
Meski Sean berkata akan memberikan seorang bayi pada kekasihnya tetap saja Sean merasa ragu akan hal itu.
Jika Naya menginginkan kehangatan maupun sentuhan Sean akan dengan senang hati memberikannya, tapi yang Naya minta darinya seorang bayi. Sean bukan pria baik tapi ia tak bisa membiarkan benihnya hadir dalam setatus yang tak jelas.
Sean mengajak Naya untuk mengunjungi kantornya. Wanita itu di buat terpukau kala melihat perkantoran dengan gedung yang sangat tinggi dan menjulang.
hanya sebentar Sean mampir di kantor itu, bahkan Sean hanya meminta Naya menunggu di loby kantornya.
Sepertinya Sean masih belum ingin Naya mengetahui setatusnya.
.
Beberapa waktu sudah berlalu. Disa bahkan sudah kembali dari liburannya. Selama Disa tak ada Naya mengajak Sean untuk tidur di rumahnya, dan akan kembali saat Abimana pulang di pukul 5 pagi.
Abimana seakan melupakan Naya, pria itu sudah tidak lagi bermalam di rumah mereka. Entah apa yang Dewi suguhkan pada suami Naya sehingga Abimana begitu tergila-gila dengan wanita itu.
"Abimana tidak bisakah kau berlaku adil padaku dan pada istri mudamu? Kau menganggap apa diriku?" Naya mengajukan pertanyaan pada suaminya.
Abimana bahkan tidak menafkahi batinnya. Naya muak dengan perlakuan Abimana.
"Mengertilah Naya, kau sudah menghabiskan waktu denganku selama 15 tahun. Sedangkan Dewi sedang dalam masa pemulihan dia benar-benar membutuhkanku. Apa kau ingin aku menjadi pria yang tidak bertanggung jawab?"
__ADS_1
"Kau menyakitiku Abimana. Kau mengenalku lebih baik dari siapapun tapi dalam hitungan bulan saja kau berubah Abimana." Naya terisak pelan, sebenarnya ia ingin mendebat suaminya tapi Naya menghargai kehadiran putrinya. Ia tak ingin Disa mendengarkan perdebatan mereka. Namun tanpa mereka sadari Disa sudah mengetahui semuanya, Disa sudah curiga sejak lama, remaja perempuan itu kerap kali menguping orang tuanya yang tengah berdebat.
.
Sore harinya baik Disa maupun Naya di buat marah karna Abimana membawa Dewi pindah ke rumah mereka.
"Sialan kau Abimana di mana otakmu? Kau membawa ja-langmu pulang ke twmpat istri sah dan putrimu beradaaa!!!"
"Kau keterlaluan Abimana." Naya memukuli Abimana dengan membabi buta.
Abimana menyuruh Dewi beristirahat di kamar yang telah Abimana siapkan. Pun wanita yang terlihat lemah itu menurut terhadap suaminya.
"Papa. Keterlaluan menyakiti kami." Disa pergi kekamarnya dengan berderai air mata.
"Kau pria paling kejam yang pernah ku temui Abimana." Naya terduduk dengan kedua belah tangan yang menutup seluruh wajahnya.
"Apa kau tidak waras membawa istri mudamu kemari?"
"Aku tidak memiliki pilihan Naya, di luar sana Dewi terancam. Ada beberapa orang yang hendak mencelakainya. Ku mohon Naya mengertilah." Abimana berlutut, menurutnya hanya rumah ini yang membuat Dewi aman. Abimana sudah membawa Dewi berpindah beberapa kali tapi tetap saja ada seseorang yang hendak mencelakai Dewi.
"Apa selain Ja-lang istri mudamu juga pelaku kerimal Abimana?"
__ADS_1
Abimana di buat berang dengan tatapan murka, ia berdiri kemudian
Plak ...
Tamparan keras kembali mendarat di pipi Naya.
"Jika kau tidak bisa menjaga mulut lebih baik kau diam!!"
"Dua kali kau menamparku Abimana." Suara Naya bergetar. "Jangan kau kira aku tak menghitung berapa kali kau berbuat kesalahan kepadaku. Lihat saja nanti kau akan terkejut atas apa yang akan ku lakukan terhadapmu."
"Aku membawanya kemari juga agar aku bersikap adil kepada kalian. Bukankah kau menuntutku berlaku adil padaku." Abimana selalu saja berbuat semaunya tanpa memikirkan perasaannya membuat Naya semakin muak.
"Tidak harus membawanya kerumahku Abimana! Sungguh aku menyumpahi dia mati cepat."
"Nayaaa."
Naya berlalu dari hadapan suaminya. Abimana semakin bertingkah.
Ia merindukan Sean, sudah dua hari pria itu cuti kerja darinya. Tidak ada lagi pelukan hangat dari pria yang menemani tidurnya selama beberapa waktu terakhir.
"Se, aku merindukanmu. Kemana perginya Sean?"
__ADS_1