Reuni Invite Hell

Reuni Invite Hell
Ku mohon jangan lagi


__ADS_3

Mereka sudah sampai di rumah Abimana ketiga orang itu turun dari mobil secara bersamaann.


"Adit pulanglah! Aku perlu menyenyelesaikan masalahku terlebih dahulu." Naya lah yang menyuruh supir sekaligus kekasihnya untuk pulang.


"Aku perlu memastikan keselamatanmu." Tanpa sadar Adit mengatakan hal itu membuat Abimana mengernyitkan dahi, hingga tergampar tifmga kerutan halus di dahi pria itu.


"Tidak usah mengkhawatirkan ke adaan Nonamu, dia aman bersamaku. Pulanglah!" Abimana turut memerintahkan supirnya untuk pulang.


Sean akhirnya menurut setelah memastikan Abimana dan Naya masuk ke rumahnya. Sean celingak celinguk memastikan jika tidak ada orang yang melihatnya, Sean memasuki rumah yang berhadapan dengan rumah Naya dengan terburu-buru.


Sean tidak mengurus makan atau membersihkan diri ia hanya memikirkan Naya dan mulai mengintai dari monitor yang menunjukan beberapa sudut di rumah Naya melalui cctv yang di pasangkan oleh orang suruhannya.


.


"Naya, tega kamu melukai aku sampai sedalam ini! Dimana kewarasanmu Naya?" Abimana langsung meledakan amarahnya saat ia memasuki rumahnya, tak tanggung-tanggung suara yang ia keluarkan layaknya toa mesjid. Membuat telinga Naya berdenging, dengan santainya Naya mengorek kedua telinganya bergantian menggunakan jari kelingkingnya.


"Kau bertanya tentang kewarasanku? Lalu bagai mana dengan dirimu? Apa kau memikirkan sedalam apa luka yang ka berikan padaku?" Naya tak gentar sama sekali, ia balik menatap tajam Abimana dengan berani.


"Luka, membahas luka dan adab, kau benar-benar tak bermoral Naya, setatusmu masih istriku lalu kau hamil dengan pria lain." Abimana menatap lekat wajah Naya yang terlihat tenang, tidak terpengaruh sama sekali.


"Apa bedanya dengan dirimu, penghianat bersembunyi di dalil halal berpoligami, ck, ck, kau memang penghianat yang ulung Abimana. Kau selalu mengatakan kau tak berdosa memiliki dua orang wanita sekaligus dalam hidupmu. Dan aku tak berdosa Abimana karna aku masih mencintai satu orang dalam hidupku. Ayah bayi ini aku sudah mencintainya, bisa ku pastikan namamu sudah tak memiliki arti apapun untukku." Naya berujar tegas, dagunya ia angkat tinggi-tinggi juga dengan kedua tangan yang berkacak pinggang.


"Tapi kehamilanmu, anak haram itu akan menjadi masalah Nayaaaa!" Abimana tidak bisa memelankan suaranya. Dan Naya menyukai saat Abimana emosi seperti ini terlihat semakin menyedihkan di matanya.


"Itu urusanku Abimana, yang jelas aku menikmati rasa sakit sekaligus rasa malu yang bersinggah dan bertahta di jiwamu. Aku tau hati kecilmu mengakui kau tidak memiliki muka di hadapan semua orang mengaku saja Abimana!"

__ADS_1


Abimana menggelengkan pelan kepalanya, selain wajahnya Abimana nyaris tak mengenali istrinya sendiri. Apakah ini yang namanya power of penghianatan.


Tidak ada lagi istri penurut setelah ulang tahun pernikahan mereka yang ke 15, semuanya berubah 360 derajat. Abimana benar-benar kehilangan cinta pertamanya.


"Kau keterlaluan Naya! Kau selingkuh sampai kini kau mengandung anaknya." Abimana memelankan suaranya, tenaganya kembali terkikis habis saat membayangkan istrinya di gagahi pria lain.


"Tidak usah menjadi playing victim Abimana, kau tidak memiliki anak dari si ja-lang itu karna dia tak memiliki rahim. Aku mengandung benih kekasihku karna aku sehat, dan lagi kekasihku sangat perkasa selain miliknya yang super permainan jemari dan mulutnya selalu membuatku melayang. Jangan heran selama ini aku tak meminta nafkah bathin darimu, dia terlalu memuaskan untukku." Mata Abimana terpejam rapat, tengkuknya terasa di hantam beban yang sangat berat sehingga bahunya melemas dan menunduk.


