Reuni Invite Hell

Reuni Invite Hell
Sean sembunyi


__ADS_3

Naya mengangguk, "Aku pandai memasak, kau harus mencoba masakanku." Ujar Naya.


"Tentu saja, aku akan mencoba segalanya darimu." Sean menatap Naya penuh maksud, sedangkan Naya hanya tersenyum simpul, ia mengartikan lain ucapan Sean.


"Sebenarnya ada hal lain yang mengurungkan niatku mengajukan gugatan cerai lebih dulu." Naya berujar datar, tatapannya melurus ke depan tanpa berkedip atau beriak.


"Hal lain?" Beo Sean, ia di buat penasaran akan hal ini.


"Hm, sebelum pernikahan kami membuat sebuah perjanjian hitam di atas putih, jika siapapun yang menggugat cerai lebih dulu dan perceraian itu terlaksana, maka harta yang sudah kami kumpulkan bersama akan menjadi milik tergugat begitu juga dengan hak asuh putri kami." Naya menelan gumpalan ludah yang terasa amat mengganjal di tenggorokannya dengan susah payah.


Sean tak mempercayai perjanjian konyol seperti ini, Sean kira dalam hubungan pernikahan tak ada sangkut pautnya dengan bisnis. Ternyata Abimana sangat cerdik dan tak mau rugi.


"Meskipun yang salah adalah pihak yang di gugat?" Sean memastikan.


"Hmmm ... Aku benar - benar bodoh Sean, ku pikir selamanya dia akan mencintaiku begitu juga dengan diriku, aku tak menduga semua ini akan terjadi terhadapku. Untung saja aku tak jadi menggugatnya, jika aku sampai menggugatnya dan permohonanku di kabulkan hakim aku akan menjadi seorang janda miskin dengan satu anak. Menyedihkan. Mungkin aku hanya akan menggigit jari kakiku karna tak mendapatkan sepeserpun harta darinya." Naya tersenyum sumir dengan luka yang lumayan terlihat.


"Sudahi menggibah pria itu, kita sudah sampai." Sean menghentikan mobilnya dan mulain menuruni mobilnya.


Suasana rumah sangat sepi, tapi dalam keadaan terang benderang semua lampu di rumah tampak menyala, begitu juga dengan lampu taman semuanya berpungsi dengan baik, tapi rumah di sebrang rumah Naya turut terang padahal biasanya rumah itu dalam keadaan gelap.


"Ada apa?" Sean bertanya pada Naya yang terlihat memperhatikan rumah mewah di sebrang.


"Tidak. Aku hanya heran saja mengapa rumah itu terang, setahuku rumah itu sudah kosong selama dua tahun karna pemiliknya kembali ke negara asalnya." Naya terlihat bingung, dahinya sampai mengernyit dalam.


"Ku kira apa, jangan memikirkan hal lain yang malah membuat isi kepalamu semakin rumit." Sean memarkirkan mobil milik nyonyanya itu.


"Mari makan malam." Naya mengajak Sean ke rumahnya tanpa sungkan lagi Naya membawa Sean ke ruang makan.


Mereka makan malam bersama.


Tak Naya bohongi sudut hatinya terasa berdenyit sakit tat kala ia mengingat keharmonisan keluarganya. Abimana kini tengah berada di rumah wanita lain, wanita yang lebih muda di bandingkan dirinya. Bayangan tentang bagaimana Abimana menjadi pria hangat dan selalu memperhatikannya, kini kasih sayang pria itu harus terbagi karna kehadiran sosok baru yang lebih menarik minat dan perhatian pria itu.


"Naya semua masakannya menggunakan bawang putih, aku tak menyukainya. Bisakah kau buatkan aku telur ceplok saja." Sean berujar membuyarkan lamunan Naya seketika.


Sean sudah mencium semua masakan yang terhidang di meja makan dan semuanya terdapat aroma bawang putih Sean tak ingin memakannya.

__ADS_1


"Baiklah, tunggu sebentar." Naya beranjak tapi Sean juga turut mengikuti wanita itu.


Naya membuka lemari pendingin, ia mengambil brokoli, wortel juga beberapa sosos dan satu butir telur.


"Ya, aku hanya minta telur ceplok saja. Tidak usah serepot itu." Sean tak ingin membebani Naya, ia kasihan terhadap wanita di hadapannya.


"Kau seharian kelelahan, Se. Kau perlu nutrisi untuk tubuhmu, nasi dan telur tak cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuhmu kau juga memerlukan serat yang cukup supaya seimbang." Naya panjang lebar menjelaskan, Naya mencuci dan memotong sayuran itu dan menumisnya lengkap dengan telur dan sosis.


