
Sayang. Panggil Nathan.
"Iya sayang" Jawab Zania tersadar dari lamunannya.
"Apa kau bahagia?" Tanya Nathan.
"Yah, aku bahagia akhirnya dendam ku terbalaskan" Ucap Zania tersenyum puas.
"Nia" Panggil Hiugo mendekat, Zania yang mendapat panggilan itu memasang muka datarnya kembali.
"Ada apa.?" Tanya Zania langsung.
"Ayah ingin minta maaf pada mu, dan ayah harap kau mau memaafkan ayah." Ucap sendu Hiugo.
"Yah, anggap saja aku sudah memaafkan mu." Ucap Zania acuh.
"Aku sudah mendapatkan hukumanku, dan itu akan kujalani dengan bahagia asal kau mau memaafkan ku. Karena kau sudah memaafkan ku aku jadi tenang. Boleh aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya" Ucap Hiugo tersenyum sendu dengan air mata yang keluar tanpa izin.
Zania yang mendengar itu menjadi tegang.
Dipeluk?
Seorang ayah memeluk putrinya?
Itu memang wajar tapi tidak bagi Zania yang punya trauma masa lalu dengan ayahnya sewaktu kecil.
"Aku tak bisa, maafkan aku." Tolak Zania tegas.
Hiugo yang mendapatkan penolakan hanya tersenyum kecut. Ternyata ia memang sudah gagal menjadi seorang ayah.
Tiba-tiba angin kencang menerpa keheningan mereka. Kabut hitam tiba-tiba muncul membuat orang-orang fokus pada kabut itu.
Duar...
Tiba-tiba muncul sesosok pria dengan jubah hitam, pokoknya serba hitam. Pria itu tersenyum mengejek menatap Zania.
"Hei merindukan ku" Ucap pria itu menyeringai licik menatap tajam Zania.
Zania yang mendengar itu bingung.
Siapa pria ini? Apa dia mantan Zania di waktu dulu?
"Nia siapa dia" Tanya Nathan.
"Aku tak tau" Jawab Zania jujur.
"Hahahaha" Tawa pria itu menggelegar.
"Kalau kau tak mengenalku, akan ku perkenalkan diriku secara langsung" Ucap pria itu
Prok
prok
Pria itu menepuk tangannya dua kali. Tiba-tiba datanglah segerombolan Golem dengan tampang menjijikan.
__ADS_1
"Oh ternyata kau yang mengirim mahluk menjijikan itu" Ucap Nathan geram.
"Hahahaha, yah itu benar dan namaku adalah Robert." Ucap Robert
"Aku akan melenyapkan mu" Ucap Nathan
"Hahaha coba saja kalau bisa" Ucap Robert santai.
"Menyingkirkan mahluk menjijikan sepertimu sangatlah mudah jadi kau telah salah menantang ku" Ucap Nathan horor.
Nathan kini ingin menyerang Robert dan mahluk itu dengan sihirnya. Tapi tiba-tiba ada yang aneh, sihirnya tak bisa keluar seperti ada penghalang yang membatasi sihirnya.
"Hahaha mengapa? Apa kau tak bisa menggunakan sihirmu?" Tanya Robert tertawa mengejek.
Raja Ronald juga mencoba untuk mengeluarkan sihirnya tapi tetap tak bisa begitu juga dengan yang lainnya mereka berusaha tapi hasilnya nihil.
"Percuma! Walau kalian berusaha sampai rambut memutih pun sihir kalian tak akan berfungsi karena kalian telah meminum minuman yang telah aku beri ramuan khusus penghambat sihir. Dan apa kalian ingin tahu bagaimana cara menghilangkannya?"
"Cara menghilangkannya adalah membunuh di antara kami, yaitu kalau bukan aku itu berarti dia (Menunjuk kearah Zania) Sampai di antara kami ada yang mati maka sihir kalian akan terbebaskan." Ucap Robert menyeringai licik.
Zania yang mendengar itu sedikit menghela nafas lega, untung dia tak sempat meminum minuman itu.
"Kau pikir dengan menahan sihir kami, kami tak bisa memusnahkan mu" Ucap Raja Ronald tegas.
"Kalau kalian bisa lakukanlah" Tantang Robert
Nathan mengeluarkan pedangnya begitu juga dengan yang lainnya, mereka yang tak bisa bertarung memilih untuk bersembunyi agar tak mendapatkan masalah.
Para golem-golem itu mulai menyerang Nathan dan para pria lainnya.
Sedangkan Robert tersenyum puas melihat itu, golem-golem itu akan semakin banyak ketika mereka membunuhnya.
