
Setelah perdebatan Abimana dan Naya, mereka tidak terlibat perbincangan lagi. Sampai ke esokan harinya saat Abimana berangkat bekerja Naya tidak menampakan batang hidungnya di hadapan pria itu.
Tanpa Abimana ketahui Naya sudah menyiapkan pesta di rumah orang tua Abimana. Pesta meriah dengan mengundang para karyawan yang bekerja di kantor suaminya.
Sepanjang bekerja Abimana selalu memikirkan kalimat yang Naya ucapkan. Kata demi kata yang Naya lontarkan bagai belati yang terus menghujam tepat di dadanya. Baru ini Abimana mendapatkan kegelisahan yang luar biasa dari istrinya.
Ia bahkan melupan jika hari ini adalah ulang tahunnya.
Drtt ... Drtt ...
Ponsel Abimana bergetar. Yang mana mampu melenyapkan kepelikan hatinya sedari tadi, nomor yang menelponnya adalah nomor Naya tertulis My Beloved di nomor itu, di sertai gambar hati berwarna merah.
"Ya Sayang ada apa?" tanpa menunggu lama lagi Abimana segera mengangkat panggilan.
"Datanglah ke rumah Ayah pukul tujuh tepat."
"Ada apa Sayang? kau berencana memberikanku kejutan."
"Datang saja. Kau akan tau nanti." Naya terkekeh pelan.
"Tapi mengapa harus di rumah Ayah? Kenapa tidak di rumah kita?" Abimana bertanya heran. Pasalnya hubungan ia dan orang tuanya tengah berada dalam keadaan yang tidak baik karna kelakuannya tempo hari. Ayah ibunya marah besar saat mengeyahui Abimana sudah menikah lagi, tanpa meminta ijin darinya meskipun istrkm muda Abimana sudah pindah alam namum tak lantas membuat Ayah Darma dan sang istri melunak. Mereka tetap marah dan kecewa kepada Abimana hingga saat ini.
"Nanti ku jelaskan. Datanglah tepat waktu!" Suara Naya sangat ceria saat mengatakan itu membuat Abkmmana ikut bersemangat untuk menyambut nanti malam.
"Aku akan datang tepat waktu." setelah mengakhiri panggilan senyuman bahagia selalu tercetak di wajahnya. Ia harus mencari hadiah untuk istrinya. Ini adalah awal yang baik untuk hubungan mereka yang percah terguncang.
Abimana segera beranjak, ia ingin membelikan Naya hadiah di pusat perbelanjaan.
Abimana membeli satu set perhiasan sebagai hadiah yang akan ia persembahkan untuk istrinya. Tak apa ia yang ulang tahun tapi ia yang akan memberikan hadiah istimewa untuk istrinya. "Terimakasih, untuk tetap bersamaku Naya." Abima tengah memilih kata-kata untuk istrinya.
Tidak hanya itu Abimana juga membelikan satu buket bunga mawar merah dengan ukuran yang sangat besar. Ia tak sabar untuh nanti malam.
Abimana pulang lebih cepat. Setelah membeli hadiah, ia tidak ke kantornya lagi.
.
Pokul 07.00
__ADS_1
Abima benar-benar tiba di rumah orang tuanya tepat waktu. Sudah banyak tamu undangan yang hadir di sana. Ternyata kejutannya lebih meriah dari yang Abimana bayangkan.
Istrinya memang benar-benar akhi membuatnya terkejut.
Taman di depan rumah orang tuanya di dekor sedemikian rupa, sepertinya istrinya memang merencanakan ini dari jauh-jauh hari.
Naya tampil anggun menggunakan gaun berwarna broken white senada dengan gaun yang putrinya kenakan. Tapi di mana orang tua Abimana?
Oh rupanya orang tua Abimana tengah berbincang dengan para pekerja senior di kantoryang sekarang di kelola Abimana.
"Sayang." Abimana membawa buket bunga juga kotak kecil berwarna hijau sage di kedua tangannya. Di atas kotak bludru berwarna sage itu terdapat pita kecil berwarna merah muda.
"Hai ..." Naya segera memghampiri suaminya dan membawanya ke tempat utama.
Ada cake besar bertingkat tiga di sana dengan lilin membentuk angka 33.
"Sayang ini hadiah untukmu." Abimana menyerahkan bunga juga hadiahnya.
Semua mata tertuju pada keluarga bahagia itu. Jika Abimana tak bermain api, munkin keluarga harmonis itu akan sangat bahagia hingga kini.
Apa yang para tamu lihat hanya kepalsuan belaka. Kenyataannya keluarga mereka sedang tidak baik-baik saja.
"Sayang terimakasih atas kejutannya." Abimana berbisik dan mengecup pipi istrinya sekilas.
Ingin sekali Sean memberikan bogem mentah kepada bibir Abimana yang dengan berani mengecup pipi mulus kekasihnya. Naya mengulum senyum saat melihat riak wajah Sean menggelap, ia yakin kekasihnya tengah terbakar cemburu.
