
"APA YANG KALIAN LAKUKAN??" Ucap Nathan tak bisa menahan amarahnya lagi. Ia kemudian menghempaskan tangan Nesya dengan kasar.
"ya..yang mulia!." Ucap Nesya gugup.
Nesya dan Maria kaget melihat Nathan dan langsung memberikan salam hormat tapi tak di ubris oleh Nathan.
"Putra mahkota syukur anda datang kemari, kami sedang menangkap seorang pencuri." Ucap Maria bangga. Nesya dan Maria kini membelakangi Zania yang tengah terduduk sambil menonton drama yang ditunggu-tunggu sedari tadi.
"Pencuri?" Tanya Nathan dengan amarah yang semakin memuncak.
"I iya yang mulia" ucap Nesya gugup. Mengapa putra mahkota kelihatannya sangat marah? Apa yang terjadi?.
"Mana pencurinya.?" Tanya Nathan.
"Di sana yang mulia" Tunjuk Maria dengan percaya diri pada posisi Zania.
Namun alangkah terkejutnya mereka mendapati bukan Zania si sampah yang sedang terduduk di lantai melainkan permaisuri dari putra mahkota. Hal itu sukses membuat mereka gemetar ketakutan.
Apa yang terjadi? Bukankah tadi itu Zania si sampah? mengapa sekarang malah berbeda? pikir mereka ketakutan.
"Itu? itu dia yang kalian maksud, apa yang kalian maksud istriku adalah seorang pencuri?" Tanya Nathan dengan nada tinggi.
"Ma.. maaf yang mulia tapi tadi kami memang menangkap pencuri bukan nya permaisuri." Ucap Maria gugup ketakutan.
"Apa kalian pikir aku buta, aku melihat sendiri bagaimana kalian memperlakukan istri ku dengan kejam, kalau saja istri ku sedang tak sakit mungkin ia sudah membunuh kalian di tempat saat itu." Ucap Nathan sembari berjalan dan membantu Zania berdiri.
Ia langsung memeluk istrinya itu, Zania yang di perlakukan seperti itu tersenyum puas dalam pelukan Nathan.
Waktunya sandiwara di mulai hahaha.
"Kau baik-baik saja sayang?" Tanya Nathan lembut.
"Iya aku baik-baik saja" Ucap Zania tersenyum.
"Vian! bawa dua wanita ini keruang penyiksaan, siksa mereka berkali-kali lipat dan beri mereka makanan basi. Jangan biarkan mereka mati, mereka harus menghadiri acara jamuan makan kerajaan, jadi lakukan yang terbaik! kau mengerti?" perintah Nathan.
"Baik" Ucap Vian.
"Tidak yang mulia kami mohon ampuni kami, kami memang salah kami mohon yang mulia ampuni kami" Ucap Maria berlutut memohon, Zania yang melihat itupun tersenyum puas dalam hatinya.
"Nathan jangan seperti itu mereka kan tidak sengaja" Ucap Zania
__ADS_1
"Tidak sayang! siapapun yang memperlakukan mu seperti itu akan mendapatkan hukuman yang berkali-kali lipat, dan itu semua sebagai peringatan saja" Ucap Nathan
"Tapi Nathan, aku memang pantas di perlakukan seperti itu, lagi pula aku hanya rakyat biasa. Jadi aku mohon jangan hukum mereka" Ucap Zania merendah, matanya berkaca-kaca dan itu malah memperburuk suasana hati Nathan.
"Vian!!! bawa mereka cepat." Perintah Nathan dengan nada tinggi.
"Tidak!! tidak!! yang mulia kami mohon ampun" Ucap mereka memohon tapi Nathan sudah berbalik dan berjalan sambil merangkul Zania.
Zania menoleh kan kepalanya ke belakang dan melihat Nesya dan Maria yang melihatnya dengan rada memohon. Kemudian Zania tersenyum licik dan menjulurkan lidahnya mengejek.
Nesya dan Maria yang melihat itupun menjadi kesal, ternyata mereka sudah di jebak. Seharusnya Zania lah yang mendapatkan hukuman bukan nya mereka. Dasar wanita bermuka dua. Pikir mereka.
