Reuni Invite Hell

Reuni Invite Hell
Sebentar lagi


__ADS_3

Saat Naya menuju ke caffe di antar oleh Sean wanita itu pingsan setelah sebelumnya muntah-muntah.


Naya benar-benar sakit. Tekanan darahnya rendah juga HB wanita itu sangat lemah sehingga dokter menyarankan Naya untuk di rawat. Naya juga kelelahan dan kekurangan nutrisi. Stres juga pemicu kondisi tubuh Naya yang menurun.


Meski Sean akan menemani wanitanya, ia tetap harus mengabari bosnya. Ya Abimana harus tau jika istrinya tengah di rawat di rumah sakit.


Beberapa kali Sean melakukan panggilan tapi panggilannya tidak di angkat meskipun panggilannya tersambung.


Sean berpikir harus bagaimana? Mungkinkan Abimana tak mau mengangkat panggilannya karna menurut Abimana ia hanya seorang supir.


Tidak hanya melakukan panggilan, bahkan Sean mengirimi banyak pesan kepada Abimana melalui aplikasi hijau bergambar telepon. Hanya dua ceklis abu-abu itu artinya Abimana tidak membaca pesannya.


sean melihat Naya yang tengah terbaring dengan mata terpejamdi atas brankar pasien.


Sean mengulurkan tangannya mengambil tas Naya yang terletak di atas nakas dan mengeluarkan ponsel kekasihnya.


Sean berusaha membuka ponsel Naya yang menggunakan sidik jari. Ada-ada saja kekasihnya itu persis seperti Abg, pikir Sean.

__ADS_1


Sekali dua kali panggilannya tidak di jawab Abimana. Pada akhirnya Sean juga turut mengirimi pesan dari ponsel Naya, namun lagi-lagi Abimana tak merespon, jangankan bertindak di baca saja pesannya tidak.


Sean menelpon ke nomor rumah Naya dan kebetulan asisten rumah tangga Naya yang mengangkatnya. Sean menanyakan keberadaan Abimana dan asisten Naya menjawab jika Abimana tengah membawa Dewi istri mudanya yang pendarahan dan pingsan ke rumah sakit.


Sean mengakhiri panggilan. Mengingat riwayat penyakit yang di derita madu dari kekasihnya Sean benar-benar berharap semoga Tuhan tidak mematikan Dewi sebelum Naya menjadi miliknya. Terdengar licik tapi nemang Sean seperti itu orangnya.


Naya masih setia memejamkan matanya, bahkan saat Liam asisten Sean memasuki ruang inap Naya untuk meminta Sean mengerjakan tugasnya.


setelah semua berkas yang Liam bawa sudah di tanda tangani Sean, Liam kembali ke kantornya.


"Hallo Adit." Sapa Abimana.


"Ya Tuan. Nyonya sakit dan saat ini tengah di rawat di rumah sakit. Saya harap Tuan kemari untuk mengurus admitrasi dan beberapa hal lainnya." ujar Sean, bukan Sean tak mampu membayar biasa rumah sakit hanya saja ia tengah menguji Abimana akankan pria itu datang di saat istrinya sedang sakit.


"Adit tolong, urus dulu Naya. Istriku yang lain tengah sakit dan ini darurat, istriku tidak bisa di tinggalkan." Abimana mengatakan masalahnya pada supir istrinya.


"Tuan, Nyonya benar-benar sakit tidak bisakah Tuan kemari sebentar saja? Nyonya tidak sadarkan diri sedari tadi." Sean sengaja membesarkan volume ponselnya. Ia tau jika Naya sudah sadar dan menatap ke arahnya tentu saja Naya pasti mendengarkan semuanya. Sean sengaja ingin membuat Naya semakin marah terhadap Abimana.

__ADS_1


"Adit istriku yang ini benar-benar membutuhkanku. Aku tidak bisa meninggalkannya. Keselamatannya yang paling utama"


"Maksud Tuan Nyonya Naya tidak penting?"


"Adit jaga batasanmu!" Abimana meninggikan suaranya.


"Mengertilah keadaanku. Dewi sakit keras bahkan istriku kritis karna ulahku, aku tak ingin menyesal karna meninggalkannya." Ada nada sendu dan penuh penyesalan di akhir kalimatnya.


Naya menebak itu karma karna mereka bercinta semalam.


"Terserah Tuan saja." Pada akhirnya Sean menutup panggilan.


"Kau dengar Naya? Apa sebenarnya yang kau inginkan dari pernikahanmu yang tak sehat ini?"


"Inginku hanya satu, aku ingin Abimana merasakan setiap denyutan sakit yang ku rasakan." Naya berujar datar.


"Sebentar lagi. Hanya sebentar, Abimana akan mendapatkan nerakanya. Aku pastikan Abimana takan berani mengangkat wajahnya saat semua inginku terwujud. Penyesalannya akan menjani neraka untuknya. Reuni kemarin adalah undangan untuk nerakanya untuk Abimana sendiri." Naya tersenyum miring dengan rahang yang mengetat.

__ADS_1


__ADS_2