Robert mulai memfokuskan tatapannya pada Zania. Ia mengeluarkan sihirnya membuat dinding pembatas yang membatasi mereka berdua dari yang lainnya.
Nathan yang melihat istrinya dalam bahaya menjadi panik.
"Nia keluar dari situ!!" Teriak Nathan sembari menebas golem-golem itu.
Namun sudah terlambat Zania sudah masuk kedalam dinding pembatas itu. Dan para golem-golem itu pun sudah hilang.
Yah golem-golem itu hanyalah sekedar aset untuk membuat mereka lengah agar Robert bisa membuat dinding penghalang.
Kini ada Zania dan juga Robert yang sedang berhadapan. Sedangkan yang lainnya ada di luar dinding pembatas menonton mereka berdua.
Nathan dan yang lainnya berusaha menghancurkan dinding pembatas itu tapi tetap tak bisa kalau bukan menggunakan sihir.
"Hahahaha akhirnya aku mendapatkan mu" Ucap Robert.
"Siapa kau ? Apa aku mengenalmu?" Tanya Zania dengan nada dingin.
"Hahaha yah yah kau pasti tak mengenalku, dan aku tadi sudah memperkenalkan diri jadi kau pasti sekarang sudah mengenalku" Ucap pria itu menyeringai licik.
"Apa mau mu?" Tanya Zania
"KEMATIAN MU!"
__ADS_1
"hais mengapa banyak sekali yang menginginkan kematian ku? ini sungguh sial" batin Zania menggerutu kesal.
"Apa kau sudah siap untuk mati?" Tanya Robert.
Zania menatap Nathan yang sedang khawatir melihatnya, Zania tersenyum sendu melihat orang yang sangat ia cintai, yang membawa warna kehidupan baginya.
Apa ia sudah siap untuk mati? Mengapa harus ia yang membalaskan dendam ini mengapa bukan yang lain saja. Mengapa ia harus di pertemukan dengan Nathan? Hal itu membuat Zania bimbang.
"*jika hari ini adalah hari kematian ku, aku berharap dia akan hidup bahagia dan bisa melupakan ku, aku berharap." Batin Zania. menatap sendu Nathan.
"Nia kumohon jangan mati, tetaplah hidup untukku. Kau tak boleh meninggalkan ku, tak boleh." Batin Nathan menatap sendu Zania. Ia tak bisa berbuat apa-apa sekarang hanya bisa berharap semoga istrinya akan baik-baik saja*.
Robert kini menyerang Zania dengan tombak nya dan di balas Zania dengan pedang es miliknya. Terjadilah adu senjata yang mengakibatkan ruangan di penuhi suara dentingan senjata.
Mereka berdua sama imbang dalam seni beladiri, Robert maupun Zania sama-sama mendapatkan luka mereka masing-masing.
Zania kini mengeluarkan sihir esnya berniat untuk membekukan hati Robert agar Robert mati dengan segera.
Sedangkan Robert mengeluarkan sihir api untuk membalas sihir es Zania. Zania yang melihat kekuatan api milik Robert tersenyum licik.
Zania mulai mengarahkan sihirnya tepat di jantung Robert. Lalu Robert langsung mengeluarkan apinya agar dapat melelehkan sihir es Zania.
ketika kedua kekuatan itu bertemu Zania langsung mengubah sihir esnya menjadi badai, yang membuat sihir api Robert berputar balik menuju Robert dengan kecepatan penuh hingga Robert tak dapat mengelak dan akhirnya terkena sihirnya sendiri.
"Hahaha sepertinya kau lah yang akan mati hari ini" Ucap Zania menyeringai licik.
"Hahahaha benarkah aku akan mati, atau justru kau yang akan mati" Ucap Robert bangkit berdiri menyapu darah yang keluar dari mulutnya.
"Yah kau akan mati dan aku akan jadi malaikat maut mu hari ini" Ucap Zania.
"Atau" Ucap Robert sembari menepuk tangannya.
prok
prok
"Bawa dia kemari" Perintah nya entah pada siapa.
Kemudian muncullah dua orang pria berjubah hitam dengan tampang sangar membawa seorang wanita dengan keadaan tubuh yang mengenaskan.
Zania yang melihat perempuan itu membulatkan matanya.
"KAKAK!!"
***
Yuhu penasaran dengan kelanjutan nya..
simak kelanjutan nya pada bab selanjutnya..
jangan lupa vote dan tinggalkan jejak yah ☺️
Agar author makin semangat untuk update setiap hari nya..
terimakasih
__ADS_1
tbc