Reuni Invite Hell

Reuni Invite Hell
Selera kalian berbeda


__ADS_3

Entah berapa lama Naya tidak tidur senyenyak ini, Abimana kerap kali tidak pulang sehingga membuat Naya khawatir, dan sering terbangun di malam hari untuk memastikan jika pria itu baik-baik saja entah dengan cara menelpon pria itu atau menanyakan keberadaan Abimana pada asistennya.


Sia-sia saja kekhawatiran Naya selama ini, ternyata suaminya itu pasti tengah bermalam dengan istri mudanya saat Naya menunggu pria itu di rumah dengan gelisah. Harusnya Naya tidak mempercayai pria itu sepenuh hati.


Sean memandangi wajah Naya yang kini terlelap di pelukannya. Tangannya terulur untuk mengusap wajah damai Naya yang terlihat tenang. Siapa yang menyangka jika wanita itu tengah terluka oleh perbuatan suaminya sendiri. Sungguh Sean tak mengerti mengapa rasa yang dulu sempat hadir kini kian membuncah di dadanya.


"Aku menyukaimu dengan gelisah, bahkan aku merasa tak waras saat menggilaimu seperti ini. Ini adalah hal terkonyol yang pernah ku lakukan Naya, aku bersama seorang wanita yang sudah bersuami ini gila. Dan aku menyukai kegilaan ini." Sean terus memandang lekat wajah ayu kekasihnya semalaman penuh.


"Semoga saja Tuhan berpihak padaku. Aku ingin Abimana terus melukaimu, terdengar kejam tapi aku ingin menjadi penyembuh untukmu." Tak sedetikpun Sean mengalihkan pandangan ke arah lain. Sean merekam lamat-lamat wajah cantik itu, menyimpannya dalam otaknya.


Saat pagi menjelang, lebih tepatnya pukul 4 pagi Sean menggeser tubuhnya. Ia harus segera pergi sebelum Abimana dan para pekerja Naya kembali bekerja di rumahnya. Dengan mengendap Sean pergi dari rumah itu menuju rumahnya.


Rumah yang berada di dekat rumah Abimana sudah ia beli dan ia tinggali bersama Asisten Liam serta beberapa orang kepercayaan Sean. Ia ingin lebih dekat memantau keadaan kekasihnya, semua akan mudah jika uangmu berbicara dan itu benar adanya, kurang dari 1x24 jam rumah itu telah Sean miliki.


Hanya menggunakan waktu dua menit Sean sudah tiba di rumahnya sendiri. Dan langsung di sambut oleh keberadaan asistennya.


"Tuan."


"Aku ingin tidur sebentar. Siapkan dokumen yang perlu ku tanda tangani, pastikan semuanya berjalan baik jika kau masih menyayangi kepalamu." Sean memperingati asistennya.


"Baik Tuan."


Sean melenggang pergi menuju kamarnya.


.


"Nayaaa ..."


"Nayaa."


"Hey bangun ini sudah pagi." Abimana menepuk pelan pipi Naya, sejak 5 menit lalu dirinya berusaha membangunkan Naya, namun wanita itu layaknya orang mati yang tak bergeming sama sekali.


Tumben sekali pikir Abimana biasanya Naya akan terbangun bahkan ketika ia baru membuka pintu kamar.


Abimana tersenyum samar, ia mengira Naya sudah meluluh terhadapnya. Itu terbukti karna Naya mau kembali tertidur di kamar mereka. Padahal Naya sudah beberapa waktu tidur di kamar tamu. Apa tamparan pagi buta kemarin yang Abimana lakukan menyadarkan Naya jika memang Abimanalah yang berkuasa di rumah itu.


Senyuman Abimana menyurut saat ia melihat bantal di sebelah Naya sedikit kusut juga dengan tempat di sebelahnya yang nampak beraturan.


Abimana menatap kasihan pada tubuh Naya.


"Maaf, aku tau karna diriku semalaman pasti kau gelisah dan tak nyenyak tidur." Abimana mengira jika Naya semalaman gelisah dan berpindah tempat tidur sehingga kedua tempat di sisi tempat tidur itu terlihat kusut.


Dasar Abimana terlalu percaya diri.


Abimana juga mendaratkan satu kecupan di kening istri tuanya.

__ADS_1


Naya menggeliat dari tidurnya, matanya mengerjap berulang kali, mencoba menetralkan pandangan dari bias cahaya yang menusuk matanya.


"Nayaaa,"


Naya seketika terlonjak kaget akan kehadiran Abimana. Ia takut jika Abimana menangkap basah Naya yang terlelap di pelukan pria lain.


"Hey, kau kenapa?" Abimana mendekat dan mengusap pipi Naya lembut.


Naya masih linglung dan mencoba mengedarkan pandangan, mencari sosok pria tampan yang memeluknya semalaman penuh. Kemana Sean pergi.


"Ada apa? Apa yang kau cari?"


