
Abimana masih memaku di tempatnya, ia sekarang kesulitan mengambil oksigen, dadanya sesak, tulang iganya terasa menghimpit paru-parunya. Ia rasa airmatanya cukup menggambarkan suasana hatinya.
Baru Abimana sadari pengaruh Naya terlalu besar untuk hidupnya, Abimana bahkan tidak menangis separah ini sekalipun di kematian istri mudanya. Abimana kalut, syok, juga terpukul dengan apa yang terjadi.
Hampir 5 bulan lamanya Abimama tak menyentuh istri pertamanya. Tapi malam ini denga tiba-tiba Naya memberikan kejutan yang luar biasa, kejutan yang tidak akan pernah ia lupakan di sisa hidupnya.
Ucapan selamat dari para tamu dan orang tua Abimana membuat luka Abimana seakan terkena air perasan jeruk nipis, sakitnya sunghuh terasa dan Abimana sulit untuk menghentikannya, rasa sakit itu telah menyebar keseluruh tubuhnya bagaikan racun king kobra yang sudah menggumpalkan darahnya.
"Selamat atas kehamilan istrimu Abi, semoga tidak ada lagi masalah dan cobaan dalam rumah tanggamu." Ayah Darma mengucap pelan, dengan wajah yang berpaling dari hadapan putranya.
Ingin sekali Abimana berteriak justru masalahnya saat ini adalah ke hamilan istrinya, siapa yang sudah menanam benih di lahan miliknya? Namun Abimana tak berdaya, Naya sudah berhasil memukul telak dirinya, melumpuhkannya dengan satu kali serangan.
__ADS_1
Naya benar-benar tak main-main dengan apa yang ia janjikan sebelumnya.
Naya menyadari tatapan luka yang Abimana berikan untuknya. "Tidak usah berterima kasih. Aku mengerti, bukankah aku selalu menepati janjiku padamu." ucap Naya senang tak ada yang menyadari sindiran dari kalimat Naya, hanya Sean dan Abimana sendiri yang tau maksud ucapan Naya.
"Demikian dengan kali ini. Aku mengatakan jika Disa akan mengatakan akan memiliki adik dariku, di saat sarapan setelah malamnya aku melihat kalian berzima. Bahkan aku tak lupa kau mengatakan perlu menafkahi istri mudamu itu. Aku sangat mengingat rasa sakitnya. Apa kabar denganmu malam ini?" Naya menunduk dan bergunam membisikan kalimat sang demakin membuat Abimana merasa menyesal sedalam dalamnya. Naya menyeringai dengan kepuasan yang haqiqi.
"Naya."
"Ada apa sayangku?" Naya melirik ke arah Abimana.
"Pulang? Baiklah, baiklah kita akan pulang. Sebentar ku titipkan Disa pada Ayah dan ibu dulu." Semua tamu berpikir jika mereka tengah di rundung kebahagiaan sehingga harus menikmati malam yang panjang berdua.
__ADS_1
Padahal sebenarnya mereka akan saling menyakiti.
Sekuat mungkin Abimana membuat diri terlihat baik-baik saja, jika ada yang menyadari ke adaannya yang hancur, ia bisa memastikan semua orang akan menerwakan kebodohannya.
Ya Abimana sangat bodoh di saat ia terbuai dengan cinta baru, ia mengabaikan cinta lamanya. Abimana sibuk menyembuhkan istri barunya, sedangkan istri lamanya berlumuran darah dan di tolong oles seseorang dan di sembuhkan, sungguh tidak tahu malu Abimana saat yang ia perjuangkan sudah tiada lantas ia berharap bisa kembali kepada istri lamanya yang ia abaikan dengan sengaja.
Sean yang menyadari keadaan Abimana yang kacau, tak mungkin ia membiarkan Abimana menyetir, ia juga tak ingin kekasih yang tengah mengandung darah dagingnya menyetir sendiri, itu berbahaya. Sehingga ia memutuskan untuk menjadi supir pasangan suami istri itu.
Sepanjang perjalanan, Abimana terus memalingkan wajahnya, air matanya juga tak berhenti terus menganak sungai tak terbendung lagi, entah sudah berapa tetesan air mata yang Abimana keluarkan sungguh Abimana tak menghitungnya.
Harus berapa kali Abimana mengatakan jika ini benar-benar menyakitkan untuknya.
__ADS_1
"Bagai mana rasanya Abimana? Kau menikmatinya?" Abimana memejamkan matanya sulit untuk ia jelaskan rasanya. Naya maupun Sean tidak akan mengetahui rasanya jika mereka tak merasakannya sendiri.
Belum apa-apa Abimana sudah mendapat neraka di dunia berupa penyesalan. Entah bagian mana yang Abimana sesali yang jelas ia sangat menyesal karna sudah menciptakan noda di pernikahannya.