Sungguh sakit hati Abimana, sekuat mungkin Abimana tak menampakan kehanvurannya.


"Berhenti mengatainya ja-lang Naya dia bahkan sudah tenang."


"Ck, saat dia matipun kau masih membelanya."


"Dia memang bukan ja-lang Naya aku menikahinya. Dan lagi aku menikah dengannya bukan hanya mengandalkan hasrat semata." Abimana berujar pelan.


"Nayaaa."


"Abimana, tadinya aku bertanya-tanya apa yang dia hidangkan untukmu sehingga kau jarang pulang. Namun saat aku mengikuti jejakmu aku mengetahui apa yang di tawarkan kekasihku, permain ranjangnya sangat panas, bahkan aku tak ingin dia pulang, aku juga pernah berharap agar kau khilaf selamanya dengan tidak berlaku adil padaku, sehingga aku tidak perlu merasa bersalah."


"Lalu apa kau merasa bersalah Nayaa, katakan! Apa kau merasa bersalah saat aku kembali padamu dan bersumpah tidak akan mengulangi hal itu." Abimana mendekat ke arah Naya ia genggam tangan wanita hamil dihadapannya.


"Merasa bersalah? Tidak sama sekali Abimana. Aku menikmatinya Abimana, aku menikmatinya."


"Nayaaa!"

__ADS_1


"Kenapa,? mau menamparku lagi? Mau mencekikku? Karna aku berkata lancang. Lakukan saja Abimana itu akan mempermudah segalanya." Naya menantang, Abimana hanya memalingkan wajah masamnya.


"Naya siapa Ayah bayi itu?"


"Yakin kau ingin tau? Kau tak akan jantungankan jika aku memberitahumu?"


"Katakan saja siapa pria itu!"


"Yang jelas dia tampan, peduli terhadapku, saat kau melukaiku dia yang mengobatiku. Dia pria yang sangat baik." Naya memuji.


"Jika dia pria baik tak akan menghamili istri orang."


"Itu beda lagi. Aku yang merayunya, kau tau aku melemparkan diriku padanya. Sama seperti yang Dewi lakukan padamu. Aku bercinta setiap waktu dengannya, dan aku memang sengaja ingin memiliki bayi darinya." Naya semakin bangga atas prestasinya melukai Abimana.


"Bercinta setiap waktu? Aku berani bersumpah hanya 3x melakukan hubungan dengan Dewi, selain itu aku menjaga dan melindunginya." entah ucapan Abimana kali ini jujur atau bualan sungguh Naya tak ingin tau.


"Ohhh, benarkah? Wow aku baru tau!" Naya pura-pura terkejut dengan sangat natural. "Malang sekali kau Abimana. Tapi ya sudahlah ku tunggu surat cerai darimu." Naya beranjak ia akan istirahat.


"Aku tak akan menceraikanmu! sekalipun kau hamil anak iblis. Aku tak akan membiarkan kau bahagia dengan si kepa rat itu."


"Terserah. Kita lihat seberapa lama kau sanggup untuk bertahan Abimana!" Naya menyeringai penuh maksud.


"Jika kau penasaran siapa Ayah bayiku, bersabarlah sebentar lagi. Aku akan menunjukannya padamu, seperti kau menunjukan ja-langmu dengan bangga di hadapanku. Bahkan kau mendatanginya di depan mataku. Aku tengah menimang-nimang apakah aku harus melakukan hal yang sama padamu."


"Tolong jangan lakukan hal itu Naya. Sudah cukup kau membuatku tenggelam dalam luka ini. Ku mohon jangan lagi. Bunuh saja aku Naya, aku tak akan sanggup melihatmu tengah bersama pria lain." Abimana melutut, dengan kedua tangan mengatup di depan dadanya.

__ADS_1


"Aku mencintaimu Nayaa, jangan melukaiku lebih dalam lagi." Abimana tak malu menunjukan air matanya.


"Jangan mengatakan soal cinta di depanku itu tidak memberikanku efek apapun."


__ADS_2