
Sean hari ini dalam perjlanan ke luar kota, tentu saja ia akan menemui calon mertuanya. Bukan sebagai seorang calon menantu melainkan menjadi pemilik saham di perusahaan ayahnya Naya.
Sean sudah mempelajari apa saja yang dapat mempengaruhi calon mertuanya, termasuk Sean harus memegang kendali penuh atas ayah Naya.
Pak Santosa menyambut kedatangan Sean di perusahaan kecil miliknya sebagai penyalur tenaga kerja keluar negri.
"Pak Sean." Santos menyalami Sean dengan senyum yang tak surut di bibirnya, senyum ramah itu ia tunjukan agar Sean terkesan terhadapnya.
Seandainya saja Santos tau jika Sean adalah salah satu penyebab hancurnya rumah tangga putrinya, mungkin Santosa tak akan seramah ini terhadap dirinya.
"Selamat siang Pak Santosa." Sean menyambut uluran tangan calon papa mertuanya.
__ADS_1
"Siang Pak. Saya tak menyangka jika Pak Sean semuda ini." raut kebahagiaan jelas tergambar di wajah Santosa, ia yakin dengan adanya kerja sama antara perusahaan kecil miliknya dengan perusahaan Sean. Orang tua Sean merupakan pemilik beberapa perusahaan yang jelas bergerak di bidang penginapan juga pabrik di beberapa negara akan sangat menguntungan perusahaannya.
Sean hanya menanggapi ucapan Santosa dengan seulas senyuman.
Pak Santos yang merupakan Pt kecil penyalur tenaga kerja dari negaranya tidak akan kekurangan job saat peminat menjadi tenaga dari negaranya membeludak. Pak santos tak akan kesulitan menyalurkan pekerjaan kepada para calon tenaga kerja.
Santos mempersilahkan Sean masuk dan memberitahu beberapa keunggulan Pt yang ia kelola selama bertahun-tahun.
Tapi dasarnya otak Sean sudah di rancang sedemikian rupa sehingga otak cerdasnya mencantumkan satu syarat yang membuat Santosa mengerutkan keningnya dalam. Tercatat di surat perjanjian yang di tulis Sean, jika Santosa harus menikahkan putrinya dengan Sean, yang mana putrinya sekarang sudah menyandang setatus janda dan tertera di surat itu sebagai syarat untuk menjalankan kerja sama.
Sean menyunggingkan senyuman, saat Santos sudah menanda tangani surat itu.
__ADS_1
"Aku akan menikahi putrimu segera, setelah perceraiannya secara hukum sudah di lakukan." sekali lagi Santosa mengerutkan kening, apa kata Sean? Menunggu perceraian secara hukum. Lara sudah bercerai resmi dua tahun lalu, tapi mengapa Sean masih menunggu?
"Putriku yang janda memang sudah resmi bercerai dua tahun lalu Pak." ujar Santos, dan sekarang giliran Sean yang di buat terheran-heran. Pasalnya Sean hanya mengetahui jika Naya adalah putri Santosa satu-satunya, setidaknya itu yang di katakan orang suruhannya.
Sean tidak tau jika Santosa memiliki putri lain, di luar pernikahannya karna memang pernikahan Santosa dengan wanita selain ibu Naya terjadi di bawah tangan, meskipun pernikahan itu sudah berakhir.
"Aku menginginkan Naya." Sean menangkis putri manapun yang akan Santosa bicarakan.
"Naya?" Santosa bahkan berdiri saat nama putri bungsunya di sebutkan oleh pria itu. Baru kemarin Abimana menantunya mengatakan jika putrinya berkhianat dan tengah mengandung benih pria lain, membuat Santosa semakin di rundung pertanyaan yang besar.
"Ya, Naya sudah di ceraikan suaminya. Aku meminta putrimu untuk ku peristri." ujar Sean sedatar mungkin, rautnya tanpa ekspresi.
__ADS_1
"Dengan ini aku meminta putri secara baik-baik. Kau tentu tau aku akan melakukan jalan ninja jika jalan lurusku yidak di sambut." Sean berlalu, membawa surat perjanjiannya. Meninggalkan Santosa dalam keterkejutannya.
Baru sehari putrinya menjanda, sudah ada proa kaya raya yang meminangnya. Santos di lema harus senang atau bersedih atas kehancuran rumah tangga putrinya.