Reuni Invite Hell

Reuni Invite Hell
Antara bukti atau petunjuk


__ADS_3

Pag-pagi Naya sudah siap seperti hari biasanya, sehari-hari ia hanya menghabiskan waktu ke Caffe maupun menemani Sean mengerjakan pekerjaannya, bersenang-senang dengan putrinya. Ya Naya melakukan apapun inginnya ia tak memperdulikan lagi apa kata orang.


"Selamat pagi." Naya menyapa dengan senyuman merekah akhir-akhir ini begitu bersemangat menyambut pagi, tinggal satu jentikan jari semuanya akan sesuai inginnya.


Abimana berada di dapur tengah menggunakan celemek berwarna merah muda. Abimana sudah siap dengan pakaian kerjanya dengan kemeja yang di gulung sebatas siku.


Seandainya saja Abimana belum melakukan kecurangan terhadap Naya sudah pasti Naya akan klepek-klepek terprsona oleh pria gagah di hadapannya.


"Sayang aku bikin nasi goreng sea food. Taraaa ..." Abimana membawa dua piring nasi goreng sea food lengkap dengan telur ceplok juga acar di atas piringnya. Menghidangkan nasi goreng itu ke hadapan istri dan putrinya.


"Oh, terima kasih." Naya menanggapi sekilas, ia langsung menyantap nasi goreng itu. Ia akui akhir-akhir ini nafsu makannya berkali-kali lipat meningkat dan Naya tau penyebabnya.


Hilang sudah senyuman penuh cinta yang selalu Naya tampilkan. Tak ada lagi tutur kata yang lemah lembut dan santun semuanya tertelan oleh penghianatan yang Bima lakukan.


Bima tau kekacauan dalam keluargnya di sebabkan olehnya, dan ia bertekad akan memperbaiki semuanya seperti sedia kala. Ia akan memperjuangkan kembali keutuhan keluarganya.


"Ma, Mama makannya sangat lahap." Disa menertawakan Mamanya. "Apa Mama sudah menghapus program diet Mama." Disa terkekeh kala Mamanya tersedak makanannya.


"Disa fokuslah akan makananmu." tegur sang Papa.


"Ya Pa."


Mereka melanjutkan makan dalam keheningan.


Seusai sarapan semua orang beranjak dari tempatnya mading-masing.


"Nay, biar aku yang mengantar kalian." Abimana sudah mendahului langkah mereka.


"Tidak perlu Bim, kami sudah mulai terbiasa menjalani hari tanpamu. Lagipula Se, maksudku Adit pasti sudah siap untuk mengantarkan kami." Naya meraih tangan putrinya dan bergegas pergi meninggalkan Abimana yang hanya diam dengan seribu kebisuan.

__ADS_1


Sean mengantarkan Disa ke sekolahnya setelahnya mereka akan menghabiskan waktu bersama seperti sebelum-sebelumnya. Sean bahkan kadang membekal pekerjaannya atau menyuruh Liam untuk mengantarkan berkas padanya, yang terpenting Sean selalu mengutamakan Naya di atas segalanya.


"Aku ingin mengenalkanmu kepada ibuku Nay." Sean memulai pembicaraannya dengan sang kekasih.


"Tunggulah sebentar lagi Se, aku hanya tak ingin namamu menjadi buruk. Jika reputasiku sihsudah hancur sejak lama hehehe ..." Naya terkekeh renyah.


"Sekarang atau beberapa tahun lagi aku siap menunggumu." Sean menggenggam erat jemari Naya.


.


Abimana yang memang sudah berencana ingin memperbaiki hubungan kali ini akan mengunjungi Caffe pusat milik Naya, ia sangat yakin jika sang istri berada di sana.


Cinta yang kemarin sempat menyinggahi hatinya untuk wanita lain Abimana anggap sebagai guncangan rumah tangganya. Nyatanya setelah semua berlalu cintanya lebih besar terhadap Naya. Telat sadar si Abimana!


Dengan sangat antusias Abimana akan pergi ke tempat istrinya. Ia merasa seperti akan mengencani kekasihnya. Ia akan bertekad untuk merebut kembali hati Naya.