Naya juga membuatkan jus buah persik untuk dirinya dan Sean tanpa gula dan susu, hanya sedikit madu yang ia gunakan untuk menambah rasa manis minumannya.


"Kau juga memperhatikan suamimu seperti ini?" Pertanyaan Sean tak menghentikan kegiatan Naya yang tengah menuangkan jus ke gelas milik mereka.


"Ya, aku selalu memperhatikan apapun yang masuk ketubuh suamiku. Sayangnya aku lalai tak memperhatikan tubuh mana yang suamiku masuki selain aku. Hihihi ..." Jika kalian mengira Naya tengah bercanda kalian salah besar, Naya serius dengan ucapannya termasuk dengan cekikikannya yang di barengi air mata.


"Yaaa ... Jangan terus mengingat lukamu, kapan sembuhnya jika kau masih melibatkan ingatan menyakitkan itu." Sean mengusap sebulir air mata yang menggenang di pipi Naya.


"Kau curang, kau yang membahasnya lebih dulu." Naya menempatkan hasil masakan dan jusnya kedalam satu buah nampan, di saat Naya hendak mengangkat nampan itu Sean lebih dulu membawanya menuju ruang makan.


Keduanya makan dalam keheningan, mereka sibuk dengan pikiran masing-masing.


Setelah makan malam Naya membawa Sean memasuki kamar yang beberapa waktu ini Naya tempati.


Saat membuka pintu kamar itu, dadanya berdenyut nyeri kala mengingat Abimanaa menamparnya di kamar itu, sehingga Naya menutup kembali pintu kamar tamu yang Naya tempati beberapa waktu terakhir.


"Se, mari ke atas. Kita ke kamar utama saja. Kau bisa membersihkan diri di sana."


"Apa aku juga bisa mengambil upahku di sana?" Sean mengerlingkan matanya genit.


"Dasar pamrih."


"Ayolah hanya ciuman level 1 aku janji tak lebih, aku kasihan bibirmu masih luka." ujar Sean serius.


"Kau yakin?"


"Hm, kecuali jika kau menginginkan lebih kita bisa bersenang-senang malam ini."

__ADS_1


Naya menyikut perut Sean yang berjalan di belakangnya. "Terlalu dini untuk bersenang-senang. Kau pulanglah aku berubah pikiran."


"Tidak akan kau yang mengajakku menginap." Sean mengusap perutnya sebentar.


"Jika kau ingin menginap jangan macam - macam."


"Baiklah aku tak akan berbuat apapun tanpa se ijinmu."


Saat Sean tengah mandi Naya menyiapkan pakaianSean, tentu saja pakaian milik Abimana yang Naya persiapkan.


Naya turut membersihkan diri di kamar mandi lainnya.


Sean terpaku saat menatap ranjang yang sudah terdapat pakaian untuknya. Sean tersenyum apa seperti ini rasanya memiliki seorang istri, benar-benar ada yang mengurusi.


"Naya mengurus Abimana dengan sangat baik. Tapi pria itu tak tau di untung.." Sean menggerutu dan merasa sebal sendiri oleh tingkah Abimana.


"Ya Tuhan bajunya terlalu kecil." Sean bercermin di kaca yang terdapat di kamar itu.


Otot-otot Sean tampak tak terbendung di antara kaos putih polos yang mengetat di tubuhnya. Perasaan tubuhnya dan Abimana tidak terlalu jauh berbeda meskipun tinggi mereka berbeda 5 centi meter.


Juga dengan bagian bawah kaos itu yang terasa mengatung. Ini adalah pertama kalinya Sean mengenakan pakaian orang lain. Sekalipun Sean dulu sempat menjadi orang tak punya tapu Sean tak pernah meminjam baju orang lain.


Ceklek.


Naya masuk dengan membawa secangkir teh jahe di tangannya. Matanya tak henti meneliti tubuh Sean yang terlihat tak nyaman mengenakan pakaiannya.


"Bwaaahaaa haaa ..." Naya tertawa terpingkal-pingkal setelah meletakan tehnya di atas nakas.


"Se, kau terlihat seperti Hulk turki." Naya kesulitan menghentikan tawanya.


Sean sendiri turut ikut tertawa kala melihat Naya yang terbahak-bahak.


"Kau senang sekali mengerjai kekasihmu." Sean malah menangkap tubuh Naya dan menggulingkannya di atas ranjang.


"Aku ambil upahku sekarang." Sean mengecupi pipi, bibir dan seluruh permukaan wajah Naya. Namun kegiatan mereka harus terhenti tat kala ponsel Naya berdering.

__ADS_1


"Sean sembunyi!"


__ADS_2