
Naya hanya diam meratapi nasibnya yang malang. Abimana benar-benar tidak datang untuk menjenguk atau memastikan dirinya baik-baik saja. Naya harus kembali menelan kekecewaan, harusnya ia bisa memprediksi hal itu.
Alasan untuk Naya masih berharap Abimana menjenguknya dan memastikan keadaannya adalah karna mereka sudah lama bersama. jadi jauh di lubuk hatinya Naya berharap Abimana akan perduli terhadapnya.
"Nayaaa, apa perlu aku menghubungi Disa atau ibu mertuamu?" Sean bertanya, ia tau jika orang tua Naya sekarang tinggal di luar kota, jadi Sean tidak berencana untuk mengabari orang tua Naya.
"Tidak usah. Aku tak ingin membuat mereka khawatir."
"Jika seperti itu, makanlah lebih dulu. Kau harus sembuh. Jadilah wanita kuat." Sean menggenggam tangan Naya mencoba menyalurkan segenggam energi terhadap wanita yang terbaling lemah.
Tiga hari Naya di rawat inap di rumah sakit, tidak sekalipun Abimana menampakan batang hidungnya. Perhatian dan sikaf peduli pria itu sudah surut seiring berjalannya waktu. Begitu juga dengan perasaan Naya yang mulai terkikis habis.
"Cepatlah pulih. Jika ingin ku ajak jalan-jalan."
"Jalan-jalan?"
"Ya, jika kau pulih kita akan menemani putrimu ke korea selatan untuk menonton konser band favoritenya." Sean menggasak pelan rambut Naya.
"Benarkah? Kau tidak sedang membualkan?" Naya kembali memastikan.
"Tentu saja tidak. Memangnya sejak kapan aku pernah berbohong kepadamu?"
"Terimakasih Se. Aku akan menghubungi Disa pasti dia sangat senang." Naya semakin kegirangan, tangannya terulur hendak meraih ponselnya. Namun Sean menghentikannya.
"Nanti saja setelah kau sehat."
"Aku sudah sehat kapan pulang?"
"Besok. Sebenarnya hari ini sudah boleh pulang, tapi aku ingin memastikan kesehatanmu."
Total empat hari Naya di rawat dan selama itu pula tak ada yang datang menjenguknya. Hanya Sean saja yang setia menemaninya. Jangankan oranglain atau kerabatnya, Bahkan suaminya sendiripun enggan memastrikan kondisinya. Semenyedihkan itu hidup Naya.
__ADS_1
Naya pulang kerumahnya, Sean mengurus segala sesuatunya dengan sangat baik. Naya benar-benar di perlakukan layaknya seorang ratu.
Mereka sudah tiba di rumah Naya, hanya kesunyian yang menyambut kedatangannya. Tak ada lagi gelak tawa apa lagi cinta yang mendatanginya. Semua sudah berakhir.
"Nyonya." kedua pekerja di rumah Naya menghampiri majikannya.
"Tuan tidak pulang sejak empat hari beliau pergi." ujar salah satu pekerjanya.
"Biarkan saja. Mungkin Abimana tengah bulan madu bersama istri barunya."
"Bibi tolong tuangkan bubur ini ke dalam mangkuk dan bawa ke kamar Nyonya." Sean memberikan sekantung bubur di dalam satu stetofom kepada pekerja di rumah Naya. "Jangan lupa dengan air minumnya." Sean memperingati wanita setengah baya itu agar tidak lupa.
Naya di antar kekamarnya oleh Sean.
Setibanya kekamar, Sean langsung menuntun Naya untuk menuju tempat tidur, agar Naya bisa berselonjoran.
"Nyonya ini buburnya." pekerja Naya langsung masuk. Sean sengaja tidak menutup pintu agar para pekerja Naya tidak berpikir macam-macam tentang mereka. Tentu saja Sean tak ingin jika orang lain mengetahui belang sang kekasih, mau bagaimanapun Sean berkewajiban untuk menutup aib kekasihnya
Sean selalu memperhatikan Naya ke hal terkecil sekalipun.
Waktu terus berlalu hingga terhitung enam minggu tapi Abimana tidak lagi pulang ke rumah mereka.
Abimana layaknya di telan bumi hilang entah kemana. Abimana pergi tanpa pamit padanya. Entah mengapa ia juga tak ingin mencari tahu keberadaan suaminya. Naya sudah terlalu nyaman hidup bersama Sean.
Baik Sean maupun Naya sudah hidup layaknya suami istri dalam enam minggu itu. Salahkan Naya yang berharap Abimana agar tidak kembali.
Tibalah mereka akan pergi ke korea untuk menonton konser yang di inginkan Disa.
Tidak hanya sekedar melihat konser. Sean memboyong Naya dan putrinya untuk berlibur di negara impian Naya.
Tepatnya sepuluh hari mereka menghabiskan liburan bersama di negara sejuta oppa itu.
__ADS_1
Di wajah Naya dan Disa tidak sedikitpun tergambar rasa sedih mereka menikmati liburannya.
Sean, Naya dan Disa tiba di rumah milik Naya dan Abimana sekitar pukul sepuluh pagi.
Disa tak henti-hentinya mengucapkan terimakasih kepada Sean. Baginya ini ulang tahun terbaiknya. Meski tanpa sosok sang Papa yang menemani mereka.
"Terimakasih Om Sean sangat baik. Aku mebdapat tanda tangan mereka serta berpoto bersama mereka." Disa tak henti-hentinya melebarkan deretan gigi putihnya.
"Sama-sama."
"Bagaimana caranya Disa berterimakasih?" Disa merasa tak enak.
"Mamamu sudah melakukannya." Sean tersenyum cerah juga penuh maksud.
"Maksud Om."
Sean tergagap ia kelepasan berbicara, matanya melirik Naya yang menatapnya dengan tajam.
"Tidak, maksud Om cukup rahasiahkan ini dari papamu." ujar Sean.
"Om menyukai Mama?"
Ingin sekali Sean berteriak di balik kemudinya, tentu saja ia menyukai Naya jika tidak, tidak mungkin ia berbuat sejauh itu. Namun perkataannya hanya tertahan di tenggorokannya.
Satu hal yang membuat mereka terheran. Saat memasuki komplek perumahan mereka di sambut dengan dua bendera kuning.
"Siapa yang meninggal Ma?" Disa bertanya penasaran.
"Entah, mama juga tidak tau."
Namun Sean mendengus kesal dalam hatinya. "Sial,,, Tuhan mencuri star darinya." ia juga mencengkram setir kemudi saat melihat dua bendera kuning di depan rumah Naya.
__ADS_1
"Harusnya ini terjadi sebentar lagi." Lirih Sean dalam hati, ia baru saja berhasil membujuk Naya untuk berpisah namun sepasang bendera kuning sepertinya akan menjadi pengacau.