Revenge Of The Princess (Revisi)

Revenge Of The Princess (Revisi)
41


__ADS_3

Hari ini adalah hari pernikahan Lucy dan Vian. Acara pernikahan yang sangat meriah.


Semua orang tak terkejut karena raja Ronald menikahi putrinya bukan dengan pangeran dari kerajaan lain melainkan dengan orang kepercayaan putra mahkota.


Orang-orang tak mempermasalahkan itu karena mereka sangat paham dengan sikap bijaksana raja mereka yang tak ingin mengekang anak-anaknya dengan sebuah perjodohan dan status sosial.


Dan yang paling mereka suka dari raja Ronald adalah raja Ronald tak pernah memandang status sosial. Bahkan ia mengundang dari semua kalangan untuk hadir di pernikahan kedua anaknya dan yang pasti akan mendapatkan pelayanan yang terbaik.


Acara pernikahan sudah di mulai. Mempelai pun sudah mengucapkan janji dan resmi menjadi suami-istri.


Kini saatnya mendapatkan hadiah dari para kerabat-kerabat kerajaan.


Nathan kini tengah duduk di samping Zania yang sedang menatap lurus sambil memakan buahnya.


Ia tersenyum geli melihat ekspresi istrinya ketika sedang memakan buah.


Merasa di perhatikan, Zania menoleh dan kembali menatap Nathan.


Ia tersenyum manis pada suaminya yang sabar menemani dan menanggapi semua tingkah kurang ajarnya itu.


"Sayang! maaf kan aku yah!" Ucap Zania berbisik-bisik.


"Untuk apa sayang?" Tanya Nathan mengelus pipi Zania.


"Aku sudah menyusahkan mu"


"Hahaha santai saja. Aku ini suami mu dan kau adalah istriku. Akan aku lakukan apapun itu untuk membahagiakan mu karena aku tak ingin kehilanganmu lagi."


"Aaaa kau sangat romantis sayang, aku jadi terharu. Tapi apa kau tak kesal pada ku.?"


"Tidak sayang!"


"Kalau di dalam hati mu bagaimana? Apa kau tidak kesal"


Sebenarnya aku sangat kesal sayang. Hanya saja tak mungkin aku mengatakannya bisa-bisa kau mengamuk nanti. Batin Nathan.


"Tidak sayang!!"


"Aaa kau sangat sabar. Aku mencintaimu sayang"


"Aku juga mencintaimu." Nathan menciumi kepal Zania sambil memegang perut Zania yang mulai membuncit.


*****


Beberapa bulan telah di lalui dengan suka dan duka. Begitu juga dengan perut Zania yang sudah semakin membesar.


Hari ini adalah hari yang menegangkan. Zania hari ini akan melahirkan membuat semua orang sibuk dan panik.


Keringat Nathan tak berhenti mengalir. Ia sangat panik, apalagi ia tak di izinkan oleh istrinya untuk menemaninya saat persalinan.


Ronald memegangi pundak Nathan mencoba untuk menenangkannya, ia juga pernah merasakan hal itu sebelumnya.


"Nak, tenanglah istrimu akan baik baik saja begitu juga dengan anak mu" Ucap Ronald mencoba menenangkan putra nya.


"Aku berharap seperti itu ayah"


Beberapa menit kemudian suara tangisan bayi terdengar membuat Nathan tak sabar untuk masuk dan melihat keadaan istri dan anaknya.


"Silahkan yang mulia"


Ketika ia sudah di persilahkan. Tanpa ba-bi-bu ia langsung masuk dan mendapati istrinya yang sedang berbaring lemah.


"Nia!!" Panggil Nathan khawatir.


"Tenanglah Nathan biarkan istrimu istirahat sebentar!" Ucap Luisa yang ada di samping Zania.


"Yang mulia, selamat bayi anda laki-laki" Ucap wanita yang membantu persalinan istrinya itu.


Nathan mengendong anaknya itu. Anak laki-laki yang sangat tampan sepertinya.


"Dia sangat tampan nak. Selamat kau sudah menjadi seorang ayah. Jaga dan rawat mereka dengan penuh cinta" Ucap Ronald lembut sembari tersenyum.


"Wah, selamat kakak! Bolehkah aku menggendong nya?" Ucap Lucy.


