Reuni Invite Hell

Reuni Invite Hell
Ingin tetap berpisah


__ADS_3

Abimana sepertinya tak main-main saat akan memperbaiki rumah tangganya, tak peduli dengan Naya yang tengah mengandung benih pria lain.


Abimana sudah bangun sejak pagi tadi, ia sudah membuat sarapan untuk mereka, sarapan kali ini berupa nasi bakar dan salad buah.


"Selamat pagi." Bima tersenyum, menyambut kedatangan sang istri, Abimana bersikap ramah seakan di antara mereka tidak terjadi masalah.


Naya menggenggam selembar map di tangan kanannya juga dengan satu pena yang ia apit secara berbarengan.


"Tanda tangani.!" Naya berujar dingin, meletakan map beserta penanya tepat di hadapan Abimana yang tengah menata makanan.


Naya dengan senang hati membukakan selembar surat itu, "Aku sudah menanda tangani surat ini." Naya menunjuk tanda tangannya menggunakan jari telunjuknya.


Abimana membisu sesaat, ia sudah bisa menebak apa isinya, terdapat di lihat dari logo pengadilan yang terdapat di atas surat itu. Abimana berdecih, dan segera mengambil surat itu dari tangan Naya. Ia tak ingin cape-cape membaca isinya. Abimana merobek surat itu menjadi serpihan kecil kemudian menghamburkannya ke udara tepat di hadapan Naya.


"Sudah ku katakan aku tak ingin bercerai darimu Naya." Abumana menatap Naya yang kini mengepalkan kedua tangannya.


"Aku tak akan melepaskanmu sekalipun kau memohon." Abimana duduk di kursinya.


"Sadar Abimana! Aku tengah hamil benih pria lain apa kau tak merasa malu?"


"Lebih dari itu perasaanku Naya. Aku bahkan merasa terhina akan apa yang telah terjadi. Tapi mengingat aku yang pertama kali melakukan kesalahan, aku bisa memaklumi semua yang kau lakukan. Aku akan menerima anak itu sebagai anakku." Abimana berujar datar, ia tak ingin menatap Naya, meski lidahnya berkata demikian tapi hatinya berkhianat ia membenci penyebab bayi itu tumbuh.

__ADS_1


"Aku tidak mau Abimana, hubungan kita sudah bermasalah sejak lama dan aku ingin mengakhirinya!" Naya mulai terpancing emosi suara nyaringnya kini membuat Abimana merasa tersentak.


"Kau tengah hamil Naya. Pengadilan akan menolak permintaanmu."


"Aku hamil anak pria lain Abimana!"


"Aku tau Naya. Tak perlu kau mengatakannya berulang-ulang." Abimana memaklumi mood Naya yang berubah-ubah, Naya juga seperti itu semasa memangandung putrinya.


"Aku bisa mengatakan kepada hakim jika aku berkhianat, dan aku yakin prosesnya akan cepat. Namamu akan bersih Abimana." Naya mencoba membujuknya Abimana.


"Jangan mempermalukan dirimu sendiri Naya."


"Diriku atau justru dirimu yang malu Abimana?"


"Satu hal Abimana, aku sudah tak memperdulikan lagi apa kata orang. Aku tetap ingin berpisah darimu, tak masalah kau tak membagi harta yang kita miliki sebagai mana perjanjian kita di awal. Pikirkan Abimana jika kita masih bersama justru yang ada kita saling menyakiti, aku akan terluka dan selalu melihat kesalahanmu. Begitu juga dengan dirimu aku yakin kau akan selalu mengingat pengkhianatanku lebih baik kita mengakhiri hubungan kita." Naya masih berjuang membujuk Abimana agar pria itu bisa luluh.


Naya mengingat Sean, begitu banyak hal yang Sean korbankan untuk dirinya. Naya tak tega jika harus menyakiti pria itu, Naya sudah benar-benar hanyut akan sikaf Sean yang di tunjukan padanya.


Naya bertekad bagaimanapun caranya ia harus mengahkiri pernikahannya.


"Naya sebaiknya kita saling melupakan apa yang sudah terjadi. Kita sama-sama bersalah." Abimana meraih tangan Naya tapi Naya menepisnya.

__ADS_1


"Aku sudah tak lagi mencintaimu Abimana! Inilah alasannya saat aku mengatakan kau tak lagi mencintaiku. Karna kebenarannya sast kau mengaku mencintai Dewi sebenarnya kau tak lagi mencintaiku. Ini faktanya. Saat aku mencintai Ayah bayi ini aku tak lagi ingin menoleh ke arahmu. Terus terang namamu sudah lenyap di hatiku, aku rasa kau keliru menyimpulkan kau mencintaiku."


"Apa ayah bayimu lebih tampan dariku? Apa dia lebih kaya dariku? Atau perlakuannya sangat manis terhadapmu?" Abimana masih belum menerima penolakan Naya, padahal ia menawarkan keputusan hal yang paling baik untuk putri mereka.


"Ku akui, dia juah lebih tampan darimu. Mengenai hartanya aku belum tau, tapi dari sikafnya dia membuatku nyaman sekaligus mengobati luka hati yang di timbulkan olehmu, dia sangat pengertian dan selalu mengutamakan ke inginanku. Aku rasa aku tidak tertolong lagi, aku benar-benar sudah terperangkap pesonanya." salahnya sendiri Abimana bertanya mengenai pria itu, sehingga Naya mengatakan yang sebenarnya yang justru membuat dirinya semakin terluka.


"Hampir tiap malam dia merengkuhku dari rasa dingin dan kesepian, dia menghiburku kala dengan bodohnya aku mencemaskan sekaligus merindukanmu. Dia menjadi penawar di setiap rasa sakit yang ku miliki. Dia mengobatiku kala kau menamparku. Dia juga memuaskan-"


"Cukup Naya! aku tak ingin mendengarnya lagi. Aku tau aku bersalah padamu. Harusnya aku tidak menduakanmu lebih dulu." Abimana memotong pembicaraan Naya, ia tak ingin mendengar gal lain lagi tentang pria itu.


"Aku minta maaf Naya. Kesalahan terbesarku adalah mengkhianatimu, dan aku menyesal."


"Kesalahanmu sejak awal adalah tidak menceraikanku. Harusnya saat kau mimiliki getaran untuk Dewi dan menyadarinya langkah pertama yang harus kau ambil adalah menceraikanku Abimana, jika sejak awal kau berlaku demikian ini semua tidak akan terjadi." suara Naya bergetar.


"Harusnya saat kau mencintai wanita lain katakan padaku. Meski di masa itu aku mencintaimu, aku akan menghormati keputusanmu. Bukan malah mengundang apa dan justru aku bahkan mengundang neraka untuk hubungan kita."


"Aku mohon maaf Naya. Tolong beri aku satu jesempatan lagi. Aku janji aku tak akan melakukan kesalahan yang sama." Abimana berlutut dan memohon maaf.


"Satu kesempatan?"


Abimana mengangguk dengan memelas, berharap Naya berbaik hati padanya.

__ADS_1


"Aku sudah memberikan kesempatan itu sebelum kau memintanya. Aku sudah memberikanmu kesempatan saat di mana Dawi datang kerumahku dan mengaku sebagai istrimu juga. Tapi apa? Kau menyia-nyiakan kesempatan itu. Keputusanku sudah bulat, aku ingin tetap berpisah." Tak ada keraguan sedikitpun di hati Naya.


Naya tak sedikitpun menyentuh makanan yang di buatkan Abiman.


__ADS_2