
Ponsel Naya bergetar, ia meraih benda pipih miliknya. Terlihat panggilan vidio dari Sean yang memanggilnya.
"Se, kau di mana?" Naya langsung menanyakan keberadaan supir sekaligus kekasihnya.
"Naya ada apa? Apa kau baik-baik saja?" Sean terlihat panik pria itu menegakan tubuhnya.
"Dia, dia, membawa pela-curnya kerumah kami. Tangisan Disa bahkan tidak merubah keputusannya." Seraut wajah Naya tetlihat sangat sendu.
Sean diam. Sejenak ia berpikir apa maksud Abimana membawa madunya untuk tinggal bersama istri tuanya.
"Kau ingin mengakhiri pernikahan kalian sekarang? Aku akan membantu sekaligus memperjuangkan hakmu." Sean memberikan ide.
"Itu tidak akan setimpal Sean. Setelah aku menceraikannya lalu Abimana dan Dewi akan menikah, mereka akan hidup dengan bahagia. Sedangkan aku? Aku hanya mendapat luka saja begitu juga dengan putriku." Naya tetap pada rencananya untuk memberikan pelajaran pada Abimana.
"Lalu maumu apa?"
"Aku ingin memberikan hadiah yang tak bisa di lupakan oleh pria itu."
"Lalu bagaimana dengan psikis Disa Nayyy?"
Benar juga apa yang di katakan Sean.
Tok ...
Tok ...
"Mama ..."
"Mama, ini Disa. Boleh disa masuk." terdengar ketukan pintu dari arah luar membuat Naya harus mengakhiri panggilan.
"Se, sudah dulu ya! Disa mau menemuiku." Naya pamit dan menutup panggilan setelah Sean mengangguk setuju.
Naya membuka pintu dan mempersilahkan putrinya masuk.
"Ma,"
"Ada apa Sayang?"
Disa tiba-tiba memeluk erat tubuh wanita yang paling ia cintai.
"Jika Mama lelah, Mama boleh mengakhirinya. Disa mengerti, maaf karna Disa membuat Mama bertahan di atara peluru kesakitan yang terus melukai tubuh dan hati Mama." pengertian sekali putrinya ini.
"Disa akan pergi ke rumah Kakek Darma, lagi pula jarak sekolah Disa kan lebih dekat di sana. Saat semuanya baik-baik saja jemput Disa, Disa akan mendukung apapun keputusan Mama sekalipun Mama mau membalas perlakuan Papa, Disa akan mendukung."
"Terimakasih sayng, kau sungguh perhatian. Mama menyayangimu." Naya memeluk putrinya dengan sangat erat.
"Oh ya, supit tampan Mama kemana? Sepertinya dia cocok untuk menjadi papa sambungku." Disa bermaksud bercanda dengan menggoda mamanya.
"Dasar nakal." Naya memencet hidung putrinya.
"Nanti saja kau pergi setelah kau ulang tahun."
__ADS_1
"Ga mau, aku muak melihat wanita itu. Mama jemput aku saja saat ulang tahun. Aku akan pergi kerumah kakek besok."
"Jangan katakan apapun pada kakek dan nenek ya. Biar Mama saja yang berbicara pada mereka." Naya memperingati putrinya.
"Siap Bos."
.
Pagi-pagi sekali Disa sudah siap dengan kopernya. Dan membawanya keruang sarapan.
"Wah sang raja dan sang selir sudah datang." Disa berujar dengan sangat sinis.
"Perhatikan ucapanmu Disa!" Abimana memperingatkan putrinya dengan tatapan tegas.
"Mas sepertinya, putrimu tidak menyukaiku." Dewi yang lemah lembut berujar dengan suara lirihnya membuat Abimana menatap teduh dan tak tega.
"Dia masih anak-anak. Disa belum mengerti posisimu." Abimana mengelus lembut tabgan istri mudanya membuat Naya semakin muak di buatnya.
"Bagian mana yang tidak ku mengerti Tuan Abimana? Aku mengerti segalanya. Aku mengerti kau yang mengkhianati ibuku." Disa tak lagi menjaga adabnya saat berbicara terhadap ayah kandungnya sendiri.
"Apa ini yang kau ajarkan kepada putrimimu Naya, sehingga Disa menjadi pembangkang?"
Tangan Naya mengepal sehingga sendok yang berada di genggamannya bengkok seketika.
"Ck, drama. Aku tak mengajarkan apapun pada putri cantikku." Naya berdecak malas.