"Tentu!"


Lucy menggendong bayi laki-laki itu dengan pelan. Ia sudah tak sabar juga akan menjadi ibu.


"Siapa namanya kakak?"


"Hmmm aku belum memikirkannya!"


"Bagaimana kalau ayah memberikan cucu ayah ini nama?"


"Baiklah, aku setuju!"


"Bagaimana dengan Alexander Steven Gerrard"

__ADS_1


"Hmmm tidak buruk. Baiklah"


"Selamat yah nak" Ucap Luisa.


"Terimakasih ibu, ayah"


*****


3 Bulan kemudian.


Huaaaa huaaaa.


"Sayang mengapa kau menangis?" Ucap Zania menggendong anaknya itu.


"Kau mau minum yah, mau susu?" Ucap Zania mulai menyusui anaknya.


"Ada apa sayang?" Tanya Nathan yang baru saja masuk ke dalam kamar mereka.


"Tidak ada "


Nathan melihat anaknya sedang menyusui dan entah mengapa ia sedikit kesal.


"Sayang aku juga mau!" Ucap Nathan bergelut manja.


"Mau apa?"


"Mau itu" Menunjuk kearah anaknya yang sedang menyusui.


"Apa sih?"


"Mau syusyu!" ucap Nathan manja.


"Hahaha tak boleh. Alex sedang menyusui"


"Mengapa kau lebih menyayangi nya hah? Aku juga butuh perhatian!" Ucap Nathan cemberut membuat Zania terkekeh geli.


"Apa kau cemburu dengan anak mu sendiri"Ucap Zania.


"Tapikan dia itu laki-laki, kalau dia mau minta saja nanti dengan istrinya!"


"Apa? Dari mana pemikiran itu kau dapat sayang. Ini anak kita mengapa kau begitu cemburuan. Lagi pula ia masih kecil dan kau juga pernah seperti ini pada ibu." Ucap Zania jengkel. Suaminya ini ada ada saja.


"Tapi setiap waktu ia selalu menempel padamu sedangkan aku. Kau mengabaikan ku!" Ucap Nathan semakin cemberut.


"Hahaha ini hanya sebentar kok sayang, nanti juga kalau Alex sudah besar ia tak akan manja lagi Kau yang akan menjadi bayi ku nanti hehehe"


****


Tahun ke tahun telah terlewati. Kini Alex sudah berumur 5 tahun.


Seorang anak laki-laki yang tampan dan mempesona meski ia baru berumur 5 tahun.


"Kakak!!" Panggil 2 gadis kecil yang berlari mendekatinya.


"Ada apa?" Tanya Alex tersenyum.


"Kakak ayo kita makan" Ucap salah satu gadis kecil itu yang berusia 3 tahun bernama Cassia anak dari Lucy dan Vian


"Iya kakak ayooo!!" Ucap gadis kecil bernama Olivia yang berumur 2 tahun. Anak kedua dari Zania dan nathan


Olivia menarik tangan Alex begitu juga dengan Cassia.


Sesampainya mereka di ruang makan. Mereka melihat begitu banyaknya makanan dan membuat mata mereka bertiga berbinar.


"Hai cucu-cucu ku ayo kita makan!" Ajak Ronald mengendong satu persatu bocil itu agar bisa duduk di kursi masing-masing.


"Kakek boleh kah kami memakan semua ini?" Tanya Olivia polos.


"Hahaha asalkan perut mu itu muat, kau boleh memakannya.


"Telimakacih!"


****


Semua anggota keluarga sudah berkumpul di meja makan dan bersiap untuk makan.


Alex, Cassia dan Olivia memakan makannya dengan lahap tanpa menyadari ada sesuatu yang ada di dalam makanan itu.


Semuanya makan dalam hening.


Setelah selesai makan mereka berjejak keruangan keluarga untuk berbincang-bincang. sedangkan Alex, Cassia dan Olivia bermain di ruangan keluarga bersama yang lainnya.


Uhuk uhuk uhuk


Oek


Olivia memuntahkan darah dari mulutnya membuat semua orang menjadi panik.

__ADS_1


"Sayang!!" Teriak Zania memeluk Olivia


Alex juga merasakan sesuatu yang sangat sakit di area kepalanya. Sedangkan Cassia memegangi dadanya yang sesak.


