
"Hyuna" Jawab Hyuna dengan nada dingin.
"Hyuna? Tapi mengapa wajahmu mirip dengan Zania, dan dimana ia?" Tanya Nathan.
"Kalau kau ingin tau dimana istrimu, pergi lah menepi agar kau bisa bertahan hidup. Pergilah sekarang karena aku memiliki tugas yang harus ku selesaikan sekarang. Bila tugasku sudah selesai aku akan memberitahumu dimana istrimu" Jelas Hyuna dengan dinginnya.
"Kau pikir aku lemah?" Ucap Nathan geram.
"Kau memang tak lemah putra mahkota, hanya saja kita berbeda alam jadi jenis kekuatan kita juga berbeda. Kalau sempat nanti kau terluka jangan salahkan aku akan membunuhmu dan kau tak akan bertemu dengan istrimu" Ucap Hyuna horor.
Nathan sebenarnya ingin melawan hanya saja ia tak mau memperkeruh suasana. Ia akan menepi agar ia mengetahui dimana istrinya itu.
Ia menatap Hyuna dari jauh, wajah yang datar, tatapan tajam, bola mata hitam, nada suara yang dingin, aura gelap, dan bau darah yang menyengat. Sangat berbanding terbalik dengan Zania nya.
Melihat Nathan yang sudah menepi, Hyuna memasang dinding pembatas kembali agar serangan apapun itu tak mengenai orang yang tak bersalah. Walaupun ia terkenal kejam, tapi ia kejam untuk orang yang bersalah bukan orang yang tak bersalah.
Setelah memasang dinding pembatas, Hyuna memfokuskan tatapannya pada Lumi. Ia menyeringai licik melihat wanita yang ada di hadapannya itu.
"Lama tak berjumpa!" Ucap Hyuna dingin.
"Hahaha kau mengingat ku yah" Ucap Lumi tertawa mengejek.
"Tentu saja aku mengingatmu, tak ku sangka kau mengikuti ku sampai kemari. Thalia." Ucap Hyuna.
"Hahaha ternyata kau masih begitu pintar."
"Katakan! Tujuan mu?"
"Tujuan ku adalah membunuhmu"
"Bagaimana kalau kau yang terbunuh?"
"Itu tak akan terjadi, dimasa lalu aku pernah membunuh mu dan dimasa sekarang aku juga bisa membunuhmu"
"Kau terlalu percaya diri"
"Yah percaya diri itu memang lah wajib kita miliki"
"Terlalu percaya diri akan membuatmu jatuh ke jurang yang semakin dalam."
"Kita lihat saja nanti!" Ucap Thalia menyeringai licik.
Thalia memanggil segala antek-antek nya untuk menyerang Hyuna.
__ADS_1
Dalam hitungan detik semua golem-golem dengan penampilan menjijikan dan pria-pria berjubah hitam muncul dengan jumlah yang sangat banyak. Mereka mengelilingi Hyuna tapi masih dengan jarak jauh.
"Seperti orangnya yang menjijikan, mahluk yang ia buat juga menjijikan." Ucap Hyuna tersenyum miring.
"Banyak bicara kau!! bunuh dia!!" Teriak Thalia lantang.
Para antek-antek Thalia maju menyerang Hyuna.
Sring..
Suara pedang di tarik dari pengamannya. Pedang yang tajam dan berkilau. Seketika para antek-antek itu berhenti dan gemetar ketakutan.
Mereka tau pedang apa itu, pedang itu sering di gunakan Hyuna untuk memenggal kepala musuhnya, lalu darah musuhnya akan diserap habis oleh pedang itu hingga musuhnya menjadi debu.
Bagaimana ini? Apa mereka telah salah ambil jalan dengan melawan Ratu dari kegelapan itu? Pikir mereka.
"Apa yang kalian tunggu!! serang dia cepat!! " Teriak Thalia.
Para antek-antek itu berlari menyerang Hyuna dari segala arah. Hyuna yang melihat itu tersenyum smirk.
Ia mengayunkan pedangnya, menebas angin. Membuat para antek-antek itu menjadi debu seketika, darah mereka di hisap habis oleh pedang Hyuna.
"Hanya ini yang kau punya?" Tanya Hyuna dingin.
