
"Baiklah Kau ku terima menjadi supir di rumahku." Bima menyodorkan kartu namanya.
"Terimakasih Tuan, mulai besok saya bekerja di rumah anda. Saya pastikan anda akan puas. Saya permisi." Sean menyunggingkan senyuman aneh saat melewati Naya yang tengah menggenggam minumannya.
Naya yang masih penasaran mengikuti langkah kaki Sean ke sebuah lorong, dan Naya yakin Sean hendak ke toilet sehingga ia memutuskan untuk menunggu pria itu dekat toilet pria. Dan saat Sean keluar dari toilet Naya langsung menarik tangan Sean membawanya ke sebuah ruangan yang dia sendiri tak mengerti itu ruangan apa.
"Sean apa maksudmu melamar pekerjaan pada Bima, menjadi supir untukku?"
Naya terlihat garang juga dengan tatapan yang menghunus tajam, kearah Sean membuat pria itu bergetar dengan getaran yang sulit ia jelaskan.
"Memangnya kenapa? Apa salahnya aku melamar pekerjaan pada suamimu?"
"Apa yang kau rencanakan sebenarnya?" Naya terus mencecar Sean dengan berbagai pertanyaan yang hanya Sean tanggapi dengan senyuman menyebalkan.
"Sean aku tau latar belakang dirimu. Mungkin semua orang dapat kau tipu, tapi tidak dengan diriku." Naya terlihat menggemaskan jika sedang kesal seperti ini.
"Aku tersanjung jika kau mengetahui secuil kehidupanku." ujar Sean datar.
__ADS_1
"Sean aku tau, kau bukanlah seseorang yang pakir yang butuh pekerjaan sebagai seorang supir."
"Ck, sudahlah Nay, kau tidak perlu ikut campur tentang kehidupanku. Aku ini seorang pria yatim dan sebatang kara, kau tak kasihan kepadaku." Sean malah mengelus wajah Naya yang sedikit memerah karna kekesalannya.
"Sampai berjumpa esok pagi. Calon kekasihku." Sean mendaratkan satu kecupan di pipi Naya, dan berlalu begitu saja.
.
Abimana menunggu Sean dan meminta Naya untuk menunghu di mobilnya, mereka akan pulang bersama.
"Aditya ..." Abimana memanggil Sean yang hendak memasuki mobil mewahnya, beruntung ia belum mengambil kunci mobilnya yang ia letakan di kantongnya.
"Kita perlu bicara sebentar." Bima membawa Sean untuk menepi dan membicarakan sesuatu dengan calon supirnya itu.
"Aku mencintai istriku." Kata itu yang pertama Bima ucapkan, menjadi kalimat pembukaan.
Jika mencintai tak mungkin kau menghadirkan wanita lain di pernikahan kalian cibir Sean dalam hati.
__ADS_1
"Akhir-akhir ini hubungan kami tengah sedikit memburuk. Aku harap kau bisa menjadi supir sekaligus pelindung dan penjaga untuknya. Laporkan apapun kegiatannya di luar dan di dalam rumah saat aku tak bersamanya." ucap Abimana tegas.
"Aku melakukan sedikit kesalahan padanya. Jadi jangan heran jika dia terlihat seperti wanita pembangkang. Sebenarnya dia wanita paling lembut yang pernah ku ketahui, meski sedikit keras kepala." Bima tertawa renyah saat membicarakan tentang Naya.
'Sedikit kesalahan kau bilang. Menduakan seorang wanita itu adalah kejahatan besar dan juga sulit termaafkan, dasar pria brengsek.' Sean mengumpat dalam hatinya.
"Baiklah ku rasa sudah cukup. Kau akan menjadi supir istri dan putriku, tapi putriku masih berlibur di rumah kakek neneknya."
"Baik Tuan saya sangat mengerti." ujar Sean. Abimana segera berlalu dari sana.
Sepanjang perjalanan hanya ada keheningan yang tercipta antara Bima dan Naya, wanita cantik itu terlihan memandang ke luar jendela dan tak menghiraukan Bima sama sekali.
"Akhir-akhir ini kau banyak berubah Naya, tak ada lagi Naya yang kukenal. Aku merasa seperti tengah berada dengan orang asing." Bima melirik sekilas ke arah Naya, sedangkan Naya hanya menyunggingkan senyum miring.
"Ultraman saja berubah berarti tengah ada masalah. Masa aku yang hanya wanita biasa anteng-anteng saja saat kau membuat masalah yang menggemparkan. Harusnya aku malah memviralkanmu." Naya sudah malas berdekatan dengan Bima.
"Naya. Aku minta maaf." pria itu berkata tulus serta penuh penyesalan.
__ADS_1
"Ucapan maafmu tak akan merubah yang sudah terjadi, kau tetap pernah tidur dengannya dan itu tak dapat ku maafkan. Apa lagi jika aku belum melakukan hal yang sama." pandangan Naya masih ke luar jendela, wajah Bima sekarang tak menarik baginya.
"Kau tenang saja nanti kau ku maafkan setelah semuanya impas. Atau setidaknya kita seri." ujar Naya tak acuh membuat Abimama kebingungan harus bersikaf seperti apa.