Reuni Invite Hell

Reuni Invite Hell
Rasakan sensasinya


__ADS_3

Setelah berdiam diri beberapa waktu Bima bergegas untuk meninggalkan caffe istrinya. Bima masih menolak jika Naya telah bermain gila di belakangnya. Begitu juga denfgan Adit sang supir yang tidak melaporkan adanya pria idaman lain yanng mendekati istrinya, ia berikan gaji dua kali lipat dari gaji supir pada umumnya hanya adar Adit menjadi mata-mata untuknya. Tapi Aditya benar-benar tidak memberitahu apapun.


Tidak tau saja Abimana jika yang ia beri amanahlah pelakunya. Sepertinya Abimana mainnya kurang jauh.


Tujuan utamanya adalah rumah ia malas untuk pergi ke kantornya kembali. Abimana lagi-lagi menelan kekecewaan saat Naya tak ada di rumahnya. Sehingga ia menghubungi Naya kembali beruntung kali ini Naya mengangkatnya.


"Ada apa?" terdengar suara Naya dari sebrang ada juga decakan di akhir kalimatnya.


"Kau dimana?"


"Aku di jalan sedang menyetir. Dalam perjalanan pulang."


"Menyetir? Lalu ke mana Adit?"


"Dia ada urusan."


"Ya sudah cepatlah pulang! ada hal penting yang mau ku bicarakan denganmu."


"Oke."


Sekitar setengah jam menunggu akhirnya Naya pulang beserta putrinya. Meski beberapa waktu sudah berlalu Disa masih enggan kembali akrab dengan Papanya, ia lebih memilih pengabaikan sang ayah dari pada harus terlibat percakapan antara ayahnya yang sudah menyakitinya beberapa kali.

__ADS_1


Tadinya Abimana ingin menanyakan kebenaran tentang pengaman yang ia temukan, namun Bima terlalu takut jika jawaban Naya akan melukainya sehingga ia cukup memendamnya dalam hati. Mungkin suatu saat ia akan menanyakan setelah hubungan mereka membaik.


"Ma, Disa ke kamar dulu ya?"


"Ya Sayang hati-hati."


Setelah kepergian Disa, Avimana muli membuka obrolan.


"Dari mana kau sehrian ini?"


Bukannya menjawab Naya malah mengajukan pertanyan juga pada Abimana. "Memangnya ada apa kau menanyakan hal itu padaku? Apa kau tak ada urusan lain selain mengurusi urusanku sekarang?" Naya menyunggingkan senyuman sinis.


"Oh. Aku tadi mengantar ibu untuk mengecek kadar gula Ayah di rumah sakit." aku Naya jujur, setelah Sean pamit untuk menangani urusannya Naya di telepon mertuannya untuk di mintai tolong. Karna Naya menyayangi mertuanya Naya tak tega jika harus menolak permintaan ibu mertuanya.


Abimana tersenyum hangat. Ia bahagia saat Naya masih peduli terhadap orang tuanya. Ini adalah salah satu berkah hidupnya, jika anak lain di pusingkan antara pertikaian orangtua dan istri, untuk hal ini Abimana patut bersyukur istri dan orangtuanya terlihat kompak dan saling mendukung.


Abimana tersenyum kembali, jika Naya masih perduli kepada orang tuanya itu artinya Naya masih mencintainya kan? Bukankah Bima terlalu percaya diri.


"Naya kau masih menyayangi Ayah dan ibuku?" Abima tetap bertanya meski ia yakin Naya sangat menyayangi orang tuanya.


"Tentu saja, mereka ayah dan ibuku juga."

__ADS_1


"Naya terimakasih kau mau menyayangi mereka meski kelakuanku tidak termaafkan. Terima kasih juga karna tidak menyangkut pautkan kesalahanku pada mereka." Mata Abimana berkaca-kaca, ia bangga dengan istrinya ia genggam telapak tangan istrinya dan ia kecupi kedua pergelangan tangan Naya bergantian.


Naya menarik tangannya dari genggaman Abimana.


"Aku menyayangi mereka karna mereka orangtuaku sejak lima belas tahun lalu. Tidak ada hubungannya denganmu, sekalipun kesalahanmu tak termaafkan tak lantas membuatku mengurangi kasih sayang kepada Ayah Darma dan ibu Ayu, mereka orang tuaku, nenek dan kakek putriku. Tidak usah terlalu percaya diri, aku melakukan kebaikan pada mereka bukan karna aku masih bersamamu! Sekalipun kau enyah dari hidupku tak akan merubah ikatanku dengan mereka." Naya terkekeh renyah.


Abimana hanya mematung dengan mulut terbuka, ia tak menyangka Naya akan mengatakan hal itu.


"Lantas seperti apa aku di matamu sekarang Naya?" Abimana berujar sendu.


Ingin rasanya Naya tertawa terbahak-bahak akan candaan suaminya. Mempertanyakan septi itu, Abimana waras?


"Kau di mataku tak lebih dari seorang pengkhianat! Abimana. Untuk itu berhenti membuatku muak. Kau tak melihat tatapan penuh kebencian yang selalu ku berikan padamu, kenapa kau tidak menyerah saja Abimana." Inilah yang Naya sukai dari drama yang ia main sekarang. Melihat Abimana tak berdaya adalah hobi barunya.


"Aku ingin memperbaiki segalanya Naya. Tolong berikan aku satu kali kesempatan. Hanya satu kali saja, sungguh kemarin aku khilaf Naya." Abimana memohon di hadapan Naya, dan ini untuk pertama kalinya Abimana memohon pada orang lain. Khilaf nyambe berbulan-bulan sampai di nikahi pula. Naya yakin jika Dewi tidak di delete Tuhan Abimama akan tetap bersama wanita itu.


"Apa aku salah melihat? Seorang Abimana yang angkuh kemarin memohon di hadapanku? Wah ... Wah ... Harusnya Disa melihat ini?" Naya tertawa dengan menutupi mulutnya, ia sangat pus dengan keadaan yang berbalik pada suaminya. Padahal kejutan sesungguhnga belum ia persembahkan.


"Aku bersalah Naya, aku siap menerima hukumanku."


"Ya sudah, sebentar lagi kau akan menikmati hukumanmu. Bukankah aku sudah mengatakan akan menghadirkan neraka untukmu? Sabarlah sedikit lagi sayangku." Naya menepuk pipi Abimana di hadapannya. "Dan rasakan sensasinya!"

__ADS_1


__ADS_2