


Abimana masih belum percaya Naya sudah melukainya sedalam ini. Abimana kembali memejamkan matanya, bukan untuk tertidur melainkan dirinya tengah menikmati rasa sakit yang Naya berikan. Ia menyesal, sungguh Abimana sangat menyesal sudah mengkhianati istrinya, seandanya saja ia bisa menahan diri, semua neraka ini tidak akan menenggelamkannya.


"Naya aku minta maaf, sungguh aku menyesal." tapi yang Abimana rasakan ia tetap mencintai Naya sekalipun wanita itu sudah menyakitinya sedemikian rupa Abimana tak membencinya, ia menyadari semua hal yang Naya lakukan adalah untuk membalaskan dendam terhadapnya. Abimana tidak ingin kehilangan Naya, demi apapun ia masih menginginkan Naya untuk menjadi istrinya.


" Dasar bodoh!" Abimana memaki dirinya sendiri. Proa itu mencengkam rambutnya ke dinding, menampar pipinya beberapa kali, hingga menghantukan keningnya ke dinding, Abimana berharap setidaknya ini bisa sedikit mengurangi penyesalan dalam dirinya. Tapi tetap saja rasa sesal membelenggu jiwanya.


.


Naya berada di salah satu kamar tamu di rumahnya. Meski merasa puas tapi hati kecil Naya di hinggapi rasa bersalah. Ia juga tidak membenarkan tindakannya yang sudah merusak marwahnya sebagai seorang istri, bathinnya juga mengutuk kesalahan yang sangat besar yang ia lakukan dengan sengaja, untuk membalas sakit hatinya. "Apa bedanya aku dengan Abimana? Sama-sama penghianat, bahkan aku lebih parah dengan menghadirkan nyawa lain di rahimku." Naya turut meneteskan air matanya ia merapa janin yang berada di perutnya, "Maafkan Mama sudah menghadirkanmu dengan cara yang salah. Tapi percayalah Mama menyayangimu." Naya berbicara sendiri, sudut bibirnya sedikit tertarik saat sebuah panggilan masuk membuat ponselnya berdering nyaring.

__ADS_1


"Lihatlah Papamu menelpon Mama, pasti dirinya mengkhawatirkanmu." Naya tersenyum, hatinya gembira saat Sean menghubunginya, tanpa pikir panjang Naya langsung mengangkat panggilan itu.


"Hallo." Naya melipat bibirnya, merasa lucu saat melihat Sean yang kini tengah bertelanjang dada.


"Sayang, mengapa belum tidur? Malam sudah larut, pejamkan matamu." Sean merebahkan tubuhnya di atas sandaran tempat tidur.


Hati Sean sedikit lega kala memastikan sendiri jika Abimana tidak menyakiti kekasihnya. Jika saja Abimana kembali mengangkat tangannya di hadapan Naya Sean akan memastikan, pria yang bernama Abimana itu akan memasuki rumah sakit.


"Mau di temani tidur olehku?"


"Ish kau ini, kau ingin membongkar hubungankita rupanya."


"Sungguh aku tidak keberatan."

__ADS_1


"Se, cukup namaku yang hancur. Jangan sampai namamu turut rusak karna kesalahanku." Naya menatap sendu ponsel yang menampilkan wajah sang kekasih.


"Nayaaaa, kita melakukan kesalahan dengan sadar, aku tidak keberatan sekalipun satu dunia menggunjingku. Yang terpenting kau tidak menjauhiku, berjanjilah kau tidak akan meninggalkanku. Berjanjilah kau tidak akan memisahkan aku dan putraku." Sean berkata bersungguh-sungguh.


Naya hanya terkekeh, Sean mengatakan jangan memisahkan ia dan putranya. Putra? Putra yang mana yang Sean maksud?


"Putramu?"


"Ya putraku, aku sangat yakin benihku yang tengah tumbuh di rahimmu adalah seorang putra, penerusku dan keluarga Aditya, Mamaku akan sangat senang jika ku beritahui ia akan menjadi seorang Nenek." Sean tersenyum bangga, ia berhasil membuat kekasihnya mengandung benihnya.


"Sean jangan gegabah, tunggu aba-aba dariku, menurutlah padaku."


"Baiklah, aku selalu menuruti keinginanmu. Tidurlah, jangan khawatirkan apapun." Sean menutup panggilannya.

__ADS_1


__ADS_2