"Panggil tabib sekarang!!!!" Teriak Nathan.


"Ada apa ini?"


Dalam hitungan detik mereka bertiga pingsan dan semakin membuat yang lainnya panik.


Tabib sudah datang dan langsung memeriksa.


"Bagaimana???" Tanya Ronald khawatir.


"Sepertinya mereka telah di racun yang mulia, dan racun itu tak ada obatnya Selain dari si pembuatnya sendiri. "


"Bagaimana bisa hah? Apa gunanya kalian disini?" Teriak Nathan marah.


"Maaf kan kami yang mulia"


"Lalu apa efeknya"


"Efeknya hanya satu yang mulia, hanya saja tempat nya berbeda. Seperti Pangeran Alex yang mendapatkan efek di bagian wajahnya. Itu berarti wajahnya akan menjadi cacat. Sedangkan putri Olivia mendapatkan efek di bagian jantungnya dan itu!!!" Ucap tabib itu ragu.


"Itu tak boleh terjadi" Ucap Zania memeluk anak-anaknya.


"Lalu bagaimana dengan anak ku" Ucap Lucy pelan.


"Putri cassia mendapatkan efek yang sama dengan putri Olivia. Yaitu jantung."


Lucy memeluk anaknya sambil menangis tanpa suara.


Buah hati yang sangat susah ia dapatkan selama ini.


"via!! Olivia!! Bagun!! Nathan mengapa putri kita tak bernafas" Tanya Zania panik.


Tabib langsung memeriksa Olivia.


"Ada apa tabib?" Tanya Zania panik.


"Maaf yang mulia. Putri Olivia telah mening...!"


"Tidak!! Tidak mungkin!!! hiks hiks anakku tak boleh pergi!!!" Teriak Zania histeris.


"Cari sampai dapat obat penawarnya jika tidak kalian akan mati!" Ucap Ronald yang ikut sedih.


Nathan memeluk tubuh kecil Olivia yang sudah tak berdaya. Putri kecil nya yang sangat lucu kini harus meninggalkannya.


"Tidakkkkk!!!!!!!"


*****


15 Tahun kemudian


Beberapa tahun telah berlalu semenjak kematian Olivia.


Zania sudah mulai mengiklhaskan kepergian putrinya itu.


Kini Nathan sudah berumur 20 tahun dan cassia yang berumur 18 tahun.


Efek racun itu masih ada di tubuh mereka karena penawarnya yang belum juga di temukan.


Alex memiliki luka di bagian samping matanya hingga ke pipi kirinya, membuat ia selalu memakai topeng kemana-mana.


Sedangkan Cassia tumbuh menjadi gadis yang penuh dengan lemah lembut. Namun efek racun itu semakin hari semakin kuat hingga membuat Cassia begitu lemah.


Alex begitu menyayangi Cassia karena hanya Cassia lah adik perempuan yang ia punya dan harus ia jaga.


Untuk masalah racun. Para tabib sudah mengetahui racun apa itu. Racun itu terbuat dari bunga mawar hitam yang sangat langkah. Dan pelaku si pembuat racun itu di temukan sudah mati terbakar di duga karena bunuh diri dan tak meninggalkan jejak sedikitpun. Sehingga mereka belum menemukan penawarnya.


"Kakak" Panggil Cassia yamg melihat Alex sedang berlari pedang.


Alex menghentikan latihannya dan menoleh kearah Cassia yang terlihat sangat pucat dan lemah.


"Ada apa?" Tanya Alex lembut sambil berjalan ke arah Cassia.


"Aku juga ingin berlatih ber pedang kak!" Ucap Cassia.


"Hahaha dari pada ber-pedang lebih baik kita ke taman dan jalan-jalan" Ucap Alex.


"Hmm kakak selalu saja begitu" Ucap Cassia cemberut.


"Sudahlah ayo kita pergi" Ucap Alex menarik tangan Cassia.


Aku akan melindungi mu Cassia. Aku tak akan membiarkan kau pergi seperti Olivia yang meninggalkanku. Akan ku cari penawar itu agar kau tetap hidup. Adik ku.


END.

__ADS_1


__ADS_2