Reuni Invite Hell

Reuni Invite Hell
Akan mencoba segalanya


__ADS_3

"Kemana tatomu?" Sean mengingat malam itu di bawah cahaya remang-remang ia melihat tato di dekat tulang sela-ngka Naya berukirkan nama Abimana dan sekarang sudah tak ada, padahal Sean yakin tato itu permanen.


"Sudah ku hapus, aku tengah berusaha melenyapkan semua tentangnya."


Sean diam meneliti manik yang amat indah baginya, wanita kuat yang sekarang tengah berusaha menyembuhkan luka di antara pernikahannya itu tidak hanya menangis atau mengurung dirinya. Naya juga tidak melarikan diri seperti tokoh wanita di novel lainnya, di saat dirinya di hancurkan berkali-kali oleh pria yang paling ia percayai, wanita itu masih berjalan meski dengan tertatih tak sedikitpun Naya mencoba melarikan diri meski dalam keadaan terpuruk sekalipun.


"Tuan putri mari pulang, ini sudah hampir gelap. Aku perlu mengembalikanmu tepat waktu jika kau masih ingin bersamaku esok hari." Sean meraih tangan Naya dan membangunkan wanita itu, Naya mengibas-ngibaskan pakaiannya dari remahan pasir yang menempel.


Beberapa orang masih berlalu lalang di sana menikmati malam yang mulai menyelimuti hari.


Pasangan muda - mudi terlihat menggelar tikat di area pantai.

__ADS_1


Sean berjalan beriringan dengan nyonyanya, tanpa sekalipun ia melepas genggaman tangan dari wanita cantik itu.


"Kau akan pulang setelah ini?"


"Hmm, sepertinya Ya. Kecuali tuan putriku menginginkan aku tetap tinggal." Sean membuka puntu mobil Naya dan mempersilahkan wanita itu untuk masuk, di susul juga oleh dirinya langsung menempatkan diri di kursi kemudi.


"Ba-bagaimana jika kau menginap saja. Ma-maksudku semua orang pekerja di rumahku akan pulang jika sore hari, dan mereka akan kembali pagi-pagi untuk kembali berkerja." Naya memberitahu jika ia kerap kali sendirian di rumahnya.


Sean tak ingin mengecewakan kekasihnya, astagha ia bilang apa kekasih, bahkan mereka belum sepakat untuk menjalani hubungan. Pria itu mengerti jika penolakannya akan melukai Naya sehingga pria itu berkelakar.


"Aku tak ingin mati cepat di tangan suamimu, setidaknya ini terlalu dini untuk ketahuan." Sean terkekeh renyah, dengan senyuman yang menawan.

__ADS_1


"Abimana tak pulang kerumah, dia sudah mengirimkan pesan padaku. Katanya istri mudanya membutuhkan dirinya." Naya tersenyum kecut akan nasib buruknya. Naya menyodorkan ponselnya untuk di lihat oleh Sean.


"Astagha Abimana sejujur ini? Apa dia tak memikirkan perasaanmu? Apa Abimana berpikir hanya istri mudanya yang membutuhkan perhatiannya? Sedangkan istri tuanya dia biarkan begitu saja! Apa Abimana sengaja membuat istri pertamanya nyaman dengan pria lain?" Pertanyan - pertanyaan Sean sengaja memprovokasi Naya agar semakin membenci Abimana. Katakanlah Sean tengah menjadi pria licik yang memanfaatkan keadaan dengan sangat efik, ia menginginkan Naya semakin membenci Abimana.


Naya diam, apa memang benar yang di katakan Sean jika Abimana tengah memberikannya kesempatan untuk merasakan kasih sayang pria lain. Sepertinya iya, dan Naya harus memanfaatkan kesempatan ini.


Naya masih sibuk berpikir sehingga ia tak memperhatikan jika Sean sudah menjalankan mobilnya menuju rumah.


Sepanjang perjalanan Sean memberitahu apapun yang ia sukai dan apa saja yang tidak Sean sukai, termasuk Sean tak menyukai masakan yang terdapat bawang putih di dalamnya.


Naya mengangguk, "Aku pandai memasak, kau harus mencoba masakanku." Ujar Naya.

__ADS_1


"Tentu saja, aku akan mencoba segalanya darimu." Sean menatap Naya penuh maksud, sedangkan Naya hanya tersenyum simpul, ia mengartikan lain ucapan Sean.


__ADS_2