"Sudahlah Mas, jangan berdebat di depan Putrimu." Dewi menyentuh dada suaminya, terlihat baik dan piawai mencuri perhatian.
"Tentu saja dia sangat baik, dia sudah membatu ibuku mengurus suaminya yang tidak tau diri."
"Disaaaa."
Plak...
Tangan kekar Abimana melayangkan sebuah Tamparan keras menyapa pipi putri tunggalnya.
"Mulutmu semakin berbisa Disaaa..."
Naya tidak terima saat putrinya di sakiti, naluri seorang ibu mungkin.
Naya berdiri dan membantinting kursi yang ia duduki, juga menghancurkan semua yang tata di atas meja makan. Aura yang di tunjukan Naya benar-benar mencekam.
"Beraninya kau menyakiti putriku sialan!! Aku sudah cukup sabar selama ini Abimanaaa!" Naya melemparkan kelas ke arah Abimana hingga.
Pyarr ...
Gelas itu sukses mendarat di dahi pria itu.
Darah segar langsung mengucur dari dahinya, dengan se dikit luka robek di sana.
Abimana diam ia bergeming dengan amat sangat. Ia juga terkejut akan tamparan yang ia berikan kepada putrinya. Ia kelepasan.
__ADS_1
"Di-Disa maafkan Papa. Papa tidak bermaksud menyakitimu sungguh."
"Papa kelepasan Disa," Abimana tidak memperdulikan darah yang terus mengucur di dahinya. Ia terus meminta maaf pada putri semata wayangnya.
"Aku sudah tidak mengenalimu Tuan." Disa berujar lirih sudut bibirnya bahkan robek, semalm ia melihat mamanya di tampar dan pagi ini Abimana menampar wajahnya. Dan itu karna wanita yang berlaga seperti Dewi peri.
"Sudah cukup Abimana! Kau terlalu menganggap sepele diriku. Aku bisa saja memaklumi kesalahan apa yang kau lakukan padaku. Tapi kau sudah melukai putriku. Demi Tuhan aku tak memafkanmu."
Naya membawa putrinya berlalu dari sana juga dengan satu koper pakaian milik Disa.
"Kalian mau kenana?" Abimana mengikuti langkah kaki putri serta istrinya.
"Aku tidak akan kembali ke rumah ini selagi gundikmu masih di sini." Disa dengan berani menjawab, ia tak perduli sekalipun Abimana akan menamparnya kembali.
"Mba Naya jangan pergi ini rumah Mbak, aku hanya menumpang sementara. Aku janji setelah semuanya membaik aku akan pergi." Dewi memegangi tangan Naya yang menggerek koper.
"Ini memang rumahku. Terserah kau mau melakukan apa." Naya dan Disa melenggang pergi meninggalkan pasangan baru yang menjijikan.
Sean sudah berdiri di depan mobil milik Naya lengkap dengan seragam supirnya.
Ingin sekali Naya menubruk tubuh kekar itu dan menumpahkan setiap bebannya, namun Naya tak bisa melakukan itu, putrinya berada di sana.
Setelah mengobati luka Disa, Naya menitipkan putrinya kerumah mertuanya.
Orang rua Abimana melayangkan beberapa pertanyaan. Tak ingin menambah rumit urusan Naya segera pamit dari sana.
"Naya kita hendak kemana lagi?" alih-alih bertanya apa yang terjadi Sean memilih bertanya kemana tujuan Naya selanjutnya.
"Hotel."
Cekit ...
Sean menginjak remnya mendadak, sampai menimbulkan goresan di jalan raya.
"Hotel?"
"Ya hotel. Waktuku tak banyak Sean, sebelum ku menceraikan Abimana aku harus memberinya kado ulang tahun kan?"
Sean masih bergeming di tempatnya, apakah Naya tengah memanfaatkannya demi membalaskan dendam. Sean tiba-tiba merasa ragu apakah Naya menyukainya? atau ia hanya di gunakan sebagai alat balas dendam saja.
"Naya ku mohon pikirkan lagi." Sean masih belum menyerah.
"Aku sudah berpikir ribuan kali Sean. Apapun resikonya aku akan menerimanya."
"Lalu bagaimana dengan marwahmu?"
"Aku tidak memperdulikannya, bagiku yang paling utama Abimana harus mendapatkan pelajaran."
"Baiklah mari kita ke hotel."
Sean melajukan kembali mobilnya ke tempat yang di maksud oleh Naya.
__ADS_1