Thalia yang melihat itu sedikit panik. Tapi ia mempunyai rencana lain.
"Mengapa hanya diam, apa kau menyerah. Tapi kau bilang tadi ingin membunuhku" Ucap Hyuna.
"Aku tak akan pernah menyerah." Ucap Thalia tersenyum licik.
Thalia kini mengeluarkan pedangnya. Ada yang khusus dari pedangnya itu dan itu sesuai rencananya. Yah dia menempah pedang itu dengan campuran bahan khusus yang ia yakini bisa mengalahkan Hyuna.
Hyuna melihat pedang itu mengerutkan keningnya. Ia tau ada sesuatu di pedang itu. Dan ia sangat membenci sesuatu itu.
"Kau pikir dengan menaruh bunga itu kau bisa mengalahkan ku" Ucap Hyuna.
Thalia sedikit tertegun, bagaimana Hyuna bisa tau kalau ia menaruh bunga di dalam pedangnya itu?
"Kau sangat bodoh Thalia. Aku pernah mengatakan bahwa aku tak suka dengan bunga mawar merah, bukan berarti aku bisa kalah dengan keberadaan bunga itu.
Kau ingin tau mengapa aku tak suka dengan bunga itu. Dulu ketika aku kecil aku sangat suka dengan bunga itu, bunga yang indah. Sampai aku menyuruh ayah ku untuk membuatkan aku sebuah kebun bunga itu.
Tapi waktu itu ada seorang gadis kecil yang masuk dalam keluarga ku. Gadis kecil yang kumuh dan dekil, karena kasihan ayah ku mengambilnya dan merawatnya. Dia berusaha untuk mengambil perhatian ayahku, tapi yang namanya ayah pasti akan menyayangi anak kandung nya sendiri.
__ADS_1
Gadis kecil itu diam-diam merusak kebun bungaku yang indah, ia pikir aku tak tau. Ia membuat ramuan dari bunga itu dan memberinya pada ayah ku. Ayah meninggal karena keracunan bunga itu. Dan dari situlah aku membenci bunga itu, dan gadis itu"
"Kau tau siapa gadis itu? Gadis itu adalah kau" ucap Hyuna dengan nada tajam.
Thalia yang mendengar itu menjadi tegang, ia pikir Hyuna tak pernah tau tentang kejadian masa lalu. Ternyata ia telah mengetahuinya dan pura-pura baik.
"Kalau kau mengetahui aku pembunuhnya, mengapa kau tak membunuhku waktu itu?"
"Aku tak membunuhmu karena ayah ku berpesan agar aku menjaga mu. Yah tapi itu dulu, sekarang apapun yang terjadi kau harus mati ditangan ku"
Hyuna berjalan mendekat pada Thalia, ia tak akan menyia-nyiakan waktu lagi. Thalia yang melihat Hyuna mendekat menjadi tegang.
Setelah berhasil mendekat, tatapan Hyuna dan Thalia saling beradu, tatapan kebencian, sedih, ketakutan, bercampur aduk.
Thalia menyerang dengan pedangnya dan dibalas balik oleh Hyuna. Aroma pedang Thalia membuat Hyuna terkadang bersin di saat mereka sedang bertarung.
Karena malas berlama-lama, Hyuna menjadi agresif. Ia menyerang Thalia dengan kecepatan penuh membuat Thalia kewalahan.
Di saat Thalia kewalahan karena lelah, Hyuna langsung menancapkan pedangnya tepat di jantung Thalia.
Jleb..
Thalia tak bisa bersuara sedikitpun, sesuatu rasanya tertarik dari tubuhnya. Penglihatannya mulai memudar, wajahnya memucat karena darah yang terkuras banyak.
"Kau telah salah mengambil jalan Thalia! Aku harap kau akan mendapatkan balasan yang setimpal nanti" Ucap Hyuna menarik pedangnya membiarkan Thalia jatuh tergeletak.
***
Kira-kira Zania dimana yah? Ada yang tau?
Penasaran dengan kelanjutan nya
Simak kelanjutan nya pada bab selanjut nya..
Jangan lupa vote dan tinggalkan jejak yah
Agar author makin semangat untuk update setiap hari nya..
Typo bertebaran dimana-mana, harap bijak dalam berkomentar yah.
Terima kasih****.
tbc
__ADS_1