Sean tak menjawab pertanyaan Abimana, ia masih memikirkan kemana Sean pergi. Otaknya mengingat jika semalam Sean mengatakan akan pergi sebelum Bima kembali, dan beruntung Sean benar-benar pergi sebelum Abimana kembali. Naya mende sahkan nafas lega.


"Kau baru pulang?" Naya bertanya basa basi.


"Sudah dari setengah jam yang lalu aku bahkan sudah mandi."


"Oh ..."


Abimana mendekatkan wajahnya hendak mencium Naya tapi wanita itu menghindar, Naya merasa jijik kala suaminya sendiri hendak menciumnya.


Abimana merasa tersinggung kala Naya menjauhkan wajahnya. "Ada apa? Kau menolak ciumanku?" Abimana terlihat garang.


"Aku bau belum sikat gigi, aku tak ingin kau membandingkan ciuman nantinya." Naya beranjak menuju kamar mandi.


Naya bersyukur Abimana tak berada di kamar, entah kemana pria itu pergi. Yang pasti Naya sangat leluasa. Tempat tidur juga sudah rapih sepertinya Abimana sudah merapikan tempat tidur mereka.


Saat Naya menuruni anak tangga Sean sudah berdiri di ruang tengah sepertinya Abimana tengah mengintrogasi pria itu terlihat dari Sean yang beberapa kali mengangguk dan menjawab pertanyaan Abimana.


"Nay, tolong siapkan sarapan untukku." Abimana berujar saat Ia melihat keberadaan Naya. "Aku ingin nasi goreng seperti biasa." ujar Abimana kembali.


Naya tak menyaut ia lebih dulu menuju dapur terlihat para pekerja sedang membersihkan rumah.


Naya yang hendak membuat nasi goreng mengambil kembali bawang putih yang hendak ia haluskan, ia teringat akan perkataan Sean yang tidak menyukai bawang putih, sehingga Naya merubah resep nasi gorengnya tanpa bawang putih.


Naya membungkus makanannya di sebuah kotak bekal lengkap dengan telur ceplok dan irisan timun, tentu saja ia memisahkan itu untuk kekasihnya.


Rasanya Naya muak harus satu meja makan dengan Abimana.


Abimana mengerutkan kening saat rasa masakan Naya berbeda.


"Kau yang memasak ini kan?"


"Iya."

__ADS_1


"Lalu mengapa rasanya berbeda?"


"Berbeda bagaimana?"


"Apa kau membuatnya tanpa cinta?" Haruskan Abimana bertanya demikian, bukankah Abimana yang membumi hanguskan cintanya. Naya memilih dian tak menjawab.


"Aku hanya bercanda." Abimana terkekeh.


"Kau mengganti resepnya?"


"Tidak, itu hanya perasaanmu karna kau sudah mencicipi rasa lain selain diriku." ucap Naya penuh sindiran. Abimana yang mengerti maksud Naya lebih memilih membungkam rapat mulutnya.


"Kau mau ke caffe?"


"Tentu saja."


"Hati-hati, jangan keluyuran tak jelas, aku sudah meminta Adit untuk mengawasimu." Abimana memanggil Sean dengan sebutan Adit. Karna Sean memperkenalkan diri dengan nama Aditya, tidak salah sih Aditya memang nama belakangnya.


Meminta Sean mengawasi Naya sama saja menitipkan ayam pada elak, Ck. Abimana memang bodoh puji Naya dalam hati.


"Ya, aku tak akan keluyuran, semalam aku pulang pukul 7."


"Bagus lah."


Selesai sarapan Abimana pamit untuk bekerja, suasana kembali canggung setelah membahas rasa masakan Naya.


Setelah memastikan Abimana pergi Naya segera mengambil kotak nasi gorengnya dan memasuki mobilnya, terlihat Sean sudah menunggunya.


"Makanlah lebih dulu. Aku dudah membuatkanmu sarapan nasi goreng."


Sean meraih kotak Nasi goreng itu dan membuka tutupnya, tak langsung memakan Sean mencium aroma nasi goreng itu lebih dulu. Tak tercium aroma bawang putih sama sekali itu artinya Naya tak memberijan bawang putih di makanan itu.


"Apa selera Abimana sama denganku? Tak menyukai bawang putih?"


"Tidak, dia menyukai bumbu itu."


"Lalu mengapa masakan ini tak terdapat bawang putih? Apa kau sengaja membuat nasi goreng ini khusus untukku?"


"Aku mengubah resep nasi gorengnya, bisa di katakan sengaja agar kau dapat memakan masakanku." ujar Naya.


"Wah aku tersanjung Naya, kau memperdulikan aku." Sean tertawa.


"Tentu saja kau kekasihku."


"Ku pikir tadinya seleraku da Bima sama."

__ADS_1


"Tidak Se, selera kalian berbeda. Jika Bima normal menyukai daur muda sedangkan kau? Kau menyukai wanita tua istri orang pula." cebik Naya.


__ADS_2