
Naya sudah tidak memperdulikan lagi apa kata orang. Naya hanya perlu menutup telinga seandainya ada orang yang mencibir dan menghinanya, ia tidak bisa berdiam diri terus menerus atas perlakuan Abimana terhadapnya.
Siapa yang memantik api lebih dulu tentu saja orang itu yang harus menjadi abu. Meski Naya akui dirinya lebih dulu terluka namun Abimana patut mendapat karma, setidaknya Naya ingin memberikan cendra mata sebelum perpisahan mereka.
Sean tiba di salah satu hotel yang paling berbintang di kota itu.
"Ikuti aku! Tidak perlu ke resepsionis."
Sean membawa Naya menaiki lift dan menekan tombol paling atas, pria kekar itu terus menggandeng kekasihnya membawa Naya ke salah satu tempat yang mempunyai akses khusus.
Naya di buat tertegun kala Sean membuka pintu, di dalam sana terdapat ruangan luas bukan kamar hotel pada umumnya, lebih tepatnya hampir menyerupai apartemen namun berada di gedung hotel. Entahlah Naya malas berpikir tempat apa itu.
"Mau makan lebih dulu?" Naya menggeleng pelan menanggapi pertanyaan kekasihnya.
"Aku sudah sarapan."
"Ma-mau langsung ke kamar?" Sean bertanya dengan sedikit gugup, ini bukan kali pertama ia akan berhubungan dengan seorang wanita. Tapi Sean di terpa kegugupan karna hubungan kali ini benar-benar akan terasa berbeda. Ia akan menyumbangkan benihnya kepada seorang istri yang patah hati.
"Hem. Lebih cepat lebih baik." Naya mengangguk dan mengekori Sean dari belakang.
Belum apa-apa Sean sudah panas saja, sehingga ia menaikan suhu pendingin ruangan di kamarnya.
Naya semakin mengatup saat di kamar luas itu terdapat fotret Sean, Naya menebak jika tempat ini memang milik pria itu. Pantas saja Sean tidak memerlukan reseptionis.
"Biar ku mulai." Sean masih merasa ragu. Jika ia berhubungan dengan seorang wanita tak bersuami sih tak masalah tapi ini lain cerita.
"Naya kau yakin? Aku tak akan berjenti saat aku sudah memulainya." Sean kembali memastikan. Naya yang semula meragu kini tidak lagi.
__ADS_1
Naya membayangkan bagaimana Abimana menikah secara diam-diam, mengabaikan kewajibannya sebagai seorang suami dan seorang Ayah, Abimana sudah menyakiti hati dan fisiknya, mengkhianatinya dan yang paling tak termaafkan adalah Abimana membawa ja-langnya ke rumah mereka, serta Abimana melukai putrinya ini hal yang benar-benar membulatkan tekad Naya.
Tanpa kata lagi Naya langsung agresif menerjang bibir Sean, menarik tengkuknya dan kembali membenamkan ciuman bibirnya di sana. Indra perasanya mencoba memancing gairah Sean. Pria itu hanya mematung dan pasrah atas tindakan Naya.
Naya menjauhkan bibirnya, masih dalam posisi berdiri berhadapan. Naya berkata tepat di atas bibir Sean. "Balas ciumanku! Dan nikmati hari ini. Aku akan bertanggung jawab atas apapun di kemudian hari." Naya berujar sungguh-sungguh.
Pada akhirnya pertahanan Sean runtuh, pria itu memvawa Naya mwnuju tempat tidur tanpa melepaskankan tautan bibir mereka.
Tubih Naya memanas, beberapa bulan ini ia tak mendapatkan haknya dari Abimana, Naya adalah seorang wanita dewasa yang normak, ia kerap kali merindukan sentuhan pria di dalam tubuhnya. Selama ini Naya hanya bermain sendiri untuk memenuhi hasratnya.
Naya bahkan memiliki alat-alat yang seringkali di gunakan wanita kesepian untuk memuaskan hasratnya. Miris! Naya seorang wanita dengan setarus istri orang tapi untuk memuaskan dahaganya Naya harus membeli alat-alat terkutuk, berupa dil-do, vib-rator bahkan Naya memiliki manekin tubuh seorang pria untuk memenuhuhi fantasinya.
Kali ini Naya akan merasakan kembali bagaimana sentuhan seorang pria di tubuhnya. "Entahlah aku ingin Abimana mengetahui jika aku tengah bercinta dengan pria lain. Aku penasaran bagaimana raut wajah tampannya saat melihatku menghabiskan waktu bersama pria lain." Batin Naya bermonolog.
"Sean,,," Naya memanggil kekasihnya dengan suara mendayu.
"Aku akan membuat kau tak akan bisa melupakan hari ini." Sean mengandalkan kemampuannya menikmati seorang wanita.
Sean menyapukan bibir dan lidahnya pada sekujur tubuh tubuh kekasihnya. "Aku menyukai aroma tubuhmu sayang, benar-benar memabukan." Sean memuji.
Sean kembali bermain-main dengan tangan nakalnya. Meraup dua kelembutan kekasihnya bergantian. Sintal dan kenyal. Sangat pas di gengamannya. Ujung Aerola kelembutan itu berwarna coklat muda, sangat konyras fengan kulit Naya yang putih.
Sekuat mungkin Naya menahan diri agar tidak meninggalkan jejak di atas tubuh indah kekasihnya.
Naya semakin terbuai oleh permainan Sean yang luar biasa. Apa lagi permainan lidah dan jemarinya di bawas sana membuat Naya melayang kelangit ketujuh. Hingga Naya beberapa kali meneriaki nama Sean dengan sangat lantang.
Sean memberikan pelepasan pertama terhadap kekasihnya sebelum permainan inti.
__ADS_1
"Aku akan masuk." Sean berujar seraya menahan pinggang kekasihnya yang sudah polos sama sepertinya.
"Ya lakukan."
Secara perlahan Sean mendorong miliknya memasuki tubuh kekasihnya.
"Aaaa, Naya ini sempit dan hangat." Sean melirih dengan mata terpejam, pria itu menikmati sensasi yang tengah ia reguk.
"Sekarang aku ragu jika kau sudah memiliki putri." Sean mulai memacu tubuhnya.
"Aku merawatnya dengan baik."
Mereka berdua larut dalam perbuatan dosa besar, Baik Sean maupun Maya sama-sama melakukan itu dalam keadaan sadar dan tanpa paksaan dari siapapun.
"Sean ..."
"Ya, Nayaa."
"Se,..."
"Aku, aku." Sean semakin mempercepat gerakannya. Baya mengerti jika Sean akan segera tiba di puncaknya. Tak ingin Sean mengingkari janjinya Naya mengapitkan kedua kakinya untuk menekan pinggul Sean dan mengunci pergerakan pria itu. Ia tak ingin Sean berubah pikiran dan membuang benihnya di dalam.
"Nayaaa ..."
Tabakan Naya tepat, Sean hendak menarik diri saat glombang pelepasan itu hampir tiba. Untung saja Naya menahan pergerakan kekasihnya sehingga Sean benar-benar menumpahkan benihnya di tempat yang seharusnya.
"Nayaaa."
__ADS_1
Sean menatap sayu tubuh berkeringat di bawahnya.