***
Raja Hiugo yang mendengar bahwa putri dan selir pertamanya di hukum sangatlah kaget, terlebih lagi itu semua karena ke dua wanita itu menuduh permaisuri sebagai pencuri dan melakukan kekerasan fisik terhadap permaisuri.
Kabar tentang Nesya dan Maria pun tersebar luas, banyak orang yang membenci Nesya dan Maria yang menurut mereka tidak menghargai permaisuri dari putra mahkota hanya karena status sosial saja.
Zania yang mendengar kabar tentang kedua wanita itu tersebar luas pun tersenyum puas, langkah demi langkah balas dendam akan tercapai. Ini baru permulaan saja.
Kini Nathan dan Zania tengah berada di taman duduk sambil menikmati pemandangan indah.
Salah satu pengawal datang menghadap mereka menyampaikan sebuah pesan.
Salam yang mulia permaisuri.
Semoga yang mulia di beri kesehatan" Ucap pengawal itu memberi salam.
"Hmmm ada apa?" Tanya Nathan langsung.
"Yang mulia Raja Hiugo memohon untuk bertemu dengan yang mulia" Ucap pengawal itu
"Baiklah, suruh dia kemari"
Pengawal itu pun pergi dari hadapan Nathan dan Zania dan pergi menjumpai Hiugo.
"Salam putra mahkota dan permaisuri" Ucap Hiugo memberi salam.
"Hmmm ada apa?" Tanya Nathan langsung.
"Maafkan hamba bila lancang yang mulia, tapi saya ingin membahas tentang anak dan istri saya" Ucap Hiugo hati-hati.
__ADS_1
Walaupun Nathan masih menjadi putra mahkota namun kekejaman nya melebihi dari raja Ronald ayahnya sendiri.
"Apa yang ingin kau bahas lagi, sudah jelas istri dan anak mu itu bersalah mereka menghina istriku dan melakukan kekerasan fisik pada istri ku. Dan hukuman itu sudahlah yang paling ringan mengingat istri ku memohon untuk meringankan hukumannya" Ucap Nathan.
"Tapi yang mulia.."
"Tak ada tapi tapian, kalau kau ada di posisi ku apa yang akan kau lakukan hah?"
"Yah aku baru ingat bahwa kau adalah laki-laki yang tak berguna dan sekarang ingin menjadi laki-laki berguna dengan membela anak dan istrimu yang bersalah." Ucap Nathan.
"Apa maksud anda yang mulia?"
"Heh kau pura-pura lupa yah, kau menelantarkan permaisuri mu yang sakit-sakitan lalu istri mu meninggal karena diracuni, lalu kau menuduh putri mu sendiri yang masih kecil dan tak tau apa-apa, kau tak menyelidiki terlebih dahulu dan langsung menghakiminya. Setelah itu putri mu di bunuh tapi kau bahkan tak mau mencari jasadnya, kau memang tak berguna. Dan sekarang kau malah membela anak dan istrimu yang bersalah, sungguh lucu hahaha" Ucap Nathan tertawa kecut.
Hiugo yang mendengar itupun tertunduk lemah, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi dan akhirnya meminta izin untuk pergi.
***
Hari sudah malam Nathan kini tengah melakukan pertemuan dengan beberapa raja, sedangkan Zania sedang ada di dalam kamarnya.
"Huh membosankan!"
"Aha bagaimana kalau aku menjenguk kedua wanita itu pasti mereka sangat merindukan ku hahahaha" ucap Zania pergi menuju ruang penyiksaan.
Sesampainya ia di depan ruangan para pengawal langsung menunduk hormat dan membukakan pintu.
Ketika pintu di buka suara teriakan histeris terdengar lantang, ia melihat Nesya dan Maria tengah di cambuki.
Para algojo yang melihat Zania datang langsung menghentikan kegiatan mereka dan memberi salam.
Nesya dan Maria yang merasakan cambukan nya berhenti pun mendongakkan kepala mereka dan melihat sesosok yang sedang berdiri di depannya dengan benci.
"Hai lama tak berjumpa, merindukanku?"
***
penasaran
simak kelanjutannya terus yah.
jangan lupa vote dan tinggalkan jejakyah.
__ADS_1
tbc