"Ini masih setengah dari kejutanku Abimana. Setelah kau tiup lilin nanti ku beri kejutan sesungguhnya." Ujar Naya lembut.
"Mari mulai acaranya aku sudah tak sabar ingin mengetahui kejutan sesungguhnya."
Meski ada Mc dan pembawa acara, Abimana menbuka acaranya sendiri juga memandu para tamu undangan untuk menyanyikan lagu ulang tahun.
"Tiup lilinnya, tiup lilinnya." Riuh semua orang. Aminana meniup lilinnya dengan segera.
Dan ini lah yang ia tunggu sedari tadi. Putrinya berjalan ke arah ia dan sang istri dengan sebuah kotak persegi panjang dengan panjang tak lebih dari dua puluh centi, berwarna putih dengan pita berwarna hitam. Abimana bertanya-tanya tak adakah kotak hadiah yang lebih indah dari kesua warna itu.
Abimana mengabaikan pertanyaan tentang warna kotak hadiah. Ia mulai menebak apa isinya, jam tangankah atau dasi, atau benda apa yang sekiranya mungil dan masuk ke kotak itu.
__ADS_1
"Ini Ma hadiah untuk Papa." Disa memberikan kotak itu pada ibunya.
"Terima kasih sayang." Naya meraih benda itu.
"Hadiah ini memang mungkin tidak pernah kamu bayangkan. Tapi aku tulus dan benar-benar berniat ingin memberikan hadiah ini untukmu. Selamat ulang tahun suamiku." Tanpa doa dan ucapan lain Naya memberikan hadihnya.
"Terimakasih Naya, terimakasih aku sangat bahagia." Abimana memeluk erat tubuh istrinya, apapun isi hadiahnya Abimana akan menerima denan senang hati. Ia tak memiliki firasat apapun tentang ini. Ia terlalu larit dalam kebahagiaanya.
Abimana mengurai pelukan. "Boleh aku membukanya sekarang?" Tanya Abimana.
"Buka saja suamiku."
Abimana menarik pita hitamnya lebih dulu, kemudian membuka kotah itu.
Dan saat kotak itu berhasil di buka sepenuhnya. Abimana kehilangan keearasannya untuk sesaat.
Matanya membola, seluruh tubuhnya bergetar , keringat dingin memenuhi setiap pori-pori di kulitnya. Tidak ini mimpi buruknya, ini mimpi buruk. Ini tidak mungkin terjadi kakinya mendadak lemas bagai tak bertulang hampir saja ia limbung dan terjatuh jika Mc tidak sigap menahan tubuhnya.
Tanpa rasa bersalah Sean memberikan kursi agar Abima bisa duduk. Matanya di lapisi kaca-kaca bening yang siap tumpah jika seandainya ia mengedip. Tangan Abimana benar-benar bergetar dengan hebat ia tak mampu menahan beban kotak di tangannya yang hanya beberapa gram saja, kotak itu terjatuh dengan isi yang berhambiran, satu buah test feck, serta satu lembar foto USG berwarna hitamputih bertuliskan nama Naya juga usia kandunhannya di sana.
Jantung Abimana serasa di renggut paksa. Tulang belulangnya serasa di lolosi satu persatu, sehingga Abimana tidak memiliki tenaga.
Ini terlalu menyakitkan untuk Abimana. Ini lebih dari sekedar penkhianatan juga penghinaan secara terang terangan terhadapnya.
Abimana tak dapat mengucapkan sepatah katapun air mata lolos begitu saja dari maniknya, juga tatapan penuh kekecewaan yan ia berikan untuk Naya.
Naya hanya tersenyum manis.
"Ini kejutan utamanya sayang. Disa akan memiliki adik, ku harap adiknya laki-laki. Selamat untukmu kau hebat sebagai seorang pria. Meski kemarin kau sempat menikah tetapi ini membuktikan jika kau benar-benar berlaku adil pada kami." Kalimat Naya bagai siraman air garam di antara luka hati Abimana yang menganga dan berdarah-darah.
"Ku harap bayi ini bisa menjadi penghiburan atas dirimu yang ke hilangan seorang istri muda." Sambung Naya lagi. Cih penghiburan yang ada menjadi kuburan untuk Abimana.
"Usia bayi ini 8 minggu sayang."
"Jangan menangis. Aku tau kau sangat bahagia." Naya mengusap air mata yang menganak sungai di mata suaminya. Wah akting Naya sangat natural, Naya layak mendapatkan piagam penghargaan sebagai aktris terbaik tahun ini.
Abimana benar-benar terkejut. Sifatnya yang tenang tak membuat Abimana berpikir Naya akan melakukan hal sejauh itu.
__ADS_1
Sulit rasanya Abimana menggambarkan perasaannya saat ini, jika saja Abimana bisa memilih ia lebih baik di kuliti hidup-hidup dari pada berada di posisi ini. Sekuat mungkin Abimana mempertahankan kesadarannya. Sedih, malu, kecewa, terhina, tak memiliki harga diri, menyesal. Semua rasa yang tak terhitung Abimana rasakan. Ini adalah hadiah ulang tahun terburuk sepanjang hidupnya.