
Naya menggeleng dengan cepat membuat Sean gemas sendiri. Sean meraih karet gelang yang ia temukan di depannya, Sean menggulung rambut Naya menjadi satu dan mengikatnya secara asal.
Meski ikatannya acak-acakan tapi Naya masih terlihat cantik di hadapannya.
"Tapi aku ingin imbalan setelah ini." Sean berbisik.
"Im-imbalan?"
Naya tergagap juga dengan pandangan yang waspada terhadap Sean, Naya juga mengerjap - ngerjarjapkan matanya berulang kali.
"Kau seperti seorang gadis saja." Cibir Sean. "Aku bahkan tak percaya jika wanita yang menghampiriku di club waktu itu adalah dirimu." Sean tergelak.
"Se, tujuan sebenarnya dirimu melakukan ini apa?"
Naya menatap sang surya yang mulai kembali ke peraduannya, di atas pasir tanpa alas mereka duduk dengan tubuh condong kebelakang dengan kedua tangan yang mereka gunakan sebagai penopangnya. Sean bahkan mendongak beberapa kali sampai jakunnya terlihat beberapa kali.
"Jika aku mengatakan aku tertarik padamu apa kau percaya?" Kali ini Sean mengarahkan tatapannya ke arah Naya.
"Wahh,,, Benarkah?" Naya terkekeh, namun tak ia sembunyikan jika dirinya juga tersanjung oleh perkataan Sean, wanita mana yang tak luluh jika di katakan menarik oleh seorang pria tampan.
"Ya, Naya aku menyukaimu. Aku bersedia melakukan apapun agar tetap berada di dekatmu."
"Sepertinya kau sudah tak terselamatkan lagi Se," Naya menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Ya aku sudah tergila-gila padamu."
"Sejak pertemuan kita di club, atau di acara reuni?"
__ADS_1
"Tidak keduanya, aku menyukaimu sedari dulu. Tapi aku sadar diri." Sean tersenyum getir. "Aku tak layak bersaing dengan Abimana dimasa lalu. Tapi kali ini aku akan memperjuangkan dirimu untuk diriku sendiri. Aku akan serakah Nay." Sean menggenggam sebelah tangan Naya seiring dengan sang surya yang tenggelam.
"Oh, Yeah ..."
"Hm,,, aku bersungguh-sungguh."
"Aku sudah memiliki seorang putri Se, ku yakin Abimana juga sudah memberitahumu."
"Aku tidak keberatan jika harus menjadi seorang ayah sambung." Sean malah merebahkan kepalanya di pangkuan Naya, membuat wanita itu terkesiap, pasalnya Naya hanya menggunakan dres sebatas lutut. Ia juga canggung saat Sean terus menatap ke arahnya.
"Se, aku tak bisa menjamin apa lagi menjanjikan masa depan yang cerah terhadapmu."
"Aku tau, kau juga tidak perlu melakukan apapun cukup dengan melihat perjuanganku dan lagi masa depan cerah aku tak membutuhkannya." Sean mejamkan mata saat Naya memainkan rambutnya, nyaman itulah yang Sean rasakan. Ia lupa kapan terakhir kali memiliki kekasih, karna yang ia lakukan hanyanyalah mencari teman kencan satu malam tanpa harus repot-repot terikat hubungan.
Naya senang saat Sean mengatakan akan memperjuangkannya, ia berpikir di saat ia tidak terlihat menarik lagi di mata suaminya. Ternyata ada pria lain yang tertarik padanya, ini seperti mimpi dan pergantian peran, di saat suaminya sibuk memperhatikan wanita lain di balik itu ada pria lain yang menawarkan rasa baru yang tak pernah di dapat Naya sebelumnya.
Rasa deg-degan yang tak normal, yang di mana Naya berusaha untuk menyembunyikan atau berusaha agar kebersamaannya dengan pria lain tidak di ketahui orang lain, percayalah sensasinya menyenangkan sekaligus menegangkan.
"Se, kau berhak milih wanita baik atau lajang." Naya memberi peringatan.
"Yang ku inginkan dirimu."
"Dasar keras kepala!"
"Aku memang menginginkan dirimu. Tapi aku akan membiarkanmu melakukan apapun, tak masalah jika aku harus menjadi sad boy di akhir cerita, jika kau memilih kembali bersama dengan Abimana." Sean memalingkan wajah, ia berbohong berkata demikian.
"Hubunganku dan Abimana tidak akan bisa di selamatkan Se, bagiku semuanya sudah hancur sejak wanita bernama Dewi itu datang kerumah kami membawa kabar mengejutkan di hari ulang tahun pernikahanku yang kelima belas tahun." Mata Naya di lapisi kaca-kaca ia tak mampu menyembunyikan lukanya.
__ADS_1
Sean semakin terkesiap, saat mendengar kenyataan ada seorang pelakor mendatangi istri sah dari pria yang wanita itu rebut. Sean bahkan langsung mendudukan tubuhnya.
"Kau bercanda?"
"Aku serius Se, dia bahkan mengakui itu dan menunjukan bukti-buktinya."
"Kau tak berniat bercerai dengan Abimana?"
"Itu tujuan utamaku Se ."
"Lalu kau menundanya? Apa kau masih mencintainya?" tanya Sean penuh selidik, ia menyiapkan mental jika Naya mengatakan Ya.
"Bohong jika aku mengatakan tidak, selama 15 tahun kami hidup bersama tidak mungkin jika aku bisa menlenyapkan seluruh rasaku dalam waktu singkat. Aku tentu perlu waktu untuk menyelesaikan urusan hati. Mengenai luka aku tengah mengobatinya sebisaku." Naya menunduk.
"Tak adil rasanya jika hanya aku yang mendapatkan sakit. Aku juga berencana untuk menghadirkan luka yang lebih besar untuknya. Katakanlah aku wanita terkutuk yang menginginkan kehancuran untuk rumah tanggaku, tapi aku tak kuasa jika harus memperbaiki kekacauan yang di timbulkan Abimana." Kedua tangan Naya mengepal kuat ada emosi juga kekecewaan di setiap nada suaranya yang bergetar.
"Tak apa Nay, kau berhak membalas kesakitan yang kau terima. Semua akan baik-baik saja. Semua salahnya karna sudah menghadirkan api pada hubungan kalian." Sean memeluk tubuh Naya.
"Ya, salahnya juga karna tak mengambil kesempatan kedua yang ku berikan."
"Kesempatan kedua?"
"Ya aku menawarinya meninggalkan wanita itu dan akan melupakan semuanya, tapi ia masih memilih ***- *** itu. Biarkan saja." Naya menghibur dirinya sendiri.
"Kemana tatomu?" Sean mengingat malam itu di bawah cahaya remang-remang ia melihat tato di dekat tulang sela-ngka Naya berukirkan nama Abimana dan sekarang sudah tak ada, padahal Sean yakin tato itu permanen.
"Sudah ku hapus, aku tengah berusaha melenyapkan semua tentangnya."
__ADS_1