Reuni Invite Hell

Reuni Invite Hell
Aku mohon maaf


__ADS_3

Abimana menatap putrinya yang kini sudah menunggunya di teras rumahnya.


"Papa." Disa menghampirinya dengan senyuman lebar khas anak remaja. Tidak ada sedikitpun kesedihan terlihat di wajah cerianya, berbanding terpalik dengan ekpresi wajah Abimana. Ia menyesali apa saja yang sudah terjadi di beberapa bulan terakhir hidupnya.


Tentang bagaimana jalinan rumah tangganya yang ia jalani selama belasan tagun kini benar-benar harus kandas, hancur dalam hitungan bulan saja. Dan Abimana menyayangkan itu terjadi karna keserakahannya. Abimana bahkan menyesali pertemuannya dengan Dewi.


"Papa." Disa mendekati Papanya, "Papa harus minta maaf pada Mama. Karna ulah Papa, Mama melakukan kesalahan yang sangat besar. Disa mohon Pa, berdamailah dengan Mama ini demi aku. Aku menyayangi mama dan papa meskipun Papa sempat mengecewakan aku." Disa menggenggam tangan Abiman.


"Papa perlu waktu." Abimana pergi memasuki rumahnya, entah berapa banyak waktu yang bisa menyembuhkan lukanya. Naya sudah berhasil memporak porandakan hidupnya.


Abimana menatap pantulan dirinya di depan cermin, ia tak bisa diam saja saat hidupnya berantakan. Disa putrinya yang tidak bersalah harus menjadi korban karna ulah supirnya.


"Karna dirimu Adit. Aku harus kehilangan keluargaku. Tak aku sangka ternyata Reuni malam itu adalah Reuni undangan untuk nerakaku sendiri. Seandainya saja Aku menolak Aditya bekerja padaku ini semua tak akan terjadi." Abimana berpikir semuanya berawal karna reuni malam itu, tidak tau saja Abimana jika sebelum malam di mana Reuni itu di adakan Naya dan Sean sudah hampir terlibat one nigth stend.


"Aku harus menyingkirkan penyebab kehancuranku. Setidaknya Sean juga harus merasakan kehilangan sama sepertiku."


Pyaaarr ...

__ADS_1


Abimana memukul cermin di hadapannya hingga berantakan, "Sesuai apa yang kau berikan padaku aku akan membuatmu merasa pria tidak berguna, yang tidak bisa berbuat apa-apa."


.


"Kalian benar-benar membuatku kecewa." Ayah Santosa kini tengah menyidang putrinya, di sana ada Sean tapi wajahnya terlihat datar tanpa penyesalan sama sekali.


"Kau tidak menyesal telah menghamili putriku? Bahkan di saat Naya masih berstastus sebagai istri orang lain!" Ibu Manda yang merupakan ibu kandung Naya bertanya pada Sean yang menurutnya terlihat angkuh.


"Tidak sama sekali! Aku justru bahagia akan menjadi seorang ayah." Sean berujar datar.


"Lalu bagaimana dengan keluargamu? Tentu keluargamu juga akan memojokan putriku, menganggap putriku sebagai wanita murahan yang hamil oleh pria lain padahal dirinya masih memiliki suami." Kekecewaan terhadap Naya tidak dapat Ibu Manda sembunyikan.


"Ayah ibuku bukanlah, manusia yang kolot, apapun yang aku inginkan selama aku bisa memilikinya mereka tidak akan mempersalahkannya. Kecuali aku tidak bisa mendapatkan apa yang aku inginkan maka ayah ibuku akan turun tangan untuk membantuku.


"Ternyata anak dan orang tua sama saja." Ayah santosa mendengus kasar.


"Aku akan menikahi Naya secepatnya." Sean berujar dengan mantap.

__ADS_1


"Tidak bisa. Naya baru saja bercerai mana bisa menikah secepat itu." Ayah Santosa menolak mentah-mentah keinginan Sean.


"Aku akan tetap menikahi Naya! Setidaknya pikirkan cucumu Ayah, apa kau ingin calon cucumu terlunta-lunta tanpa setatus jelas."


"Ya, Ayah kami akan tetap menikah sekalipun Ayah melarang. Sudah cukup selama ini Naya menurut apa kata Ayah, sekarang biarkan aku menentukah pilihanku. Setidaknya demi bayiku." Naya masih menunduk, tak sekalipun Naya berani menatap wajah ayahnya.


"Salahmu sendiri mengapa tidak sabar, kalian sudah berhasil membuatku kehilangan muka di hadapan semua orang. Dan sekarang kalian ingin semakin membuatku tetlihat buruk di hadapan orang lain, di mana otak kalian?" Ayah santosa semakin tak mengerti dengan cara berpikir putrinya.


"Pergilah Naya! Jangan sampai membuatku mengutukmu lebih banyak." Ayah santosa beranjak, meskipun ia tau krsalahan utamanya ada pada Abimana, tapi tak lantas membuatnya membenarkan tindakan Naya.


"Ayo Bu, kita istirahat. Kita biarkan mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri tanpa ada campur tangan kita. Bukankah mereka tidak menganggap kita sebagai orang tua? Mereka bertindak semau mereka, bahkan mereka sudi menghadirkan anak haram demi dendam." Sebejat, bejatnya Sentosa, ia tak terima atas tindakan putrinya. Kadang ia bertanya pada dirinya srndiri apakah semua ini merupakan karma atas dosa-dosanya di masa lalu.


"Asal kau tau Naya, seiring berjalannya waktu tentang bagaimana hubunganmu dan Abimana hancur, kabar itu akan akan menguap seiring berjalannya waktu. Tapi tidak dengan dosamu dengannya," Ayah Santosa menunjuk ke arah Sean.


"Selamanya bayi kalian akan di namai anak haram, dan itu semua hukuman atas dosa-dosa kalian. Banyaknya waktu yang terlewati tidak akan mengubah kenyataan. Banyaknya air tak akan mensucikan anak kalian. Bertaubatlah wahai putriku, sekeras-kerasnya aku, aku masi ayahmu, aku menginginkan kebenaran untuk kelangsungan hidupmu." Luruh sudah air mata Ayah Santosa di hadapan putrinya juga Sean. Naya bahkan tak pernah melihat ayahnya serapuh ini.


Sean yang tadinya hendak memberontak kini termangu dengan mata yang berkaca-kaca, ia menyesal. Dan ya Sean harus bertaubat seperti yang Ayah Naya katakan.

__ADS_1


"Aku mohon maaf pak Santosa, akulah yang sudah membawa putrimu dalam kubangan dosa yang berkepanjangan." Sean bersimpuh di hadapan calon mertuanya. Harusnya ia dapat memegang prinsif hidupnya.


__ADS_2