
Naya merenung, meratapi pernikahannnya yang hancur dalam hitungan hari.
Tak pernah terbayangkan dan tak pernah terpikirkan cintanya akan semenyakitkan ini, pria satu-satunya yang Naya cintai tega menikamnya dari belakang menyakitinya dengan begitu kejam dalam ke adaan sadar.
Bohong jika Naya tak terluka oleh tindakan Abimana. Walau bagai manapun ia seorang wanita biasa ia juga merasa lelah serta muak dengan apa yang menimpampanya. Namun Naya harus sedikit bersabar setidaknya untuk membalas perbuatan Abimana padanya. Naya bersumpah tak akan pergi sebelum memberikan luka yang sama terhadap pria yang sudah memberikannya satu putri itu.
Naya terisak kala matanya menatap ke arah dinding yang di mana terdapat foto pernikahannya lima belas belas tahun lalu. Semudah itu Abimana menduakannya dengan wanita lain.
Abimana masuk ke kamar yang Naya tempati, entah Naya lupa mengunci atau memang Bima memiliki kunci cadangan kamar mereka.
Naya yang terlalu lelah untuk berdebat akhirnya membaringkan tubuhnya dan membelakangi sisi kosong di sampingnya. Beruntung Naya sudah selesai membersihkan diri.
Bima turut membaringkan tubuhnya di samping Naya, tangan kanannya terulur membelit perut rata istri tuanya.
"Aku merindukanmu Naya, haruskah kita terus seperti ini?" Suara Bima terdengar bergetar.
Naya membiarkan Bima memeluknya, jujur di dalam hatinya yang paling dalam ia merindukan prianya, namun hatinya yang lain menolak atas apa yang pria itu lakukan padanya, Naya harus membentengi diri lebih tinggi.
Naya mencoba melepaskan pelukan pria yang telah memadu dirinya secara diam-diam.
"Biaerkan seperti ini, sudah lama kita tak tertidur bersama. Kau tak merindukan aku?"
"Saat ku tau kau menduakanku. Tak ada lagi rindu yang tersisa untukmu." Bohong Naya, faktanya Naya kerap kali menangisi Bima kala pria itu tengah berada di luar rumah.
Tak mudah bagi Naya melupakan pria yang sudah hidup bersamanya selama belasan tahun.
__ADS_1
"Apa kurangnya aku selama ini Bima?" Ucap Naya Datar dan membekukan terdengar menyakitkan untuk Bima bahkan pria itu sampai memejamkan matanya.
"Kau tak kekurangan apapun Nay. Kau sempurna. Aku beruntung memilikimu."
"Sayangnya di miliki olehmu adalah kesialan dalam hidupku. Cepat atau lambat aku akan tetap mengakhiri ikatan kita." Kali ini Naya berujar lirih, bayangan kebahagian selama lima belas tahun itu kini terlihat buram dan retak, bisa jadi besok atau lusa bayangan kebahagiaan mereka akan berserakan tak tersisa.
"Nay, kau boleh melakukan apapun untuk membalasku. Tapi ku mohon jangan usaikan tentang kita." Bima semakin erat memeluk tubuh ringkih itu.
"Malam ini aku tak akan membiarkanmu kedingan lagi, aku akan memelukmu sampai pagi."
"Kau tak akan mampu bertahan dengan sisi lain diriku Bima!" Setelah itu Naya tak mengucapkan apapun lagi sepertinya ia sudah terbawa ke alam mimpi, hingga ia terbangun kala dering ponsel Bima bernyanyi nyaring.
Naya melirik jam di dindingnya menunjukan pukul empat pagi.
"Nay, aku harus kerumah sakit. Dokter memintaku kesana, entah apa yang terjadi pada Dewi." Mendengar nama istri muda suaminya Naya memalingkan wajah. Baru beberapa jam yang lalu Bima mengatakasn akan menemaninya sampai pagi, nyatanya hari masih gelap saja prias itu hendak pergi.
"Jika aku memintamu untuk tetap tinggal, apakah kau akan tetap di sini bersamaku?" Naya menatap lantai dengan mata yang berkaca-kaca.
Bima yang tengah mengancing kemejanya menghentikan gerakan tangannya. "Ini darurat Nay, aku adalah wali dari Dewi sekarang ku mohon mengertilah!"
"Kau memaksaku untuk terus mengerti dirimu, sedangkan kau? Kau yak pernah mengertikanku sejak beberapa waktu terakhir, kau kerap kali meninggalkanku. Yang kau perdulikan hanya istri mudamu." Naya meninggikan suaranya, suara yang tak pernah Naya perlihatkan pada siapapun.
"Naya, hentikan kau keterlaluan, Dewi juga istriku, dia sedang sakit aku tak bisa mengabaikannya."
"Lalu karna dia sedang sakit kau berhak menelantarkan aku semaumu Bima, ku beri saran jika kau tak mampu berlaku adil, ceraikan aku atau dirinya." Naya semakin meninggikan suaranya entah berapa oktaf.
__ADS_1
"Kau semakin keterlaluan Naya, aku semakin tak mengenalmu."
"Kau tak akan mengenalku kala yang kau pandang adalah dirinya. Apa kelebihannya? Apa dia lebih memuaskanmu saat berada di atas ranjang? Atau permainan mulutnya lebih menyenangkanmu?" tanya Naya sinis.
"Naya hentikan!."
"Apa yang harus ku hentikan? Kau yang harus menghentikannya Bima, kau akan celaka sudah memperlakukanku seperti ini, kau ingin meninggalkanku! Apa jika kau tak pergi Ja-lang itu akan mati."
" Naya ..."
Plakk ...
Tamparan keras mendarat di pipi putih Naya, yang seketila menciptakan ruam merah kebiruan di wajah putih Naya.
Untuk pertamakalinya Bima melesatkan tangannya pada seorang wanita yang menemaninya dalam berbagai cuaca, juga ratusan purnama.
Pertahanan Naya runtuh sudah ia tak lagi meninggikan suaranya.
"Pergilah! Sekalipun kau tak kembali aku tak akan perduli lagi."
Naya tak melepaskan tatapannya dari lengan kekar nan berotot itu.
Bima turut melihat tangannya yang sudah lancang memberikan sidik jari di pipi istrinya. Bima dapat melihat saat ujung bibir Naya mengeluarkan darah segar.
"Nay, aku-"
__ADS_1
Tak ingin kembali terluka Naya memilih berlalu dari sana dengan membawa kembali genggaman luka baru. Hatinya lebih terluka bahkan berdarah-darah akan tamparan pria dewasa itu.