Di perjalanan Abimana berhenti di sebuah toko bunga, membeli salah satu buket bunga kesukaan istrinya yaitu mawar merah. Tak henti-hentinya Abimana menyunggingkan senyuman.


"Bapak ke sini?" Rere orang kepercayaan Naya menghampiri suami dari bosnya. Ia merasa aneh saat suami bosnya ada di sana. Sudah sekitar enam bulan lamanya Abimana tak mengunjungi Caffe milik istrinya.


Meski Rere tidak tahu menahu tentang Abimana yang menikah lagi, juga tentang kepelikan rumah tangga atasannya. Namun Rere dan karyawan Naya bisa menebak jika keadaan rumah tangga bosnya tidak baik-baik saja.


"Re,,, Naya di mana kenapa aku tidak melihat mobilnya? Harusnya dia di sini kan? Ini jam makan siang loh."


"Anu Pak ..."Rere bingung menjelaskan jika Naya jarang ke Caffe paling hanya mengecek pembukuan dan setelah itu akan pergi lagi.


"Anu, anu apa?" Abimana mulai curiga.


"Ibu, ibu belum datang hari ini."

__ADS_1


"Belum datang bagaimana? Ini sudah siang!" Abimana melihat pengunjung Caffe yang mulai ramai memasuki caffe milik istrinya lalu kemana istrinya pergi?


"Ya sudah kau kembali bekerja! Aku akan menunggu Naya di ruangannya." Abimana membawa sebuket bunga mawar merah yang sangat indah menuju ruangan istrinya.


Berkali-kali Abimana mencoba menghubungi nomor Naya namun wanita itu tidak sekalipun mengangkat membuat Abimana merasa kesal. Kemudian ia melempar pinselnya hingga memantul dan terjepit selaan sofa.


Helaan nafas berat ia keluarkan dengan sangat lelah. Abimana juga memijat pelipisnya yang terasa pusing. Naya benar-benar tak tersentuh.


Saat Abimana hendak menghubungi Naya kembali, tangannya terulur untuk mengambil ponselnya di selaan bursi. Namun jemari tangan kanannya tak sengaja meraba sebuah benda kecil be bungkus plastik.


Abimana meraihnya. Jantungnya seperti mencelus, nadi-nadinya tiba-tiba mengetat, aliran darahnya serasa berhenti. Abimana kepayahan menghirup oksigen yang seakan sulit ia dapatkan. Tolong siapapun tolong jelaskan apa maksud ini semua.


Tangan Abimana bergetar luar biasa saat menemukan bungkusan berupa pengaman itu di ruangan istrinya. Sungguh tidak mungkin jika ini milik para pekerja bukan?


Ruangan ini jelas-jelas milik Naya. Lalu pengaman itu milik siapa.


Abimana mencengkram dadanya yang masih terasa sesak wajahnya juga memerah. Ia sudah berpikir bagaimana jika Naya bermain gila di belakangnya bersama pria lain?


"Aaaa,,, ini tidak mungkin!" Abimana menggeleng. Ia hendak memperbaiki rumah tangganya. Lalu bagian mana yang harus ia perbaiki lebih dulu.


Abimana hendak menanyai karyawan Naya apakah istrinya pernah membawa seorang pria ke ruangannya. Tapi niat itu ia urungkan dengan berbagai pertimbangan.


Bungkusan kecil berbentuk persegi itu Abimana genggam dengan sangat erat. Matanya turit terpejam tak kalah erat dari genggamannya. Sebening tetesan air lolos dari matanya.


Bungkusan pengaman ini masih terdapat isinya. Itu artinya hanya ada dua kemungkinan, Naya tidak jadi melakukan hal kotor, atau justru melakukannya tanpa pengaman.


Sumpah demi apapun Abimana ingin menemui Naya dimanapun wanita itu berada. Tapi entah mengapa kakinya seakan terpasung di antara pikiran-pikiran yang berlarian.


"Naya apa kau turut menyalakan api?" lirihnya sangat pelan. Abimana bertanya pada detak jantungnya sendiri yang tak beraturan.

__ADS_1


Pengaman itu antara bukti atau petunjuk.


__ADS_2