
"Ma di rumah kita banyak orang." Disa lebih dulu menyadari banyaknya orang di rumahnya.
Ada juga beberapa teman sekolah Naya dan bima di sana, dan yang lainnya Naya sungguh tidak mengenali mereka.
Naya semakin binging saat di sana juga ada ayah dan ibu mertuanya. Apa yang terjadi? Naya menukik satu alisnya karna ia belum mengerti apa yang terjadi.
Secara bersamaan ketiga orang keluar dari dalam mobil yang di kendarai Sean. Pria itu nampak amat kesal dengan keadaan. Selangkah lagi, hanya satu langkah tapi takdir bekerja di luar prediksinya.
Sia-sia saja Sean membuat Abimana sibuk dengan Dewi dan pekerjaannya. Ya Sean sengaja mengajukan kerja sama melalui Liam asistennya dengan perusahaan Bima. Tentu saja tujuannya agar Bima semakin kesulitan membagi waktu untik kedua istrinya. Tentu saja Naya yang akan menjadi korban dan ia siap menjadi penyembuh luka kekasihnya. Semuanya berjalan lancar sampai hari kemarin.
Sean pamit undur diri setelah mengantar Naya dan Disa. Ia tak ingin terlibat lebih jauh dengan duka yang tengah menimpa Abimana. Untuk madalah Dewi Sean tak terlibat sama sekali.
Naya tampak seperti orang yang tengah linglung dengan keadaan.
Ibu Ayu mertuanya berlari dan memeluk tubuh Naya. "Syukurlah kau tak papa. Ibu dan ayah sangat takut saat Bima mengatakan istrinya meninggal. Tentu saja pikiran kami langsung tertuju padamu Nak." Ibu Ayu memeluk erat tubuh menantunya di ambang pintu.
Naya dapat melihat seseorang terbujur kaku di ruang utama juga dengan Abimana yang terlihat sedih di samping jenazah itu. Entahlah untuk pertama kalinya Naya bahagia untuk kematian seseorang. Ia tersenyum lebar kala menebak orang yang mati itu adalah madunya.
Disa langsung berlari ke kamarnya, ia malas berdrama dengan semua orang apa lagi dengan Papanya, kematian ibu tirinya menambah daftar kado terindah untuknya tahun ini.
"Sayang mengapa kau tidak berbicara tentang ini pada kami?" Ibu Ayu dan Ayah Darma terlihat menyesal dan prihatin akan nasib yang menimpa menantunya.
"Untuk apa Naya bercerita Bu, tak akan merubah apapun. Buktinya Abimana memang benar-benar sudah menikah lagi." Tak ada nada sedih saat Naya mengatakan hal itu.
__ADS_1
"Ayah akan memberinya pelajaran." Ayah Darma dirundung rasa bersalah juga rasa malu.
"Tidak usah ayah, Naya yang akan memberinya pelajaran." Naya menyunggingkan senyum tipis.
"Nayaaa ..." Abimana memanggil dengan nada lemah, serta melangkah ke arahnya.
"Ada apa? Ck." Naya berdecak.
"Dari mana kau beberapa hari ini?"
"Aku dan Disa baru selesai bersenang-senang." Saut Naya dengan nada lempeng.
Naya merasa malu saat beberapa orang yang ia kenal menatap ke arahnya dengan begitu banyak pertanyaan dari sorot mata mereka. Biarkan saja Naya akan mengabaikan apa kata mereka.
Rupa-rupa tatapan orang-orang ke arah Naya, ada yang menatp kasihan ada pula yang menatap puas serta ada juga di antara mereka yang menatap Naya dengan penuh tanda tanya. Mungkin mereka bertanya-tanya mengapa bisa Naya menjadi wanita bodoh yang mau di madu. Sebenarnya siapa yang mau. Abimana tak bertanya kepadanya, pria itu menikah lagi diam-diam tanpa ijin darinya.
"Kau urus saja pemakaman istri mudamu. Aku lelah, aku ingin istirahat." Naya berlalu dengan menggeret koper di tangan kanannya.
Astagha ini sangat baik si Dewi di depak dari hidup Naya tanpa harus ada campur tangan atau persaingan antara kedua istri Abimana.
Naya membiarkan Abimana bersikaf sesukanya. Ia lebih memilih bertukar kabar dengan sang kekasih.
Proses demi proses di lakukan Abimana hingga menghantarkan Dewi ke peristirahatan terakhirnya.
__ADS_1
.
Abimana benar-benar di rumah. Sepulang bekerja Abimana selalu pulang tepat waktu seperti sebelum ia berbuat culas dengan mempoligami Naya.
Namun ada yang berbeda dari suasana rumah setiap ia pulang dore hari, baik Naya istrinya maupun Disa tak pernah menyambut kedatangannya. Rumah selalu sepi, Apa ini yang di rasa Naya selama ia sibuk dengan istri barunya.
Terdengar cekikitan Disa juga tawa renyah dari sang istri yang baru pulang dari entah dari mana.
"Kalian baru pulang?" Abimana bertanya basa-basi.
"Hmmm, seperti yang kau lihat." Naya menjawab cuek.
Disa mengitari meja makan untuk membuka makanan yang ia beli dari restoran.
"Ma, ayo makan." ujar Disa.
Jarang sekali pelayan menyiapkan makan malam karna mereka sering makan malam dirumah. Abimana bahkan sudah lupa rasanya masakan sang istri, salahnya karna selalu sibuk.
"Kami tidak membelikanmu makanan. Karna memang kami lupa jika kau masih ingat rumah. Jika lapar pesan saja sendiri." Naya dan Disa kemudian makan dan mengabaikan Abimana.
"Ya, Naya tidak papa. Makanlah, aku bisa mengurus diriku sendiri." Abimana menatap nanar istri pertamanya. Ia semakin merasa Naya benar-benar menjauh darinya.
"Ya, biasakan urus dirimu sendiri."
__ADS_1
"Nay, besok lusa ulang tahunku. Ku harap kau tidak melupakannya, aku akan pulang cepat lusa. Tolong masakan aku makanan kesukaanku, jangan lupakan hadiah untukku." Abimana tersenyum bersahaja, melupakan sejenak kepahitan hidupnya, kehilangan seorang istri juga kehilangan cinta dari istrinya yang lain mrmbuatnya lumayan di rundung penyesalan.
"Tentu saja Abimana. Aku sudah menyiapkan kado yang paling manis untukmu. Ku yakin kau tak akan melupakan kadoku seumur hidupmu." Naya tertawa penuh arti. Namun Abimana menangkap hal janggal.